Bencana Kemanusiaan berat di Gaza dan absennya Dunia Internasional

Bencana Kemanusiaan berat di Gaza dan absennya Dunia Internasional

Fahmi Salsabila

Dosen Universitas Muhammadiyah Riau & Sekjen The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)

 

Hamas melakukan serangan secara tiba-tiba pada  7 oktober 2023 lalu dengan  ribuan roket dan menerobos  ke perbatasan Israel selatan dan menewaskan 1200 orang  pihak Israel serta menawan ratusan tawanan yang berasal dari Israel,  Israel lantas kemudian melakukan serangan balasan dengan mengerahkan kekuatan militer secara penuh dengan tujuan menghabisi kekuatan militan hamas.

 

Sudah 5 bulan berlalu sampai tulisan ini dibuat, serangan brutal Israel ke Gaza belum menunjukkan tanda tanda akan berhenti sehingga menimbulkan kerusakan parah di jalur gaza yang dihuni lebih dari 2 juta penduduk dan sudah menimbulkan korban tewas 30 ribu orang lebih dan 70 ribu orang terluka, peristiwa ini menimbulkan bencana kemanusiaan hebat yang terjadi di Gaza, dimana wilayah sempit terpadat di dunia ini dihuni oleh 2 juta lebih penduduknya menjadi ladang pembantaian besar-besaran oleh tentara Zionis Israel.

 

Serangan Israel terhadap gaza dengan dalih menarget hamas hanyalah sebagai alasan, alih alih hamas bertekuk lutut dan berhenti melakukan perlawanan justru hamas terus melakukan perlawanan yang cukup berarti namun kemampuan hamas tidaklah sebanding dengan kemampuan yang dimilki Israel yang merupakan salah satu negara dengan militer terkuat di Timur Tengah.

 

Dengan mengerahkan kemampuan militer darat, laut dan udara untuk membombardir Gaza praktis Gaza menjadi tempat pembantaian bagi 2 juta penduduknya,  sebelumnya Israel membombardir Gaza Utara dan meluluhlantakkan segala apa yang ada disana dan kemudian  penduduk Gaza mengungsi ke tengah Gaza, kemudian di tengah penduduk Gaza dipaksa untuk menuju Selatan Gaza di Rafah yang menjadi perbatasan Gaza dengan Mesir dengan terus menyerang membabi buta tanpa mengindahkan hukum internasional dan konvensi Jenewa , dengan konsentrasi pengungsi yang besar di Rafah, Israel tidak berhenti untuk melakukan serangan militer dan serangan ini disebut oleh dunia sebagai kejahatan perang dan disebut sebagai genosida modern abad ini.  Begitu banyak fakta di lapangan, masyarakat sipil tidak berdosa yang sedang mengungsi, baik anak anak, wanita dan orangtua menjadi sasaran tembak tentara Israel, bahkan warga gaza yang sedang mengantri bantuan makanan ditembaki membabi buta tanpa belas kasihan sedikitpun, entah apa yang ada dalam benak pemimpin Israel dan militer Israel melihat orang-orang yang sedang kelaparan dan butuh pertolongan  malah ditembaki dan dianggap mengancam militer Israel.

 

Apa yang terjadi di Gaza selama 5 bulan ini membuat kita sebagai manusia yang cinta akan kedamaian terhenyak melihat kebrutalan Israel dalam melakukan pembunuhan dan pembantaian secara keji, apalah lagi kita sebagai warga biasa, negara-negara yang memiliki kemampuan militer mumpuni dan ekonomi kuatpun hampir tidak ada yang bisa menghentikan kebrutalan yang dilakukan oleh Israel terhadap Gaza sampai detik ini, bahkan perserikatan bangsa bangsa (PBB) yang merupakan organisasi negara-negara terbesar  di dunia tidak mampu sedetikpun menghentikan kekerasan yang terjadi di tanah Palestina, khususnya di Gaza.

 

Negara-negara Timur Tengah pun yang memiliki hubungan historis dengan Palestina dan banyak memiliki kesamaan ras, bangsa bahkan agama sekalipun, sampai hari ini tidak juga kunjung melakukan upaya yang serius dalam menghentikan kekejian Israel, baik itu Arab Saudi, maupun negara negara Teluk lainnya, bahkan Mesir yang berbatasan dengan Palestina di Rafah tidak mau membuka perbatasannya untuk menampung penduduk gaza yang mencari perlindungan dari serangan mematikan Israel.

 

Di lain pihak ketika negara negara Arab yang tidak mau membantu Palestina dengan membujuk zionis Israel untuk menghentikan serangannya, maka berbeda  dengan kelompok Hizbullah di Libanon Selatan dan Houthi di Yaman yang merasa penderitaan Palestina wajib dibantu, sehingga dua kelompok militan ini ikut memerangi Israel dengan caranya masing-masing, Hizbulah mengirim roket dan drone tanpa awak ke perbatasan Utara Israel,  Milisi Houthi dengan membajak kapal kapal laut yang berbendera Israel dengan tujuan membantu perjuangan bangsa Palestina.

 

Sebetulnya upaya-upaya telah dilakukan oleh negara negara anggota PBB seperti Afrika Selatan yang melaporkan dan menyeret Israel ke Mahkamah Internasional atas kejahatan perang Israel yang melakukan kejahatan genozida di jalur gaza dengan keputusan Mahkamah Internasional bahwa Israel harus mengambil langkah untuk mencegah aksi yang dilarang konvensi Genosida dan memastikan penyediaan kebutuhan kemanusiaan esensial bagi Gaza segera. Namun hal ini tidaklah cukup dan tidak membuat Israel bergeming dalam melakukan serangannya terhadap warga Gaza.

 

Upaya lain dilakukan oleh DK PBB dengan merumuskan resolusi untuk mengecam dan menghentikan agresi Israel, namun Amerika Serikat yang dikenal sebagai pelindung Israel selalu saja memveto resolusi untuk menekan Israel supaya menghentikan serangannya, DK PBB yang memiliki 5 anggota tetap yang memiliki hak veto dan memiliki kepentingan masing-masing, seperti Rusia yang menunjukkan komitmen dan dukungan bantuan kemanusiaan terhadap Palestina belumlah cukup karena yang dibutuhkan masyarakat Gaza adalah penghentian serangan Israel sesegera mungkin dan juga faktor lain adalah Rusia masih dalam konflik militer dengan Ukraina.

 

Akhirnya dunia melihat tingkah pongah Israel yang digdaya terhadap daerah pendudukan Palestina khususnya di Gaza selalu mendapat restu dan dukungan penuh dari negara yang menjadi pelindungnya selama ini yaitu Barat dan AS sejak berdirinya Israel tahun 1948, dunia melihat Amerika yang melabeli dirinya sebagai bapak Demokrasi dunia hanyalah isapan jempol belaka karena memainkan standar ganda dalam melihat kebrutalan Israel di jalur Gaza.

 

Akankah gencatan senjata segera terwujud dan petinggi militer Israel diseret ke Mahkamah Internasional atas tuduhan kejahatan perang dan genosida dengan melihat kondisi yang ada? Kita masih menanti keajaiban itu terjadi.***

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*