Tokoh yang Hadiri HUT Kemerdekaan Israel Kerdil

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Predikat negatif langsung melekat pada beberapa tokoh yang kedapatan menghadiri peringatan kemerdekaan Israel di Singapura beberapa waktu lalu. Bagi, Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Bachtiar Nasir More »

1.550 Warga Palestina Lakukan Mogok Makan

RAMALLAH - Sekira 1.550 warga Palestina yang ditahan di penjara Israel, saat ini melakukan aksi mogok makan. Dua di antara mereka bahkan sudah melakukan aksi tersebut selama 64 hari. “100 tahanan lain More »

Tahrir rally calls for end to military rule

Thousands gather in Cairo calling for quick exit by military rulers and that ex-Mubarak officials be barred from poll.   Thousands of people have taken to Cairo’s Tahrir Square to protest against the More »

Obama-Merkel sepakat perlunya tindakan PBB terhadap Suriah

Washington (ANTARA News) – Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Kanselir Jerman Angela Merkel dalam pembicaraan telepon Rabu sepakat perlunya “resolusi lebih tegas” Dewan Keamanan PBB terhadap Suriah, kata Gedung Putih. Pembicaraan More »

Indonesia kutuk serangan Israel ke Gaza Indonesia kutuk serangan Israel ke Gaza

Jakarta (ANTARA News) – Indonesia mengutuk serangan udara Israel yang telah menyebabkan puluhan korban jiwa di jalur Gaza. “Indonesia secara keras kutuk serangan udara Israel tersebut,” kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa More »

Syria counts vote of controversial referendum

Vote counting after Syria’s referendum on a new constitution is under way with the results expected on Monday, but Western nations and some of the opposition, which boycotted the exercise, have labelled the vote a sham.

More than 14 million people over the age of 18 were eligible to vote at 13,835 polling stations on Sunday in a ballot that could theoretically end five decades of one-party rule.

But with many parts of the country reeling from weeks of military assault, and army defectors engaged in a guerrilla campaign against loyalist troops, it was unclear how the ballot could prove to be convincing.

 

Western nations, including Canada and Germany, said the referendum was a farce.

“This is a dubious ploy by the [Bashar al] Assad regime to delay the inevitable while continuing its slaughter of Syrian civilians. Assad’s ‘referendum’ is a farce. It is also too little, too late,” John Baird, the Canadian foreign affairs minister, said in a statement, referring to the president.

“Assad must go. A new day must dawn for the Syrian people,” Baird added.

Guido Westerwelle, the German foreign minister, also called Sunday’s vote “a farce”.

Hillary Clinton, the US secretary of state who called the vote a “cynical ploy”, urged Syrians who still support the president to abandon him.

She said “the longer you support the regime’s campaign of violence against your brothers and sisters, the more it will stain your honour. If you refuse, however, to prop up the regime or take part in attacks … your countrymen and women will hail you as heroes.”

Al Jazeera’s Nisreen El-Shamayleh, reporting from neighbouring Jordan due to restrictions on foreign media, said she had spoken to Syrian activists who said the shelling of Homs had continued and that they were not interested in the referendum outcome.

‘Meaningless’ vote

The Syrian president had unveiled the proposed new national charter earlier this month in his latest reform pledge since protests erupted last March.

The resulting violence has left more than 7,600 people dead, monitors say. Syria blames the violence on “armed terrorist gangs”.

Assad has promised to hold parliamentary elections within 90 days if voters approve the new constitution. However, the decision to hold the referendum has failed to ease global pressure on his government.

Louay Safi, a leading member of the Syrian National Council, an opposition group, said the new constitution would be “meaningless” in bringing about change because it was being created by a government that continued to violate its own laws in its campaign to crush the uprising.

“The major problem is that the government is violating the current constitution,” Safi told Al Jazeera. “What we fear is if the regime stays intact, the new constitution will be meaningless.

“So the real step to have a new constitution is to have a new or transitional government.”

In Damascus, the Syrian capital, and its suburbs, opposition activists voiced similar scepticism over the vote.

“This was a constitution made to Bashar’s tastes and meanwhile we are getting shelled and killed,” a protester said.

“More than 40 people were killed today and you want us to vote in a referendum? … No one is going to vote.”

However, Adel Safar, the Syrian prime minister, said on Sunday that the opposition’s call for a boycott indicated a lack of interest in dialogue.

“If there was a genuine desire for reform, there would have been movement from all groups, especially the opposition, to
start dialogue immediately with the government to achieve the reforms and implement them on the ground,” he said.

Raging violence

The referendum took place as government security forces shelled residential areas in Bab Amr neighbourhood in the central city of Homs for the 26th day in a row, reportedly killing at least nine people, according to the Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), a UK-based opposition group.

The group said that rebel soldiers had also killed at least four government troops in the city.

The SOHR said that eight civilians and 10 members of the government’s security forces were killed elsewhere in the country, bringing the total death toll for Sunday to 31.

Intense violence was reported in the province of Deraa, where the uprising first began last March.

One-party rule

The charter, framed by a committee of 29 people appointed by Assad, would drop the highly controversial Article 8 in the existing charter, which makes the Baath party “the head of state and society”.

That would effectively end the monopoly on power the Baathists have enjoyed since they seized power in a 1963 coup that brought Assad’s late father, Hafez, to power.

Instead, the new political system would be based on “pluralism,” although it would ban the formation of parties on religious lines.

Under the new charter, the president would maintain his grip on broad powers, as he would still name the prime minister and government and, in some cases, could veto legislation.

Article 88 states that the president can be elected for two seven-year terms, but Article 155 says these conditions only take effect after the next election for a head of state, set for 2014.

This means that Assad could theoretically stay at the helm for another 16 years.

This is Syria’s third referendum since Assad inherited power from his late father. The first installed him as president in
2000 with an official 97.2 per cent in favour. The second renewed his term seven years later with 97.6 per cent in favour.

source: aljazeera

Israel Sulit Lakukan Serangan Udara ke Iran

NEW YORK, KOMPAS.com — Israel akan sangat sulit untuk melakukan sebuah serangan udara terhadap beberapa instalasi nuklir Iran, kata sejumlah pejabat pertahanan AS dan pengamat militer, seperti dilaporkan harian New York Times, Selasa (21/2/2012).

Pasalnya, begitu Israel memutuskan untuk menyerang Iran, para pilotnya harus terbang menempuh jarak lebih dari 1.600 kilometer, menyeberangi wilayah udara sejumlah negara yang tidak bersahabat, mengisi bahan bakar di udara, menghadapi pertahanan udara Iran, menyerang sejumlah tempat secara bersamaan, dan menggunakan sedikitnya 100 pesawat.

Sejumlah pejabat pertahanan AS dan pengamat militer yang dekat dengan Pentagon mengatakan, serangan Israel yang bertujuan untuk menghancurkan program nuklir Iran akan menjadi sebuah operasi besar dan sangat kompleks. Mereka menggambarkan, serangan itu akan berbeda jauh dari serangan Israel terhadap sebuah reaktor nuklir Suriah tahun 2007 dan reaktor Osirak Irak tahun 1981.

New York Times mengutip pernyataan Letnan Jenderal David Deptula, yang tahun lalu pensiun sebagai pejabat senior intelijen Angkatan Udara AS dan dulu merencanakan serangan udara AS tahun 2001 di Afganistan dan Perang Teluk 1991. Deptula menegaskan, sebuah serangan udara Israel terhadap Iran tidak akan mudah dilakukan.

Spekulasi bahwa Israel mungkin akan menyerang Iran telah berkembang dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan ketegangan antara kedua negara yang meningkat. Iran menuding Israel atas serangkaian pembunuhan terhadap sejumlah ilmuwan nuklirnya. Sebaliknya, Israel menuduh Iran berada di balik serangkaian ledakan bom pada pekan lalu yang tampaknya menyasar para diplomatnya di Georgia, India, dan Thailand.

Dalam suasana yang makin mengkhawatirkan itu, penasihat keamanan nasional AS, Thomas Donilon, bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di Yerusalem, hari Minggu. Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Martin Dempsey, melalui CNN sebelumnya memperingatkan bahwa serangan Israel terhadap Iran sekarang ini akan menimbulkan “destabilisasi”. Menteri Luar Negeri Inggris William Hague, juga mengatakan kepada BBC bahwa menyerang Iran bukan “hal yang bijaksana” bagi Israel “saat ini”.

Sementara itu, seorang juru bicara Israel di Washington mengatakan, negara Yahudi itu terus mendorong sanksi lebih keras terhadap Iran. Ia menegaskan, Israel, seperti halnya Amerika Serikat, “tetap menempatkan semua pilihan di atas meja”.

Prihal kemungkinan rencana serangan Israel telah menjadi sumber perdebatan di Washington, kata New York Times. Sejumlah pengamat mempertanyakan apakah Israel punya kemampuan militer jika hal itu dilakukan. Salah satu ketakutan adalah bahwa AS akan terjerumus untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Michael Hayden, yang menjadi direktur CIA tahun 2006 hingga 2009, bulan lalu mengatakan, serangan udara untuk merusak secara serius program nuklir Iran “berada di luar kapasitas” Israel.

Karena Israel ingin menyerang empat lokasi nuklir utama Iran, yaitu fasilitas pengayaan uranium di Natanz dan Fordo, reaktor air di Arak dan pembangkit yellowcake-conversion di Isfahan, maka menurut para analis militer, masalah pertama adalah bagaimana menuju ke sana. Ada tiga rute potensial: rute utara via Turki, rute selatan melalui Arab Saudi atau  rute tengah melewati Yordania dan Irak.

Rute via Irak akan menjadi yang paling langsung dan paling mungkin, kata para pengamat pertahanan, karena Irak tidak memiliki pertahanan udara dan AS, setelah menarik diri pada Desember, tidak lagi memiliki kewajiban untuk membela langit Irak. Dengan asumsi Yordania akan memberi toleransi terhadap penerbangan lintas perbatasan oleh Israel, masalah berikutnya adalah jarak. Israel memiliki jet tempur F-15I dan F-16i rakitan AS yang dapat membawa bom ke sasaran. Namun jangkauan jet-jet itu terbatas, tidak sanggup mencapai jarak 3.200 kilometer pergi-pulang.

Rintangan beart lainnya adalah persediaan bom Israel yang mampu menembus fasilitas di Natanz dan Fordo, yang dibangun di dalam sebuah gunung. Dengan asumsi tidak menggunakan perangkat nuklir, Israel punya bom penghancur bunker GBU-28 seberat 2.200-kilogram buatan AS yang dapat merusak target tersebut, meskipun tidak jelas seberapa jauh bom bisa menjangkau sasaran yang berada di dalam perut gunung.

“Hanya ada satu negara adidaya di dunia yang dapat melakukan ini,” kata Jenderal Deptula.

Suriah cela agresi Israel ke masjid al-Aqsha

Damaskus (ANTARA News) – Kementerian Luar Negeri Suriah mencela dengan sekeras-kerasnya tindakan tentara Israel memasuki Masjid Al-Aqsha pada Jumat.

Di dalam pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita resmi Suriah, SANA, kementerian itu menyatakan tindakan penguasa Yahudi tersebut dilakukan sebagai bagian dari kebijakan barbar dan terang-terangan Israel yang ditujukan kepada tempat suci umat Muslim dan Kristiani.

Kementerian itu menyeru masyarakat internasional untuk melaksanakan tanggung jawab memaksa Israel agar menghentikan tindakannya. Tujuannya ialah untuk melindungi rakyat Palestina, harta mereka dan hak mereka untuk membangun negara merdeka dengan Jerusalem sebagai ibukotanya.

“Suriah kembali menyampaikan dukungannya kepada rakyat Palestina dalam perjuangan mereka saat ini dengan tujuan memperoleh kembali hak sah mereka,” demikian isi pernyataan tersebut sebagaimana dikutip Xinhua –yang dipantau ANTARA News, Sabtu pagi.

Pada Jumat, tentara Israel memasuki Masjid Al-Aqsha dan melarang orang yang beribadah meninggalkan tempat suci itu. Masjid tersebut, yang berada di dalam kompleks yang dikelilingi tembok, adalah tempat suci ketiga umat Muslim. Di dalam kompleks itu juga terdapat alun-alun Tembok Barat (Tembok Ratapan) –tempat paling suci agama Yahudi.

Israel menduduki Jerusalem pada 1967. Palestina mengingini bagian timur kota tersebut, yang meliputi Kota Tua.

Partai Likud, yang berkuasa, dan beberapa kelompok pemukim ekstrem Yahudi baru-baru ini menyerukan penyerbuan terhadap Masjid Al-Aqsha untuk membangun kuil mereka di reruntuhan masjid itu.

Pada Ahad (19/2), Jordania mengutuk tindakan pemukim Yahudi menerobos ke dalam Masjid Al-Aqsha, dan menyeru bangsa Arab serta umat Muslim untuk turun tangan menghentikan pelanggaran semacam itu, demikian laporan kantor berita Jordania, Petra.

Menteri Urusan Waqaf dan Islam Jordania, Abdul Salam Abbadi memperingatkan mengenai konsekuensi karena penguasa mengizinkan pemukim Yahudi yang bersenjata berulang-kali menerobos ke dalam Masjid Al-Aqsha.

Pada Ahad, beberapa orang Palestina yang sedang shalat cedera dan tiga orang lagi ditangkap selama bentrokan yang meletus antara orang Palestina dan penjaga perbatasan serta polisi Yahudi di kompleks Al-Haram Asy-Syarif di Kota Tua Jerusalem. Sebelumnya pemukim Yahudi berusaha menyerbu kompleks tempat suci umat Muslim tersebut, kata kantor berita Palestina, WAFA.

Videos, Slideshows and Podcasts by Cincopa Wordpress Plugin