Menyongsong Runtuhnya Sektarianisme Lebanon

Wirawan Sukarwo, S.Hum., M.Si

wirawansukarwo@gmail.com

FILE PHOTO: A demonstrator carries a national flag along a blocked road, during a protest against the fall in Lebanese pound currency and mounting economic hardships, near the Central Bank building, in Beirut, Lebanon March 16, 2021. REUTERS/Mohamed Azakir/File Photo

Gelombang Arab Spring akhirnya menerpa Lebanon meski tertinggal hampir satu dekade dibanding negara-negara Timur Tengah lainnya.Sejak tragedi ledakan dahsyat yang meluluhlantakkan Beirut Agustus tahun lalu, sampai hari ini Lebanon masih terjerembap dalam krisis politik yang belum ada ujungnya. Perdana Menteri Saad Hariri gagal membangun koalisi pemerintahan bersama kubu Presiden Michel Aoun. Pekan lalu, pengunduran diri Hariri melengkapi secara sempurna krisis politik dan ekonomi yang sudah sampai pada titik mengkhawatirkan. Nilai tukar Lira merosot sangat tajam dan menciptakan inflasi hebat di banyak sektor. Rakyat Lebanon sekarat dengan kacaunya pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. Sementara itu, praktis sudah sembilan bulan lamanya di Lebanon tidak ada pemerintahan yang secara resmi berjalan.

            Di pusat Kota Beirut, demonstrasi semakin sering digelar. Didominasi oleh generasi muda yang sudah muak dengan konstelasi elitepolitik yang koruptif dan penuh drama. Pada 17 Oktober 2020, mereka menggalang demonstrasi pascaledakan amomiun nitrat 4 Agustus,seraya menyalahkan pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Mereka bahkan sampai pada keinginan untuk lebih memilih kembali dijajah Prancis ketimbang harus merdeka dengan para pemimpin yang tersedia hari ini. Mereka menginginkan Lebanon yang baru, yang tidak lagi didasari pada gimmickpower sharing. Mereka berharap momen ini adalah episode terakhir politik sektarianisme di Lebanon.

Power Sharing dan Masa Keemasan

            Lebanon, seperti yang banyak diketahui, adalah negara Timur Tengah yang mengadopsi sistem power sharing dalam membentuk pemerintahan. Ada konsensus yang disepakati sejak Prancis resmi meninggalkan negara ini pada 1943. Konsensus itu membagi kekuasaan bahwa Perdana Menteri adalah jatah kelompok Muslim Sunni. Selanjutnya, posisi presiden adalah milik Kristen Maronit, sedangkan juru bicara parlemen diberikan pada orang Muslim Syiah. Komposisikursi di parlemen adalah6:5 untuk Kristen dan Islam. Meski tampak janggal dan rentan, pembagian kekuasaan ini berhasil dipertahankan setidaknya sampai sebelum terjadinya perang saudara. Pembagian itu juga yang menjadi salah satu di antara sekian banyak faktor pemicu perang saudara yang berlangsung selama lima belas tahun sejak 1975 sampai 1990. Disusul perjanjian baru yang dinamakan Taif Agreement 1990, pemerintah Lebanon akhirnya membuat komposisi kursi di parlemen menjadi setara antara Kristen dan Islam. Taif Agreement akhirnyamenjadi salah satu jalan penyelesaian perang saudara.

Namun, perang saudara lima belas tahun itu kadung terekam sebagai sejarah yang traumatik bagi warga sipil di Beirut. Jangan bayangkan perang saudara konvensional yang biasaterjadi antara satu daerah yang dikuasai kelompok tertentu dengan daerah lain yang dikuasai kelompok lainnya. Perang saudara di Lebanon terjadi di antara distrik dan blok-blok apartemen perkotaan. Eskalasinya lebih mirip tawuran antarkampung di Jakarta,tetapi dengan artileri dan deploy pasukan bersenjata. Saat itu,masyarakat Lebanon benar-benar terbagi atas kelompok sektarianisme politik identitas yang menjadi default struktur sosial di negara mereka. Diperkirakan ada sekitar dua ratus ribu orang yang meninggal karena perang tersebut dan tujuh belas ribu orang lainnya hilang.[i]

Sekalipun begitu traumatik, generasi muda yang menginisiasi perubahan pada demonstrasi hari ini adalah mereka yang tidak hidup pada masa-masa perang saudara. Sebagian besar dari mereka terlahir sebagai Gen Z yang sudah melek pada perubahan sosial yang menjadi tren global saat ini, yaitu hak asasi manusia, keadilan sosial, dan kesetaraan. Meski begitu, mereka membaca dengan cermat sejarah negara mereka sendiri dan terkesima pada kemapanan yang pernah dicapai pada era keemasan pada 1955—1970an sebelum perang saudara.

Sedikit kilas balik ke masa keemasan, Lebanon saat itu sering disebut sebagai tiruan Swiss. Beirut sendiri sering dinamai sebagai Paris-nya Timur Tengah. Majalah Lifedari Amerika Serikat pada 1966 pernah mendeskripsikan Beirut sebagai “a kind of Las Vegas-Riviera-St.Moritz flavored with spices of Arab”.[ii] Hal tersebut tidaklah berlebihan karena Beirut menjadi pelabuhan yang begitu populer di kalangan para pebisnis Eropa-Amerika yang memiliki investasi di Timur Tengah. Beirut juga menjadi tempat rekreasi yang akomodatif pada kebutuhan Barat akan alkohol, hiburan malam, dan pesta-pesta fancy semalam suntuk. Citra Lebanon dan Beirut pada masa itu mendatangkan terus para pebisnis Eropa-Amerika yang menganggap Lebanon semacam safe haven bagi bisnis mereka di Timur Tengah.

Kemajuan dan pertumbuhan ekonomi di Lebanon saat itu juga merupakan hasil dari banyak situasi yang terjadi di luar Lebanon sendiri. Lebanon mendapatkan limpahan modal dan uang simpanan para politisi dan pengusaha  Arabyang kabur dari negara mereka masing-masing ketika terjadi social unrest. Revolusi yang terjadi pada 1952 di Mesir misalnya, membuat banyak pengusaha dan pejabat yang berafilisasi dengan rezim Raja Farouk harus menyelamatkan aset mereka ke luar negeri. Pilihan jatuh ke Lebanon yang saat itu sudah menjadi primadona bagi para pencari suaka aset.

Konflik Arab-Israel 1948 juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi Lebanon karena memaksa Saudi untuk memindahkan terminal jalur pipa minyak mereka dari Haifa di Palestina ke Sidon di Lebanon Selatan. Serupa dengan Saudi, jalur pipa minyak Irak juga dipindahkan dari Haifa ke Tripoli di Lebanon Utara. Limpahan dua jalur pipa minyak utama itu membuat Lebanon menjadi wilayah yang sangat penting dalam menjembatani hubungan ekonomi Timur dan Barat. Deklarasi berdirinya Israel pada 1948 itu juga membuat banyak warga Palestina yang umumnya adalah kelas menengah terdidik terpaksa mengungsi ke Lebanon karena okupasi Zionis di tanah mereka. Kelas menengah terdidik ini selanjutnya menjadi kelompok teknokrat yang mendorong pertumbuhan ekonomi di Lebanon.[iii]

Seperti dijabarkan sebelumnya, masa keemasan yang pernah dialami Lebanon itu bukanlah sesuatu yang genuine didapatkan dari harmonisasi kohesi sosial. Meski demikian, warna kebebasan dan corak sekularisme zaman itu menjadi nilai romantik tersendiri yang hari ini coba diperjuangkan kembali. Pada masa itulah, Lebanon mencatatkan diri sebagai satu-satunya negara Timur Tengah yang memelihara kebebasan pers. Pada masa itu juga, tumbuh kluster-kluster intelektual progresif di kalangan bangsa Arab yang kemudian mewarnai dunia sastra dan literatur. Lebanon juga mencatatkan diri sebagai negara Arab dengan tingkat literasi paling tinggi se-Timur Tengah.[iv] Hal itu membuat banyak kelas menengah terdidik Lebanon menyebar ke banyak negara-negara Arab lain untuk  menjadi teknokrat dan pekerja profesional yang berujung pada pemasukan signifikan bagi negara.

 Cita-Cita Sekular

Spektrum kehidupan ala Barat dengan cita rasa Timur Tengah memang memberi warna urbanculture yang khas di Lebanon. Namun, warna Barat yang lebih didambakan oleh generasi muda Lebanon saat ini adalahprinsip-prinsip sekular pada negara mereka. Bukan sekular ala sosialis Arab era Nasserpada 50an, melainkan sekular murni seperti yang diadopsi oleh Prancis.Mereka yakin, ideologi negara yang netral agama akan menghentikan tradisi politik sektarianisme yang membelenggu Lebanon selama berpuluh-puluh tahun. Secara konkret, kelompok intelektual muda di American University of Lebanon (AUB) mendirikan Secular Club sebagai wadah untuk mempertajam ide ini. Gerakan yang dimulai pada 2008 ini terus bergulir dan mendapatkan popularitas di antara kelompok intelektual muda yang tumbuh di era pasca-perang saudara. Pelan,tetapi pasti mereka mulai memenangi pemilihan dewan mahasiswa di kampus AUB yang notabene kampus paling tua di Lebanon itu. Dengan ide-ide sekular dan anti-sektarianisme, mereka mengalahkan para calon dari perwakilan partai politik seperti Hizbullah, Free Patriotic Movement (FMP), dan Future Movement.[v]

Tidak hanya Secular Club di AUB, kelompok mahasiswa independen lain juga berhasil memenangi pemilihan dewan mahasiswa di kampus-kampus mereka.  Sebagai contoh adalah dominasi kursi yang didapatkan para calon independen di Lebanese American University (LAU) dan Rafik Hariri University. Di Kampus LAU, para calon independen berhasil menguasai mayoritas kursi dewan mahasiswa mengalahkan perwakilan dari Militer Lebanon dan Partai Amal. Sementara di RHU, mereka mengalahkan perwakilan dari Partai Future Movement.[vi]

Sebagian anak muda dengan gagasan ini kemudian mendirikan organisasi politik non-profit bernama Mada di tahun 2000. Sebagai organisasi non-pemerintah, Mada bahkan secara gamblang menyebut diri mereka sebagai organisasi non-partisan untuk memberi penekanan mengenai terlepasnya mereka dari sektarianisme di Lebanon. Hal ini terdapat dalam statuta resmi mereka yang bisa diakses di website. Tidak hanya itu, Mada juga menegaskan pada kolom profil resmi mereka bahwa mereka bebas dari kepentingan partai politik dan sektor privat manapun.[vii]Organisasi yang berdiri sejak tahun 2000 ini konsisten memperjuangkan isu demokratisasi dan keadilan sosial bagi masyarakat Lebanon seraya tidak ambil bagian dalam persaingan antarkelompok di sana.

Semangat organisasi yang dibawa oleh Mada ini menandai iklim perubahan di Lebanon. Semangat itu menjalar di generasi muda berbasis perkotaan yang dekat dengan isu-isu politik serta perubahan sosial. Pada momen kritis di Lebanon seperti hari ini, Mada menggalang banyak aliansi dengan komunitas lainnya untuk menjadi inisiator perubahan sosial di Lebanon. Demonstrasi besar yang terjadi Oktober tahun lalu jelas diramaikan oleh kelompok lintas golongan dan komunitas. Secara terbuka, mereka melepaskan bersama-sama perbedaan identitas di antara mereka untuk mendorong perubahan yang sama, yaitu keadilan sosial. Para pemuda ini melihat dan mempelajari pola aksi masa yang terjadi di Hong Kong, Thailand, bahkan Amerika Serikat yang juga dipelopori oleh kelas menengah muda perkotaan seperti halnya mereka. Mereka menggunakan banyak platform media sosial untuk menarik dukungan secara luas bahkan sampai ke mancanegara.

Sekalipun terus bergulir dan makin populer, banyak pakar yang tetap meragukan gerakan antisektarianisme ini akan menemui titik keberhasilan. Hal itu tidak sepenuhnya salah karena krisis sektarianisme di Lebanon memang teramat pelik dan melibatkan banyak variabel. Dalam konteks geopolitik saja, terbukti Iran dan Arab Saudi menjalankan proxy war pada intensitas konflik horizontal di Lebanon. Belum lagi faktor Suriah yang sudah sejak lama menjadikan Lebanon sebagai buffer zone atas kerentanan posisi mereka terhadap Israel.

Ada pulapolemikpro-kontra manuver Hizbullah yang kapasitas tempurnya melebihi militer resmi Lebanon sendiri. Sebagai penutup pesimisme para pakar ini, mari kita cermati fakta ajaib bahwa Lebanon adalah negara kecil yang memiliki delapan belas aliran keagamaan yang seluruhnya diakui secara resmi.Fakta tersebut adalah variabel tetap untuk kasus Lebanon. Kedelepan belas aliran agama itu semua pernah terseret dalam perang saudara lima belas tahun dan banyak di antara mereka yang belum sepenuhnya bisa melupakan permusuhan yang terjadi.

Menyongsong pemilu Lebanon yang akan diselenggarakan pada 2022 mendatang, salah seorang aktivis senior Mada, Karim Safieddine, menyatakan sikap skeptis dan sinis. Menurutnya, pemilu hanya sebuah alat dan tidak akanmenjadi jalan keluar atas krisis yang terjadi. Ia yakin bahwa setiap momentum perubahan itu ditentukan oleh konsolidasi sipil yang progresif seperti halnya aliansi yang ia bangun.[viii] Bagi Karim dan banyak anak muda lain seperti dirinya, perubahan itu hanya bisa datang kalau Lebanon bisa berkomitmen untuk melepaskan diri sepenuhnya dari politik sektarianisme yang selama inidimistifikasi sebagai penjaga stabilitas. Antusiasme para pemuda pada aksi masa belakangan ini adalah momentum yang belum tentu bisa diulang pada tahun-tahun mendatang. Ujung dari perjuangan mereka masih belum bisa diukur secara presisi, tetapi semangat perubahan itu sudah menjadi bola api yang membakar ke sana kemari.


Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*