Home » Article and Analysis » BUDAYA POPULER KONTRA REVOLUSI: KASUS IRAN » 1165 views

BUDAYA POPULER KONTRA REVOLUSI: KASUS IRAN

Suatu pagi pada November 2015, Nikan Khosravi yang masih tertidur pulas dikejutkan dengan teriakan-teriakan yang sangat keras di dalam rumahnya. Sekelompok aparat Garda Revolusi Iran merangsek masuk rumahnya sambil berteriak-teriak memanggil namanya. Sang ibunda yang ketakutan setengah mati, tidak mengerti apa yang terjadi langsung menangis karena memiliki firasat buruk terkait nasib anak laki-lakinya itu. Nikan Khosravi diseret dari dalam kamar tidur, digelandang seperti seorang teroris keluar rumah.
Beberapa bulan sebelumnya, sebuah kelompok musik underground bernama Confess meluncurkan sebuah album dengan lagu-lagu yang memancing amarah kelompok pendukung revolusi. Nikan Khosravi adalah personel utama grup tersebut. Ia adalah penulis lirik, gitaris, sekaligus pemain bass untuk Confess. Dalam album In Pursuit of Dreams milik mereka, sebagai contoh, pada salah satu lagu berjudul “I`m Your God”, terdapat rangkaian lirik yang menyatir keras karakter rezim penguasa Iran yang konservatif dan klerikal. Jika kita mendengarkan lagu tersebut dalam versi Soundcloud, terdapat rekaman suara karakter Jules Winnfield yang diperankan Samuel L. Jackson dalam film Pulp Fiction (1994). Rekaman suara itu diambil dari adegan yang paling terkenal dari film tersebut ketika karakter Jules berkata;
“And I will strike down upon thee (you) with great vengeance and furious anger. And you will know my name is The Lord when I lay my vengeance upon thee (you)”.
Kalimat ini sendiri sebenarnya terdapat dalam kitab Yehezkiel 25:17 dan sudah populer di kalangan umat Kristiani. Sebuah kelompok musik beraliran hip-hop dari Amerika Serikat, Cypress Hill bahkan mengutip ayat tersebut secara lengkap dalam lagu berjudul “Make a Move”. Baik Confess dan Cypress Hill keduanya mengutip ayat ini sebagai kalimat yang digunakan oleh seorang yang sedang sangat marah dan ingin membunuh musuhnya. Orang yang sedang marah itu seperti sedang menjadikan dirinya sebagai Tuhan yang berhak atas jiwa orang lain.
Bukan tanpa maksud seorang Nikan Khosravi mengutip kalimat ini dalam intro lagunya. Ia jelas sedang mencari analogi untuk menggambarkan karakter kelompok konservatif di Iran yang dianggapnya sesuai dengan lirik tersebut. Alih-alih menggunakan dalil dari tradisi keislaman, Confess sengaja mengutip ayat dari Bible untuk menghindari kejaran aparat seperti yang dialami Salman Rushdie dengan novel Satanic Verses. Namun, pada akhirnya, ia tetap harus menghadapi tuduhan blasphemy dan kontrarevolusi dari kelompok konservatif.
“I`m Your God” hanya salah satu dari sekian banyak single yang dimiliki Confess. Lagu-lagu lainnya seperti “You Will Pay Back”, bahkan “Teh-Hell-Ran” juga menjadi rangkaian kemarahan Nikan dan teman-temannya pada konservatisme yang sudah mereka anggap seperti fasisme religius. Karena rekam jejaknya itulah, Nikan Khosravi dihukum selama dua tahun penjara atas tuduhan penistaan terhadap nilai-nilai agama dan juga negara. Sampai tulisan ini dibuat, Nikan sudah berada di Turki untuk meminta perlindungan pada lembaga penanganan pengungsi di bawah payung PBB.
Musik ala Barat, apalagi yang bergenre metal tentu saja merupakan barang haram di Iran. Selama bertahun-tahun sejak Wilayatul Faqih diterapkan secara kaku pasca revolusi 1979, generasi muda Iran harus bermain kucing-kucingan dengan kelompok pengawal revolusi untuk bisa mengaktualisasi minat mereka pada budaya populer. Jangankan Iran, di Amerika Serikat sendiri, yang menjadi poros industri budaya populer, beberapa jenis musik metal dicap sebagai heretic dan melecehkan nilai-nilai kekristenan. Fenomena anti-christ, satanic symbols, dan heretic anthem bertebaran di banyak sekali produk industri musik ini. Namun, kedigdayaan kapitalisme global yang menggerakkan perekonomian mereka berhasil menjinakkan kelompok konservatif agama manapun di negara itu.
Band seperti Confess di Iran adalah model mimikri poskolonial pada budaya negara berkembang. Penjajahan yang menurut Ania Loomba (1998) tidak hanya terjadi secara fisik, melainkan mental. Hal yang kemudian terwujud adalah peniruan produk budaya negara maju oleh negara bekas terjajah atau dunia ketiga di era kapitalisme modern, seperti musik metal.
Namun, mimikri yang terjadi ini justru membuka ruang komunikasi identitas yang intensif antarbudaya di seluruh dunia. Ditambah lagi kondisi teknologi informasi dan komunikasi yang melipat dunia menjadi tidak lagi memiliki jarak. Hasil-hasil mimikri akhirnya menjadi peluang relasi solidaritas yang tidak mengenal batas negara. Dalam bahasa yang sering kita dengar biasanya dikatakan “musik adalah bahasa universal”. Tidak heran bila banyak sekali dukungan dari artis-artis di dunia yang paralel dengan Confess terkait kasus yang menimpa mereka, menggunakan tagar #freeconfess di media sosial. Misalnya, Corey Taylor (vokalis band Slipknot) yang kerap memberikan dukungan moral pada Confess dan penggemarnya.
Sebelumnya, mungkin tidak terlalu banyak yang peduli dengan apa yang terjadi dengan generasi muda Iran saat mereka melakukan rangkaian demonstrasi sejak akhir tahun lalu. Begitu pula jarang sekali yang mengenal reputasi Confess sebagai salah satu band metal di jagat permusikan. Namun, ketika muncul dukungan dari artis-artis dunia terkait kasus yang menimpa Confess barulah banyak yang mulai menaruh perhatian. Banyak juga yang mulai mengkaji kondisi sosio-politik Iran dan melempar kritik keras terhadapnya. Semua hal itu pada gilirannya membuat popularitas Confess meningkat tajam sekaligus mengangkat isu politik Iran ke ruang publik yang jauh lebih luas. Meskipun terkesan gimmick, hal ini merupakan fakta tak terbantah tentang kuatnya pengaruh dunia maya pada perubahan sosial di masyarakat.
Resistensi generasi muda Iran di era internet semakin menjadi-jadi ketika muncul beberapa aplikasi kontrarevolusi di Iran. Salah satu yang paling fenomenal adalah Gershad, sebuah aplikasi smartphone untuk menghindari Gasht-e Ershad (polisi moral) di ruang publik. Aplikasi ini berfungsi sebagaimana layanan penunjuk jalan semacam Waze yang bisa saling memberikan informasi pada para pemakainya terkait keberadaan patroli polisi, kecelakaan, konstruksi jalan, dan sebagainya. Bedanya, Gershad fokus pada informasi lokasi keberadaan para polisi moral. Dengan begitu, para penggunanya tidak khawatir terciduk tatkala ingin mengekspresikan gaya hidup yang bertentangan dengan standar nilai moral negara.
Respons pemerintah Iran tentu saja mudah ditebak. Aplikasi ini segera diblokir pada hari-hari pertama kemunculannya. Meski begitu, generasi muda Iran yang melek teknologi tetap mampu menjalankan aplikasi ini melalui VPN (Virtual Private Network) yang kebal terhadap sensor dan pemblokiran. Meski tidak semudah mengunduh aplikasi pada umumnya, pengguna aplikasi ini tercatat terus bertambah dan semakin banyak di Iran. Sementara pengembangnya sampai hari ini masih anonim dan tidak diketahui. Para pengembang aplikasi ini dianggap memiliki visi untuk mengembalikan hak-hak sipil di Iran. Oleh sebab itu, aplikasi ini memenangi penghargaan The Bobs Tech for Good pada 2016.
Tidak hanya Gershad, aplikasi lain yang berjenis kontrarevolusi dan populer di generasi muda Iran adalah Sandoogh96 yang diluncurkan menjelang pemilihan umum pada 2017 lalu. Sandoogh96 artinya Vote17 karena tahun 2017 dalam kalender bangsa Iran berarti tahun 1396. Aplikasi ini meniru fitur yang terdapat pada Tinder, aplikasi yang populer untuk mencari teman kencan. Bedanya, para pengguna bukan mencari teman kencan, melainkan mencari politisi yang memiliki pandangan serta visi yang sesuai dengan mereka.
Sayangnya, aplikasi ini dikembangkan di luar negeri melalui organisasi media bernama Iran Wire yang berbasis di Inggris. Aplikasi ini juga bagian dari proyek Irancubator yang dijalankan organisasi United 4 Iran (U4I) yang berbasis di Amerika Serikat. Meski aplikasi ini sangat tendensius mengarahkan publik pada para politisi liberal pro-Barat, ia tetap menjadi aplikasi yang populer di kalangan pemuda Iran.

Analisis Resistansi
Maraknya fenomena resistensi generasi muda Iran pada bentuk pemerintahan Wilayatul Faqih bisa dianalisis melalui beberapa sudut pandang. Yang pertama melalui tesis Asef Bayat yang berjudul Pos-Islamisme. Dalam tesisnya itu, Bayat menyebut Iran sebagai negara yang berhasil meletupkan revolusi tetapi tanpa gerakan sosial. Kondisi tersebut, menurut Bayat berkebalikan dengan Mesir yang memiliki gerakan sosial yang progresif, tetapi tidak kunjung terjadi revolusi. Tesis Bayat ini tentu saja ditulis sebelum era Arab Spring ketika Mesir belum mencapai titik kulminasi perjuangan ke arah revolusi pada 2011. Sekalipun secara teknis revolusi bisa dikatakan terjadi di Mesir, toh pada hakikatnya terjadi perebutan kembali kekuasaan melalui kudeta militer yang sampai hari ini masih belum menciptakan perubahan yang hakiki.
Revolusi yang terjadi tanpa dinamika gerakan sosial seperti halnya di Iran melahirkan model pemerintahan yang top-down dan tidak aspiratif. Sekelompok ruling elite yang memiliki akses terhadap kekuasaan terlibat sangat jauh dalam pembakuan standar moral bagi seluruh masyarakat Iran. Singkatnya, corak rezim Wilayatul Faqih cenderung antitesis tehadap seluruh produk budaya populer Barat atau Amerika Serikat. Narasi ini secara terbuka dipropagandakan terus-menerus sejak era Imam Khomeini yang menyebut Amerika sebagai “Setan Besar”. Padahal, sebagian kelompok pendukung revolusi justru lebih tertarik untuk fokus pada reformasi politik internal pasca Rezim Shah daripada terus menyalahkan Amerika Serikat.
Gesekan-gesekan yang terjadi di level politik pada akhirnya berujung pada dualisme persaingan kelompok reformis dan konservatif. Yang menjadi tolak ukur biasanya adalah model kebijakan ekonomi-politik yang lebih terbuka/tertutup terhadap Barat, khususnya Amerika Serikat.
Pos-Islamisme dalam pandangan Bayat dan banyak peneliti lain biasanya mengaitkan nilai-nilai praksis Islam dengan konsep demokrasi. Moderatisme dan penghormatan kelompok-kelompok Islam terhadap nilai-nilai demokrasi universal adalah variabel yang biasa menjadi ukuran dalam kajian pos-Islamisme. Bayat, selanjutnya menjelaskan pos-Islamisme di Iran muncul dari generasi kelas menengah terdidik dan progresif pasca revolusi. Geliat generasi muda perkotaan untuk keluar dari sistem Wilayatul Faqih yang dianggap represif dan otoriter dikategorikan sebagai anasir pos-Islamisme di Iran. Mereka yang senantiasa kritis dan menuntut keran kebebasan lebih terbuka sejak awal mula revolusi adalah cikal bakal kelompok yang hari ini disebut reformis, meski spektrumnya masih sangat luas.
Tidak adanya gerakan sosial yang dibangun dari bawah seperti halnya fenomena Ikhwanul Muslimin di Mesir membuat rezim Mullah pascarevolusi menjadi tampil otoriter dan mengekang. Masa-masa awal pascarevolusi pernah divisualisasikan dengan sangat menarik dalam film berjudul Persepolis (2007) karya Marjane Satrapi.
Film ini adalah adaptasi novel otobiografi dari Marjane Satrapi sendiri yang banyak mengalami kisah tragis pada masa-masa awal revolusi. Film ini juga merupakan model perlawanan via budaya populer terhadap konsep Wilayatul Faqih dan otoritarianisme kelompok konservatif di Iran. Plot yang terdapat dalam film Persepolis mengambarkan dengan jelas keinginan generasi muda Iran untuk keluar dari kekangan moral kelompok konservatif. Mereka ingin seperti pemuda-pemudi lain di luar negaranya yang tumbuh dan berkembang bersama varietas produk budaya populer.
Analisis kedua melalui tesis Homi Bhabha dan Gayatri Spivak tentang karakter masyarakat di era neo-kolonial. Homi Bhabha misalnya, pernah mewacanakan konsep hibriditas budaya dan mimikri pada masyarakat bekas terjajah. Dalam sudut pandang konsep hibriditas budaya, invasi industri budaya di era kapitalisme telah membuat kode-kode kultural bangsa Iran dialihwahanakan oleh para pemudanya. Sebagai contoh, genre musik metal yang seluruh kodenya berasal dari Barat bisa dikontekstualisasikan dengan budaya masyarakat Iran. Terciptalah produk hibrid berupa grup musik metal dengan cita rasa Persia, Confess. Proses hibridisasi ini terjadi di banyak sekali lini budaya populer yang menunjukkan ketundukan pada hegemoni kultural bangsa Barat seperti yang ditulis oleh Bhabha.
Pendekatan berikutnya adalah mimikri yang secara sederhana diartikan peniruan. Berbeda dengan hibriditas, mimikri adalah wujud ketundukan yang jauh lebih nyata dari masyarakat yang inferior terhadap kebudayaan yang dominan. Kita sering menyebut hal ini dengan istilah “kebarat-baratan” untuk memahami wujud mimikri di tengah masyrakat non-Eropa. Frantz Fanon (1952) bahkan menyebut fenomena ini dengan istilah “white mask black skin” pada tesisnya yang sangat terkenal. Mimikri mewujud pada hampir seluruh aspek budaya populer di Iran seperi musik, film, seni urban, dan lain-lain yang memiliki kesamaan gaya dengan produk serupa di Barat.
Seluruh rangkaian perlawanan kontra-revolusi generasi muda Iran kemudian selaras pula dengan tesis Gayatri Spivak mengenai subalternitas. Generasi muda Iran menjadi juru bicara masyarakat subaltern di negara tersebut yang teridentifikasi sebagai kelompok kontra-revolusi. Kelompok marjinal, minor, dan terkekang yang tidak bisa menyuarakan pendapat adalah mereka yang dikategorikan sebagai subaltern menurut Spivak. Kehadiran produk-produk budaya populer di Iran saat ini menjadi wahana untuk menyuarakan pendapat mereka meskipun berseberangan dengan kelompok konservatif yang dominan.
Hal yang menarik adalah tidak tampaknya ambivalensi yang biasanya hadir bersama hibriditas dan mimikri kelompok subaltern masyarakat poskolonial. Dalam teori yang digagas para pakar kajian poskolonial, hibriditas dan mimikri biasanya memunculkan ambivalensi berupa ketundukan sekaligus perlawanan. Masyarakat bekas terjajah biasa melakukan peniruan seraya mengolok-olok dan menjadikan kegiatan tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya dominan si penjajah.
Iran memang tidak mengalami ekspansi kolonial seperti bangsa-bangsa Asia lainnya, tetapi mereka juga berada dalam era kolonialisme baru di bawah kapitalisme global. Pada kasus Iran, hibriditas dan mimikri hanya memunculkan satu aspek saja, yaitu ketundukan. Singkatnya, para pemuda kontra-revolusi di Iran tunduk pada budaya Barat yang dominan, bahkan menggunakan kode-kode budaya tersebut untuk mendelegitimasi kekuasaan pada tradisi politik mereka sendiri.
Para pemuda di Iran boleh jadi terjebak eforia kebebasan berekspresi seperti yang dimiliki jutaan pemuda lainnya di luar negara mereka. Namun, ada baiknya mereka sendiri merefleksi hasil kebebasan ekspresi yang alih-alih membebaskan sebaliknya malah membelenggu tanpa sadar. Mereka harus ingat, bahwa industri budaya populer dalam kapitalisme itu bersifat fasis, sama seperti rezim Mullah yang justru mereka lawan saat ini.
Kritik ini pernah ditulis dalam lirik lagu “Hypnotize” milik System of a Down (SOAD) saat melihat kondisi kebebasan yang tidak ada gunanya bagi para pemuda. Dalam lagu itu, SOAD mengingatkan para pendengarnya di Amerika Serikat untuk melihat tragedi Lapangan Tiananmen, 1989. Saat itu, ratusan mahasiswa RRC mati mengenaskan saat berdemonstrasi menuntut kebebasan berpendapat di negara yang mengadopsi komunisme. Sebaliknya, muda-mudi Amerika Serikat yang telah sejak lama memiliki kebebasan justru menghabiskan waktunya hanya untuk berpacaran. Seks bebas dan romantika banal muda-mudi adalah salah satu ekses budaya populer. Kesibukan itu membuat mereka bergeming akan kebijakan perang AS di Timur Tengah, bahkan gagal mencegah Donald Trump menjadi presiden.
Kekhawatiran atas invasi kapitalisme global di bawah komando peradaban Barat sebenarnya sudah dituliskan banyak oleh intelektual Iran sendiri seperti Ali Shariati. Ia membuat banyak formula berpikir untuk masyarakat Iran masa depan pasca-rezim Shah Reza. Bagi Shariati, pengakuan atas keunggulan masyarakat Barat dalam bidang sains dan teknologi tidak perlu sampai mengorbankan nilai-nilai religiusitas bangsa Iran. Sebaliknya, jalan tengah yang mempertemukan keunggulan Barat dalam sains dan Timur dalam etik akan memunculkan kelompok yang disebut raushan fikr (intelektual tercerahkan).
Sayangnya, pemikiran Ali Shariati tidak berujung pada sebuah manual book gerakan sosial seperti yang terjadi pada karya-karya Sayyid Qutb di Mesir dengan Ikhwanul Muslimin. Tulisan-tulisannya terserak dan tidak sempat diaktualisasikan secara konkret pascarevolusi oleh rezim yang kemudian melakukan supervisi represif pada semua pemikiran oposisi. Boleh jadi, geliat perlawanan generasi muda Iran melalui budaya populer saat ini diakibatkan tidak adanya alternatif pemikiran progresif yang berbasis gerakan sosial.
Di sisi lain, jika Allah menakdirkan Ali Shariati berumur panjang, pastilah juga ia berseberangan dengan seluruh praktik Wilayatul Faqih yang ada hari ini. Bahkan bisa jadi, ia termasuk kelompok yang dipersekusi oleh rezim seperti halnya para pembaca bukunya yang mengalami penangkapan dan penyiksaan selama periode konsolidasi politik Iran di awal 1980an.
Ironisnya, jika Ali Shariati nyata ditasbihkan sebagai tokoh ideolog revolusi Islam Iran, kelompok konservatif yang hidup setelah kematiannya adalah para pengkhianat revolusi itu sendiri. Sebutan kontra-revolusi itu bisa berbalik arah jika kita mengkaji tulisan-tulisan Shariati sebelum pecahnya revolusi.
Nikan Khosravi, Marjane Satrapi, dan para pengagum Ali Shariati di Iran adalah eksponen kontra-revolusi yang hari ini masih terus melakukan perlawanan melalui produk budaya populer. Mereka adalah generasi muda yang terinjeksi budaya populer yang tidak bisa dibendung di tengah era keterbukaan informasi yang begitu pesat menguasai dunia. Sekeras apa pun kelompok konservatif di Iran melakukan pembatasan dan restriksi, selalu ada perlawanan yang dilakukan. Semakin keras pembatasan, semakin keras pula perlawanan mereka. Mengutip kalimat Khosravi di metalinjection.com, “I`m from Middle East, God Da*n it! I was born in a war zone!”

*Wirawan Sukarwo

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*