Home » Article and Analysis » News and informations » JAWABAN TERHADAP JAWABAN DINA SULAEMAN » 2594 views

JAWABAN TERHADAP JAWABAN DINA SULAEMAN

Smith Alhadar
Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)

Kemarin, 19 Januari 2018, saya mendapat kiriman tulisan Dr Dina Sulaeman berjudul “Jawaban Untuk Smith Alhadar” dari staf lokal kedutaan besar Republik Islam Iran di Jakarta bernama Abdullah bin Yahya. Saya mengenal baik Abdullah sebagai orang sederahana, polos, Syiah fanatik, dan siap menjalankan apapun perintah diplomat Iran. Sebagaimana Abdullah, Dina pun tak segan-segan berlagak seperti anjing kedutaan Iran yang siap menggonggong siapa saja yang berani mengkritik Iran. Dua tulisan saya tentang demonstrasi di Iran yang dimuat Kompas (4 januari) dan Republika (8 Januari) dikritik Dina yang lebih diarahkan untuk menghancurkan reputasi saya, bukan pada substansi tulisan saya. Dina memang dikenal punya kebiasaan menjatuhkan otoritas keilmuan orang yang tidak sepandangan dengan dia. Dia mengira dengan menjatuhkan lawan melalui intimidasi persoalan akan selesai. Dia keliru. Yang saya heran, Dina yang bergelar doktor tidak cermat membaca tulisan saya sehingga mengkritik secara sembrono. Berikut jawaban saya terhadap karya tulis Dina “Jawaban Untuk Smith Alhadar”.

Di awal tulisan Dina sudah menyerang saya dengan mengatakan dua tulisan saya itu “sedemikian kacaunya” sehingga ia merasa perlu menanggapinya. Tulisan sedemikian kacau kok difahami dan merasa perlu ditanggapi? Logika macam apa ini? Seharusnya kalau sebuah tulisan sudah demikian kacau tidak perlu ditanggapi. Toh, pembaca akan meninggalkannya karena sulit difahami. Jangan-jangan tulisan saya itu justru terlalu jelas, tegas, dan akurat mengkritik rezim mullah yang disucikan Dina sehingga mengganggu tidur sang doktor. Sebenarnya tulisan saya itu mengkritik secara fair kondisi ekonomi, sosial, dan politik Iran mutakhir, tapi Dina mengidentikkan Syiah sebagai mazhab keagamaan dengan negara dan pemerintahan Iran. Bagi Dina, mengkritik pemerintah Iran sama dengan mencela keyakinan Syiah yang dipeluknya dengan sepenuh hati. Ini ciri pemeluk Syiah awam seperti Dina dan membuat saya meragukan gelar akademisnya.

Berikut Dina menulis, “Tujuan saya, tentu saja agar para pemerhati Timteng bisa mempelajari di mana letak kekacauan tulisan Smith sehingga bisa lebih kritis saat membaca analisis Timteng secara umum, bukan hanya tentang Iran.” Saya sudah menulis di media mainstream selama 25 tahun dan selama itu tidak pernah ada orang yang mengatakan tulisan saya kacau. Dina merasa perlu mengajari pembaca tentang kekacauan tulisan saya dan bagaimana seharusnya membaca yang disertai sikap kritis. Selain pembaca, sikap Dina ini juga merendahkan redaktur opini media mainstream seolah mereka bodoh ketika memutuskan sebuah tulisan dimuat di kolom opini. Apakah “kebodohan” redaksi kolom inilah yang membuat Dina enggan mengirim tulisan ke media mainstream? Bahkan, Dina merasa lebih superior dari semua pemerhati Timteng lainnya sehingga terdorong untuk mengajari dan menunjukkan kepada mereka di mana letak kekacauan tulisan saya. Ini mungkin dianggap Dina sebagai sikap shalehah seorang pemeluk Syiah. Tapi saya curiga, tulisan-tulisan Dina tidak muncul di media mainstream justru karena tulisan-tulisannya, sejauh yang saya ketahui, bersifat sektarian, Iran sentris, dan tentu jauh dari sikap objektif yang dituntut oleh media mainstream.

Berikut Dina menulis, “Kesalahan fatal yang dilakukan Smith adalah penggunaan data yang salah.” Data-data soal kemiskinan di Iran saya ambil dari Al Jazeera pada bulan Agustus tahun lalu yang mengutip dari Bank Sentral Iran (sebagaimana saya kutip dalam tulisan saya) dan dari Al Arabiya pada Januari silam. Apakah kedua media online itu memaparkan data-data secara asal-asalan? Lepas dari sikap kritis Al Arabiya terhadap Iran, mereka tidak sembrono memuat data yang dapat berdampak pada reputasi mereka di mata pembaca. Toh, di zaman kelimpahan arus informasi sekarang ini, media berusaha menyajikan informasi dan data seakurat mungkin agar survive dalam ketatnya kompetisi di arena global. Bukan zamannya lagi memanipulasi informasi dan data. Dina menolak mengambil informasi dari media mainstream dalam negeri karena ia beranggapan media-media itu mengandalkan sumber berita dari Barat yang ia curiga bias ideologi. Tapi ia dengan bangga mengambil dari sumber-sumber Iran. Apakah sumber dari negara teokrasi seperti Iran lebih credible daripada sumber dari Barat? Apakah data Bank Dunia atau UNDP – yang diklaim Dina sebagai sumber rujukannya — bukan bersumber dari Barat? Apakah sumber-sumber dari Iran tentang percaturan dunia internasional tidak bersumber dari Barat? Perlu diketahui bahwa Iran sendiri mengandalkan berita dari Barat sebagai jendela untuk melihat dunia. Jangan karena fanatik pada Iran Anda bersikap tidak adil terhadap Barat. Dina menulis, “Data dari Bank Dunia jelas lebih credible daripada data copas dari tulisan orang di medsos, atau entah dari mana.” Dina mengira orang lain sama dengan dia yang punya kebiasaan copas dari medsos. Dari dulu saya tidak punya medsos. Putra saya membuat Facebook untuk saya, tapi saya tidak pernah menggunakannya. Saya curiga Dina justru yang copas dari kedutaan besar Iran di Jakarta. Ketika demonstrasi merebak di Iran baru-baru ini, saya dikirimi berita-berita pro-pemerintah Iran tentang kerusuhan di Iran oleh kedutaan besar Iran di Jakarta dengan harapan saya menuangkan dalam tulisan sejalan dengan informasi-informasi yang diberikan itu. Dina pasti dikirimi juga, bahkan kemungkinan besar diminta menanggapi tulisan saya. Toh, Dina sangat akrab dengan kedutaan besar Iran di Jakarta dan selalu bertindak sebagai anjing yang menjilat pantat tuannya.

Selanjutnya Dina menulis, “Tidak fahamnya Smith atas kevalidan data berimbas pada alur argumen yang konyol, misalnya: “parabola dilarang, internet dikontrol, dan aturan berpakian…AKIBATNYA program kerja pemerintah tidak maksimal. Sejak kapan parabola dan cara berpakaian menjadi faktor kemajuan ekonomi?” Dina seorang doctor, namun sayang bodoh dan jahat. Dia mengutip tulisan saya sepenggal-sepenggal untuk menciptakan ruang menyerang saya. Yang dikutip Dina di atas bersumber dari alinea berikut: “Ideologi kubu konservatif dapat dikenali dari kebijakan luar negeri yang resisten terhadap Barat dan pandangan budaya Iran lebih kaya ketimbang bangsa lain. Akibatnya, parabola dilarang, internet dikontrol, dan ada pengawas kode berpakaian. Akibatnya, program kerja pemerintahan kubu moderat tak maksimal.” Alinea ini sangat sederhana dan mudah difahami bahwa saya mengaitkan ideologi kubu konservatif dengan pelarangan parabola, internet, dan mengawasi kode berpakaian, dan sama sekali tidak mengaitkan dengan kemunduran ekonomi. Dina memang konyol. Tapi saya memakluminya karena ia hanya sekadar menyembuhkan hati orang-orang yang terluka akibat tulisan saya.

Berikut Dina mengkritik tentang jumlah orang yang berdemonstrasi, siapa mereka, berapa jenis demo yang terjadi, bagaimana perbandingan jumlah peserta demo, bagaimana sikap kubu reformis atas demo rusuh, dst. Dina menulis, “Smith tidak menguasainya dengan baik sehingga bangunan argumennya menjadi kacau.” Yang mau dikatakan Dina adalah bahwa jumlah orang dalam demo rusuh yang terjadi tidak sebanding dengan demo tandingan beberapa hari kemudian dan bahwa kubu reformis menentang demo. Yang kacau justru argumen Dina sendiri. Sayang ia percaya begitu saja pada informasi dari sumber Iran bahwa jumlah peserta demo cuma 41 ribu orang sedangkan jumlah orang dalam demo tandingan justru berlipatganda. Yang turun ke jalan di kota-kota besar maupun kecil di seluruh wilayah Iran jumlahnya ratusan ribu. Bisa jadi jumlah orang dalam demo tandingan lebih banyak, tapi yang Dina tidak tahu atau pura-pura tidak tahu mereka tidak muncul secara spontan melainkan hasil mobilisasi pemerintah terhadap santri dari berbagai pondok pesantren (hawze), pegawai negeri, anggota Basij (relawan), dan anggota Pasdaran (garda Revolusi). Demo spontan dikerahkan oleh mantan presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan mantan jaksa agung Ebrahim Raisi yang Mei tahun lalu kalah dalam kontestasi pemilihan presiden. Kubu reformis yang sedang berkuasa memang harus menentang demo yang diarahkan untuk menggoyang pemerintahan Presiden Hassan Rouhani dari kubu reformis. Dina harus bangkit dari kebodohan dalam melihat sebuah fenomena politik.

Dina menulis, “Smith tidak memahami struktur pemerintahan Republik Islam Iran, akibatnya muncul usulan konyol misalnya, menyuruh rahbar mundur, dan presiden menentukan dalam pengangkatan rahbar (dan kekacauan lainnya dalam menjelaskan struktur pemerintahan).” Dina tersinggung saya menggusulkan rahbar mundur, bukan karena saya tidak memahami struktur pemerintahan Republik Islam Iran. Memang sebagai seorang Syiah fanatik, rahbar (pemimpin tertinggi Iran) adalah sosok sakral yang tidak bisa disentuh. Bagi Dina, rahbar adalah garis merah. Sementara saya terlalu berani mengusulkan agar rahbar mundur. Sekali lagi saya mengusulkan agar tidak mengidentikkan Syiah dengan Iran sebagaimana yang dilakukan Dina agar pikiran tidak jumud dan dapat bersikap kritis terhadap rahbar dan Iran. Sayang kalau sekolah tinggi-tinggi tapi kemudian hanya menjadi muqalid Khamenei. Saya mengusulkan Khamenei mundur untuk digantikan rahbar baru yang muda dan fresh untuk bisa memimpin Iran sesuai dengan perubahan-perubahan besar yang sedang terjadi di dunia. Dina bilang saya tidak memahami struktur pemerintahan Iran, tapi tidak menunjuk di mana kesalahan saya. Tentang presiden dan rahbar saya menulis begini, “Presiden menentukan dalam pengangkatan rahbar. Meski presiden tidak terlibat langsung dalam proses seleksi rahbar, Konstitusi Iran menyatakan, dalam hal rahbar meninggal atau tidak dapat menjalankan tugas, presiden adalah figur kunci dalam dewan yang akan mengambil alih tugas rahbar. Selain presiden, duduk dalam dewan adalah pemimpin lembaga yudikatif dan ahli hukum dari Dewan Pengawas. Karena tidak ada batas waktu proses pengangkatan rahbar, dewan dapat berkuasa dalam waktu lama.” Apa yang salah dalam pernyataan saya di atas? Dina menyerang saya hanya untuk menutupi kecemasannya ketika sosok suci panutannya saya desakralisasi. Jadi, tidak ada hubungannya dengan “ketidakfahaman” saya tentang struktur pemerintahan Iran. Justru ketidakmampuan Dina bersikap realistis dan objektiflah yang menjadi pangkal persoalan.

Dina menulis, “Smith tidak memahami dengan baik apa yang sebenarnya terjadi setelah perundingan nuklir, sehingga Smith menyusun argumen konyol: sejak diimplementasikannya kesepakatan nuklir pada Januari 2016 – di mana sanksi ekonomi dan keuangan internasional atas Iran dicabut…perekonomian Iran tidak membaik.” Dina melanjutkan, “Smith sedang berupaya menyodorkan data palsu bahwa ‘ini lho, AS sudah baik, mencabut sanksi, tapi buktinya, Iran tetap kacau kan? Jadi kesalahan ada pada rezim Iran!” Memang ekonomi Iran tidak membaik sejak kesepakatan nuklir ditandatangani dan Barat mencairkan aset-aset Iran yang dibekukan senilai US$ 100 miliar. Mengapa? Karena Iran menghabiskan dana-dana itu untuk membiayai petualangan militer Iran di kawasan dan membangun program rudal balistik. Jangan terlalu bahlul, Dina. Hal-hal ini terlalu sederhana untuk difahami. Saya sayangkan reaksi-reaksi Dina terhadap tulisan saya justru lebih mengungkapkan ketololannya. Tuduhan bahwa saya menyodorkan data palsu dan kesimpulan yang ditarik Dina menunjukkan Dina sama sekali tidak cerdas. “Ini lho, AS sudah baik, mencabut sanksi, tapi buktinya, Iran tetap kacau kan? Jadi kesalahan ada pada rezim Iran!” Memang rezim Iran melakukan kesalahan. Tapi bahwa saya mengatakan AS sudah berbuat baik kepada Iran hanyalah kesimpulan khayalan Dina belaka. Orang yang membaca tulisan saya tidak akan menarik kesimpulan seperti itu. Dina harus biasakan diri membaca tulisan secara saksama, jangan malas. Menghantam kromo siapa pun yang tidak sejalan dengan Anda hanya mengungkap siapa Anda sebenarnya. Membela Iran boleh, saya tidak melarang, tapi ya membelalah secara cerdas.

Dina menulis, “Smith sepertinya tidak menguasai studi HI sehingga mengabaikan faktor intervensi AS selama ini terhadap negara-negara periphery; baik lewat soft power maupun hard power; Smith pun tidak faham geopolitik kontemporer, sehingga bahkan membela AS: “Kebijakan luar negeri (Iran) yang sectarian, agresif, dan ekspansif juga harus dihentikan. Kebijakan seperti inilah yang membuka peluang bagi pemerintahan Presiden AS Donald Trump melaksanakan poilitik pembendungan terhadap Iran dan menciptakan permusuhan dengan negara-negara Arab. Jadi, bagi Smith, AS sah-sah saja melakukan semua kejahatannya di Timteng karena semua adalah salah Iran.” Lagi-lagi DR Dina menarik kesimpulan konyol. Saya sama sekali tidak membenarkan apa yang dilakukan AS di Timteng seperti yang dikhayalkan Dina. Yang saya katakan dalam pernyataan di atas adalah perlunya Iran menjalankan politik regional dan internasional yang kondusif, yang tidak menciptakan musuh eksternal, sehingga Iran dapat berkonsentrasi menangani masalah-masalah dalam negeri dan membangun ekonominya. Menjalankan politik sektarian, agresif, dan ekspansif justru kontradiktif dengan upaya membangun bangsa, karena lingkungan regional dan internasional yang tidak kondusif hanya menciptakan instabilitas dalam negeri dan membuang-buang kesempatan untuk membangun Iran yang makmur dan demokratis.

Akhirnya, saya hanya bisa mengusulkan kepada Dina agar kritis terhadap informasi yang diberikan kedutaan besar Republik Islam Iran di Jakarta dan pasang jarak dengan kedutaan itu sehingga Dina bisa berlaku objektif dalam memperlakukan tulisan orang terkait Iran. Sikap tinggi hati dan arogan adalah sikap yang celaka. Saya sebenarnya tidak ingin menanggapi tulisan Dina “Jawaban Untuk Smith Alhadar” karena kita akan sangat sulit berdiskusi dengan orang yang fanatik buta, siap menggonggong tak henti-hentinya terhadap orang yang dipersepsikan menghadirkan ancaman bagi tuannya.
Jakarta, 21 Januari 2018

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*