Home » Article and Analysis » Ancaman ISIS di Indonesia » 2510 views

Ancaman ISIS di Indonesia

Ancaman ISIS di Indonesia

Oleh Yanuardi Syukur
Sekjen ISMES/Mahasiswa Program Doktoral Departemen Antropologi FISIP UI

Salah satu isu besar terorisme di dunia saat ini adalah soal Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Sejak berdiri, yang “tidak direstui” oleh gerakan yang senior darinya, Al-Qaeda, gerakan ini terus meningkatkan kapasitas dengan perluasan wilayah, mengajak kaum muslim—terutama anak muda dalam masa peralihan (transitional stage)—untuk bergabung. Bagi negara-negara di dunia, kehadiran ISIS adalah ancaman, tak terkecuali bagi kita di Indonesia.

Ancaman ISIS
Scott Atran, professor riset Antropologi di Universitas Michigan menulis sebuah artikel bagus berjudul “ISIS is a revolution.” Dalam tulisannya, kata Atran, kelompok ISIS sesungguhnya sedang menghancurkan negara-bangsa (nation-state) yang dianggap telah gagal secara moral dan diganti dengan Negara Islam yang menjanjikan identitas, keadilan, kemakmuran, dan kemuliaan.
Ketika Khalifah ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk bergabung, maka segeralah ajakan ini disambut dimana-mana, termasuk 80 persen kombatan—yang meminjam Geertz—kategori “Islam Abangan” asal Perancis yang tidak berasal dari keluarga religius tapi merasa “lahir kembali” (born again) dengan identitas sebagai jihadis. Dalam kasus Perancis, misalnya, tulis Atran, “1 dari 4 orang kombatan adalah orang yang baru bertaubat.” Jadi, bukan betul-betul orang yang paham Islam dahulu kemudian bergabung dalam karavan jihadis.
Indonesia sebagai nation-state, tentu saja terancam dengan adanya kelompok ini dalam beberapa hal berikut. Pertama, ancaman keamanan. Jika kita tulisan Aman Abdurrahman, ideolog ISIS Indonesia, tampak bahwa ia mengkafirkan negara Indonesia. Pancasila menurutnya adalah thagut (berhala), dan aparat keamanan adalah ansharut thagut (penolong thagut) sekaligus murtad (keluar dari Islam) karena tidak menjalankan hukum Islam yang berasal dari Allah.
Beberapa serangan terhadap polisi—baik yang terjadi di Jakarta (bom Thamrin, bom Kampung Melayu, Masjid Falatehan) dan Medan (penikaman di Mapolda Sumut)—besar kemungkinan berlandaskan pada pemikiran tersebut. Tentu saja aksi-aksi amaliyah istisyhadiyah (bom bunuh diri) dan ightiyalat (serangan tiba-tiba) tersebut cukup mengkhawatirkan karena sasarannya bisa mengorbankan orang yang tidak tahu apa-apa.
Selain itu, berbagai jaringan ISIS di Indonesia yang menurut Panglima TNI Gatot Nurmantyo ada di 16 daerah juga menjadi ancaman. Artinya, jika mereka juga berpikiran yang sama bahwa negara ini thagut, dan berpikir untuk menghancurkan negara—demi tegaknya negara Islam—tentu juga akan merusak keamanan kita.
Kedua, ancaman kohesi sosial. Negara ini tidak akan hadir tanpa adanya masyarakat yang kuat, yang padu, dan stabil. Maka ketika ada virus yang akan mengancam kepaduan sosial tersebut yang menciptakan “destabilisasi keteraturan sosial”, maka virus tersebut perlu disikapi secara serius. Ajakan Al-Baghdadi untuk meletupkan “gunung api jihad” di berbagai negara rupanya telah terjadi dimana-mana, terutama di Eropa, Filipina, dan Indonesia. Menurut mereka, sebagai dikutip Atran, “negara Islam tidak akan turun dari langit tanpa berkelahi!”
Sebutlah kasus penikaman anggota Brimob yang terjadi setelah salat Isya di Masjid Falatehan Jakarta. Hal itu sungguh di luar dugaan karena di tempat suci seperti masjid rupanya dimanfaatkan pula oleh kelompok tertentu—entah berafiliasi ISIS atau tidak—untuk melakukan perbuatan tidak suci dengan menikam jama’ah lainnya. Bisa dibayangkan, ketika si pelaku salat dan mengucapkan “Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” (keselamatan dan keberkahan dari Allah untuk kalian) di kiri dan kanan tapi bukannya selamat dan berkah yang ia sebarkan, tapi malah luka-luka dan darah-darah.
Ketiga, ancaman bagi negara-bangsa. Sejak merdeka Indonesia telah bersepakat untuk mengadopsi negara-bangsa yang majemuk mengingat negeri ini tersusun dari berbagai macam suku, agama, ras, dan golongan yang berbeda-beda. Jika ide ISIS mewabah, maka bisa Indonesia sebagai negara-bangsa akan terancam konflik sosial, atau perang saudara karena perbedaan pandangan tersebut.
Apalagi, Indonesia hanya akan menjadi “sekrup kecil” di tengah mesin besar sistem Khilafah ala ISIS yang memperlihatkan berbagai tindakan brutal dan kejam kepada manusia. Memang, jika kita bersumber pada media-media mainstream ada banyak berita hoax, akan tetapi rasanya tidak mungkin seluruh berita bersepakat berkata salah. Gerakan teror yang didemonstrasikan oleh ISIS akan berpotensi untuk memecah bangsa.
Pastinya, Indonesia yang telah kita perjuangkan dari penjajahan sejak lama ini patut untuk dipertahankan. Walau ada saja kekurangan sistem kita sekarang tapi ikhtiar untuk perbaikan masih terbuka lebar lewat parlemen, atau media-media yang dapat menjangkau pemerintah. Lagipula, aspirasi rakyat saat ini teramat mudah, dan akses kepada pejabat publik pun terbuka luas lewat media sosial.

Perkuat Basis Masyarakat
Mayoritas orang Indonesia tidak mendukung ISIS. Maka, kendati gerakan tersebut terus mencari anggota dan mencari simpati, mereka tetap tidak akan mendapatkan pendukung yang signifikan. Kenapa? Karena masyarakat kita masih mengakui bahwa sistem yang ada sekarang masih bagus, tinggal diperbaiki saja. Artinya, memperbaiki sistem yang ada masih lebih baik ketimbang harus ikut sistem baru yang selain membuat masyarakat terpecah juga akan mengulang sejarah konflik antara negara dan rakyat yang mengorban banyak nyawa.
Untuk itu, maka penangkalan terhadap infiltrasi ISIS tidak harus bertumpu pada pendekatan keamanan saja tapi pendekatan kultural. Edukasi tentang Indonesia yang majemuk, damai, toleran, dan harmonis tetap perlu dirawat bersama. Adapun, negara Islam yang tengah dibangun di Irak dan Suriah—kemudian kabarnya akan dibuat juga di Filipina Selatan lewat Abu Sayyaf dan Maute Group—selain tidak disetujui oleh jumhur ulama dunia juga tidak menampilkan Islam yang ramah dan rahmat bagi sesama.
Hal yang cukup penting juga adalah penguatan pada basis generasi muda. Orang-orang muda sangat rentan untuk dipengaruhi ideologi ISIS. Mereka yang masih mahasiswa, belum ada pekerjaan, belum ada pasangan, dan terlilit dalam masalah sosial sangat memungkinkan untuk bergabung. Walaupun dalam faktanya ada juga satu keluarga dari Indonesia yang rela menjual asetnya untuk bisa ke wilayah de facto ISIS, akan tetapi itu secara umum tidak banyak satu keluarga yang memilih ke sana.
Kini, gerakan teror untuk destabilisasi keteraturan sosial tersebut tidak lagi berfokus pada wilayah Timur Tengah. Mereka pun menjamah ke basis-basis di luar Timteng seperti beberapa mendadak di beberapa lokasi konser, mal, yang mengorbankan warga sipil dan aparat keamanan. Kita berharap masyarakat Indonesia tidak mudah terpengaruh dengan impian-impian teror yang coba ditawarkan untuk memecah belah keteraturan sosial yang telah ada.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*