Home » Article and Analysis » KRISIS QATAR, TRUMP, DAN IRAN » 2143 views

KRISIS QATAR, TRUMP, DAN IRAN

 

 

 

 

 

 

 

 

Smith Alhadar
Penasihat the Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)

Lama resah melihat politik regional Qatar yang mendukung kelompok-kelompok Islamis dan bersahabat dengan Iran, pada 5 Juni silam Arab Saudi memimpin sejumlah negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Ini tidak berarti Mesir, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Yaman, dan Libya, sekadar mengekor pada Saudi. Mereka punya perkara tersendiri dengan Qatar. Rezim Mesir pimpinan Presiden Abdul Fattah El-Sisi, misalnya, sudah sejak berkuasa pada 2013 — melalui kudeta terhadap Presiden Mohammad Mursi dari Ikhwanul Muslimin (IM) dukungan Qatar – sangat membenci Doha. Melalui media elektronik maupun cetak milik penguasa Qatar, seperti televisi Al-Jazeera, harian Asharq Al-Awsat, harian Al-Watan, harian Rayah, dan kantor berita QNA, terus melakukan oposisi terhadap rezim El-Sisi.
Pemerintahan Yaman pimpinan Presiden Abed Rabbuh Mansour Hadi yang diakui PBB, yang juga didukung koalisi Arab pimpinan Saudi dalam perang melawan milisi Al-Houthi, mencurigai Qatar bermain mata dengan Al-Houthi dukungan Iran. Pemerintahan Libya kawasan timur juga memusuhi Qatar karena mendukung kelompok Islamis yang melawan Tentara Nasional pimpin Jenderal Haftar Khalifah dukungan Mesir, UEA, dan Saudi. Sementara Bahrain kecewa pada Qatar yang bersahabat dengan Iran, padahal Teheran menyokong pemeberontakan Syiah Bahrain. Sama sebagaimana Bahrain, UEA marah pada Manama terkait kedekatannya dengan Iran, yang sejak 1992 menduduki Pulau Abu Musa, Tunb Besar, dan Tunb Kecil di mulut Selat Hormuz yang dikalim UEA sebagai miliknya.
Saudi adalah pihak yang merasa paling dirugikan dengan sikap Qatar terhadap Iran, musuh bebuyutan Saudi. Sebagai sesama anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Saudi mengharapkan penyusaian kebijakan politik regional Qatar dengan kebijakan umum GCC. GCC – terdiri dari Oman, UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Saudi — yang didirikan pada 1981, untuk mengantisipasi rembesan perang Iran-Irak (1980-1988). Kenyataannya, Qatar menandatangani kerja sama pertahanan dengan Iran. Keduanya juga memiliki ladang gas bersama di Teluk Persia. Lebih jauh, Qatar mendukung Hezbullah pro-Iran di Lebanon, yang bersama militer Iran, bahu-membahu menopang rezim Presiden Bashar Al-Assad dalam perang proxy di Suriah. Padahal Saudi menetapkan Hezbollah sebagai oragnisasi teroris. Bagi Qatar, Hezbullah adalah kelompok perlawanan dan menjadi partai politik yang memiliki anggota di parlemen Lebanon.
Sanksi pemutusan hubungan diplomatik dan penutupan akses darat, laut, dan udara bagi semua jenis transportasi Qatar oleh negara-negara Arab cukup memukul Qatar. Industri penerbangan Qatar akan mengalami kerugian besar. Impor bahan makanan yang selama ini sangat mengandalkan jalur darat Saudi juga membuat Qatar kewalahan. Yang mengherankan, Presiden AS Donald Trump mendukung kebijakan mengisolasi Qatar oleh negara-negara Arab tersebut. Padahal AS sangat bergantung pada kemurahan hati Qatar yang mengizinkan angkatan udara AS menggunakan pangkalan udara Al-Udeid dalam perang mereka melawan Taliban di Afghanistan dan ISIS di Irak dan Suriah. Pangkalan udara ini sangat berjasa dalam perang AS melawan Taliban sejak 2001, melawan Irak sejak 2003, dan ISIS di Suriah sejak 2014. Hal ini juga membuktikan bahwa Qatar tidak mendukung ISIS sebagaimana dikatakan negara-negara Arab di atas.
Pernyataan Trump bahwa ketika menghadiri KTT Saudi-AS, KTT GCC-AS, dan KTT Arab-Islam-AS, di Riyadh pada 20-23 Mei lalu, ia mendapat masukan dari negara-negara Arab itu bahwa Qatar mendanai kelompok-kelompok teroris menjadi bukti atas tuduhan Qatar bahwa Saudi, Mesir, UEA, Bahrain, dan Kuwait melakukan konspirasi menentang Qatar. Dukungan Trump kepada negara-negara Arab anti-Qatar itu sebenarnya tidak terkait dengan dukungan Qatar pada kelompok-kelompok Islamis, tapi pada hubungan baik Qatar dengan Iran, negara yang sedang diisolasi oleh AS karena kebijakan ekspansifnya merugikan kepentingan AS, Saudi, dan Israel di kawasan. Dalam ketiga KTT itu, AS membangun kemitraan strategis dengan Saudi dan GCC untuk melawan Iran, dan menyerukan dunia Islam menentang kelompok Islam ekstrimis dan ideologi radikal. Sementara Qatar, dua hari setelah KTT itu, bersikap berbeda dengan AS dan Saudi. Doha menyatakan Iran memiliki kapasitas di tingkat regional dan dunia Islam yang tidak mungkin diabaikan dan tidak bijaksana melakukan eskalasi ketegangan dengan Iran.
Berhubungan baik dengan Iran tidak berarti Qatar tunduk pada kebijakan regional negara mullah itu. Qatar berseberangan dengan Iran soal perang di Yaman dan Suriah. Qatar juga bergabung dengan GCC dalam pembentukan angkatan laut bersama untuk menghadang Iran. Yang terjadi sesungguhnya adalah Qatar menjalankan poilitik independen dan mendukung Arab Spring di mana kelompok-kelompok Islamis berperan menentukan. Qatar percaya bahwa kelompok Islamis akan berperan besar di dunia Islam di masa yang akan datang.***

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*