Home » Article and Analysis » KONFLIK KEBAHASAAN TIMUR TENGAH » 3012 views

KONFLIK KEBAHASAAN TIMUR TENGAH

 

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Divisi Riset ISMES

Ketika pertengkaran demi pertengkaran terus berlanjut dan juga berganti, maka medium bahasa juga merefleksikan pertengkaran itu. Suleiman (2004) mengidentifikasi keterkaitan antara konflik, bahasa, dan juga bangsa. Dimana ketiganya menjadi variable utama yang ikut terlibat dalam situasi konflik yang terjadi. Bahasa dimanipulasi menjadi bagian dari politik, kebudayaan, dan bahkan juga perbedaan sejarah. Tidak hanya itu, untuk meredam konflik yang sudah ada dan memulai perundingan diantara kedua pihak, maka bahasa dijadikan instrumen dalam merintis perdamaian.
Demikian pula dengan pilihan bahasa, dimana polisi dan tentara Israel menolak untuk menggunakan bahasa Arab. Termasuk bahasa Arab dianggap sebagai bahasa tradisional sehingga tidak perlu dipakai dalam situasi formal. Dengan mendominasi bahasa yang digunakan dianggap bahwa penguasaan Israel terhadap Palestina sudah menyeluruh untuk menimbulkan kesan ketidakwujudan identitas. Sementara warga Palestina walaupun menguasai bahasa Inggris, juga menolak menggunakannya kepada masyarakat Israel. Bahkan interaksi dengan pihak keamanan hanya mau menggunakan bahasa Arab. Dalam hal ini, bahasa menjadi penanda identitas dalam menunjukkan afiliasi sosial yang dimilikinya. Bagi orang Palestina, bahasa Arab adalah soal harkat dan martabat bangsa. Ketika bahasa Inggris digunakan bangsa Israel, mereka berkeinginan untuk menunjukkan perbedaan dengan bangsa Palestina.
Sebagai dampak dalam konflik Yordania dan Palestina di tahun 1994, kosakata yang digunakan bertambah seiring dengan ketegangan diantara kedua negara. Bahasa di media dan kurikulum sekolah memaknai peristiwa yang terjadi sehingga memperkaya kosakata. Sebaliknya konflik Mesir dan Palestina direduksi dimulai dari kesepahaman untuk tidak menggunakan bahasa yang bisa menimbulkan pertengkaran. Begitu juga dengan usaha untuk mengurangi ketegangan Palestina dan Israel disepakati dalam pertemuan Oslo pada tahun 1993 untuk saling menggunakan istilah yang sudah wujud diantara kedua bangsa. Dengan menggunakan istilah yang dipakai pihak lain menegaskan adanya pengakuan terhadap keberadaan mereka. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa bahasa menjadi instrument baik dalam meningkatnya perselisihan maupun meredam konflik.
Adapun di Yordania, konflik kebahasaan justru timbul karena perbedaan dialek. Terdapat dua artikulasi dialek secara nasional, dialek Amman sebagai pengucapan di wilayah ibukota. Secara sosial dianggap sebagai dialek dengan stratifikasi yang tinggi. Sementara penutur dialek Baduwi dengan jumlah lebih besar justru dianggap sebagai dialek yang rendah. Variasi lainnya adalah penutur bahasa Arab yang berasal dari Tepi Barat. Mereka mengungsi saat terjadinya konflik kemudian memilih untuk mencari pekerjaan di Tepi Timur.
Terdapat stereotype dalam urusan dialek tersebut sehingga menimbulkan ketersinggungan. Bagi penutur dengan dialek Baduwi, mereka menganggap bahwa dialek yang digunakannya menunjukkan keindahan dan maskulinitas. Sehingga bagi penutur dialek lainnya justru dianggap sebaliknya. Termasuk akses pendidikan diantara keduanya yang jauh berbeda, sehingga satu sama lain saling mempersepsikan kondisi yang sesungguhnya tidak berkaitan langsung dengan bahasa itu sendiri. Keadaan seperti itu yang menjadikan perjumpaan para penutur menimbulkan relasi yang tidak nyaman sehingga menimbulkan perselisihan. Sementara tiga dialek Ajloun, Sult, dan Karak, dengan jarak tertentu dari Amman terhindar dari konflik kebahasaan ini.
Penolakan terhadap sebuah dialek juga terjadi di Syiria seiring dengan penolakan pengungsi di Syiria di Damaskus. Bagi penutur bahasa Arab dengan dialek Fallahi mereka ditolak untuk didengarkan. Sekali lagi, identifikasi identitas kebangsaan dilihat dari dialek yang dituturkannya. Padahal beberapa kelompok Urban di Damaskus walaupun bukan penduduk Syiria juga menggunakan dialek Fallahi. Mereka dikategorikan juga sebagai warga Syiria, padahal sesungguhnya secara formal mereka adalah penduduk Damaskus. Sehingga kategorisasi identitas bangsa berdasarkan dialek tidak produktif dalam mengklasifikasi penuturnya.
Akhirnya, ekspresi kebahasaan menjadi pilihan untuk menunjukkan konflik. Sepanjang pendudukan Israel di tanah Palestina, maka sepanjang itu pulalah produksi kebahasaan akan terus bermunculan. Sementara penolakan dialek terhadap dialek lainnya juga menimbulkan perselisihan, sehingga ketika keduanya saling menerima justru merupakan kesempatan untuks aling mengenal dan memperkaya cakrawala kebahasaan. Sehingga tidak membatasi diri pada dialek yang dituturkan semata. Kosakata yang dituturkan dianggap sebagai simbol untuk menunjukkan keberadaan individu dan kelompoknya.***

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*