Home » Article and Analysis » News and informations » FRUSTRASI MENGHADAPI IDEOLOGI ISIS » 3111 views

FRUSTRASI MENGHADAPI IDEOLOGI ISIS

FRUSTRASI MENGHADAPI IDEOLOGI ISIS

Smith Al Hadar

Penasihat ISMES

Dalam Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) Tentang Menghadapi Ekstrimisme Kekerasan Di Sydney pada 11 Juni 2015, Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengatakan bahwa pembahasan tentang pencegahan ideology Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) sangat penting. Pemerintah harus mencari cara-cara untuk mengkonter ekstrimisme ideologis yang disebarkan oleh kelompok itu yang hingga saat ini telah menarik ribuan orang.
Jaksa Agung Australia George Brandis mengatakan pada KTT itu bahwa Australia akan mengkaji secara mendalam factor-faktor yang telah memotivasi warga Australia menerima ideologi ekstrimis .
Ada nada frustrasi dalam pernyataan Abbott maupun Brandis. Australia telah berupaya setiap cara untuk mencegah warganya bergabung dengan khilafat teror itu, tetapi tidak berhasil.
Dalam kasus Australia, represi ekonomi dan politik nampaknya bukan dorongan di balik fenomena itu.
Warga Indonesia, sebagaimana warga Australia, menikmati hak-hak fundamental yang tidak terdapat di sebagian negara Islam.
Tetapi sudah sekitar 500 warga Indonesia yang dikatakan pergi ke Irak dan Suriah untuk berperang bersama ISIS, mengalami indoktrinasi ideologi tidak manusiawi, menjalankan latihan militer (termasuk membuat bom) dan membangun jaringan dengan sesame jihadis dari 80 negara.
Ketika mereka kembali ke tanah air, mereka dapat mentransformasikan pengetahuan itu menjadi ancaman keamanan dan politik terhadap bangsa.
Bagi Australia, ideology diyakini satu-satunya variabel yang memotivasi warganya untuk berpartisiapsi dalam tindak terorisme di wilayah-wilayah yang dikontrol ISIS.
Kelompok jihadis telah mengeksploitasi media sosial untuk menyebarkan ideologi mereka. Situs jaringan sosial semacam Google, Facebook, dan Twitter telah membantu mereka merekrut anggota baru.
Dalam hal Indonesia, ideologi bukanlah satu-satunya variabel. Kesulitan ekonomi pada tingkat tertentu berkontribusi bagi mengalirnya warga Indonesia ke wilayah perang di Irak dan Suriah, kendati tiga orang yang baru-baru ini ditangkap oleh Densus 88 Anti-Teror di Malang, Jawa Timur, berasal dari keluarga berpunya.
Nampaknya orang-orang dari ormas-ormas Salafi lebih mengutamakan identitas atau loyalitas kegamaan ketimbang identitas kebangsaan.
Setelah era reformasi gerakan Salafi terbelah tentang bagaimana menjawab perubahan lanskap politik. Sebagian pemuda yang tidak puas memilih jalan sendiri dan mengadopsi posisi yang lebih konservatif atau neo-Salafi.
Sementara gerakan Salafi yang lama menentang sufisme dan hanya mengakui ajaran-ajaran Nabi Muhammad hingga pada generasi ketiga setelah beliau, neo-Salafi menambahkan tiga elemen berikut: Pertama, mempromosikan intoleransi agama dan berdakwa dengan paksaan. Kedua, membatasi kapasitas Islam untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan atau situasi-situasi baru. Ketiga, memeluk takfiri (mengkafirkan). Keempat, siapapun yang tidak mengikuti gerakan mereka dianggap kafir dank arena itu harus dibunuh dan terakhir, menetapkan jihad sebagai rukun Islam.
Belum lama ini Presiden AS Barack Obama mengajak Turki, sekutunya di Timur Tengah, mencegah orang asing yang menyusup ke Irak atau Suriah melalui wilayahnya. Bahkan, jika Turki memenuhi permintaan AS, para jihadi asing, terutama warga Indonesia, masih bisa memasuki Irak dan Suriah melalui Yordania dengan cara mendapatkan visa ziarah ke Masjid al-Aqsa.
Simpatisan ISIS di Yordania telah menyelundupkan para jihadi ke Propinsi Anbar di Irak, yang kini diduduki ISIS. Karena itu, pemerintah Indonesia, khususnya kantor imigrasi, harus hati-hati mengeluarkan visa bagi mereka yang hendak pergi ke Yordania.
Pada September 2014, Obama memperkirakan bahwa perang melawan ISIS akan memakan waktu paling sedikit tiga tahun.
Juni ini ISIS merayakan ulang tahunnya yang pertama, dan tidak ada tanda-tanda koalisi Liga Arab-NATO akan segera menghancurkan ISIS. Malah, ISIS terus meluaskan wilayah kekuasaannya.
Mungkin simpatisan ISIS di seluruh dunia, trmasuk di Indonesia, akan merayakan ulang tahun kelompok itu. Perayaan di Indonesia bisa berupa peledakan bom di suatu tempat tertentu. Karena itu otoritas keamanan harus siaga penuh.
Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond belum lama ini mengusulkan agar koalisi Liga Arab-NATO harus meniru Pasukan Sekutu dalam perang melawan NAZI Jerman.
Pernyataan ini ada benarnya lantaran pasukan pemerintah Irak jauh dari cukup untuk menaklukkan ISIS. Perang melawan ISIS akan meminta waktu satu generasi, sebagaimana diprediksi oleh Utusan Khusus AS untuk Koalisi melawan ISIS, John Allen. Bisa jadi perang akan berlangsung lebih lama.
Masalahnya apakah Indonesia siap mengatasi kekuatan ISIS yang sedang tumbuh perlahan-lahan dan daya tarik ideologinya. Saya tidak yakin karena untuk menumpas ideologi ini seluruh komponen bangsa ini harus bersatu dan menghadapi masalah ini dengan strategi yang koheren.
Nyatanya, kita masih berdebat tentang hal-hal seperti definisi media online yang radikal, UU Intelijen, hak-hak tertuduh terrorist, dsb.

dimuat di Jakarta Post

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*