Home » Article and Analysis » DI BALIK KUNJUNGAN RAJA SALMAN KE INDONESIA » 3334 views

DI BALIK KUNJUNGAN RAJA SALMAN KE INDONESIA

DI BALIK KUNJUNGAN RAJA SALMAN KE INDONESIA

Smith Alhadar

Penasihat ISMES; Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education

Di tengah instabilitas kawasan Timur Tengah dan upaya Kerajaan Arab Saudi melakukan transformasi ekonomi, Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud,  berkunjung ke Indonesia. Kendati ini adalah kunjungan balasan atas kunjungan Presiden Jokowi ke Saudi pada 2015, bisa dikata ini adalah kunjungan historis dan penting raja Arab Saudi ke Indonesia setelah kedatangan Raja Faisal, kakak tiri Salman, pada 1970. Pentingnya kunjungan raja Arab Saudi ini dapat dilihat dari besarnya rombongan dan lamanya keberadaan mereka di tanah air. Raja Salman akan tiba di Jakarta pada awal Maret bersama 1.500 orang, 10 menteri, dan 25 pangeran, dan akan berada di Jakarta selama tiga hari untuk kunjungan resmi dan tujuh hari di Bali untuk bersenang-senang. Paling tidak, ada tiga hal yang ingin dicapai Kerajaan Arab Saudi di bawah Raja Salman dalam kerja sama lebih erat dengan pemerintahan Jokowi-JK, yaitu politik, ekonomi, dan kebudayaan.

Politik

Timur Tengah merupakan kawasan paling panas di dunia. Dan Arab Saudi kewalahan menghadapi perang saudara di Suriah, instabilitas di Irak, Perang Yaman di mana Arab Saudi terlibat, ketegangan hubungan Palestina-Israel, ketegangan hubungan kerajaan Bahrain dengan penduduknya, yang mayoritas berfaham Syiah, dan keresahan warga minoritas Syiah di dalam Kerajaan Arab Saudi sendiri. Kesemua persoalan ini terkait dengan Iran, musuh bebuyutan Saudi.

Di Suriah, Saudi dan Iran bertarung memperbutkan pengaruh. Iran mendukung rezim Bashar al-Assad, sementara Saudi mendukung kelompok-kelompok oposisi Islamis. Di Irak, Saudi menjalin hubungan erat dengan dengan kaum Kurdi dan Arab Sunni untuk mengimbangi pemerintah yang didominasi kaum Syiah dukungan Iran. Di halaman belakangnya, Yaman, Saudi memimpin koalisi Arab yang mendukung pemerintah Abed Rabbuh Mansour Hadi menghajar pemberontak Syiah Houthi sokongan Iran. Saudi pun sempat mengirim tentara ke Bahrain untuk meredam pemberontakan mayoritas kaum Syiah di negeri itu yang didukung Iran. Yang tak kalah penting adalah kekecewaan Saudi atas dukungan Iran pada minoritas Syiah Arab Saudi. Itu terlihat jelas ketika pemerintah Saudi mengeksekusi mati ulama Syiah Saudi, Syeikh Nimr al-Nimr pada Januari 2016. Saudi menganggap Syeikh Nimr melakukan provokasi terhadap komunitas Syiah melalui ceramah-ceramahnya. Protes Iran atas eksekusi itu berujung pada pemutusan hubungan diplomatik kedua negara. Konflik Iran-Saudi juga terkait Palestina. Riyadh melihat  Palestina sebagai masalah Arab, sementara Teheran mengaitkannya dengan isu Islam. Tak heran, Saudi menyokong pemerintahan Presiden Mahmoud Abbas yang berbasis di Tepi Barat, sementara Iran mendukung pemerintahan Hamas yang berbais di Jalur Gaza. Dukungan Iran ini membuat Hamas bersama Jihad Islam Palestina beriedologi Islamisme tetap radikal sehingga sulit bersatu dengan kelompok Fattah pimpinan Abbas yang nasionalis-sekuler. Akibatnya, perdamaian dengan Israel yang diidam-idamkan Saudi kian sulit diwujudkan. Bahkan, Palestina sering menjadi korban keganasan Israel.

Memang Saudi telah membangun pakta militer dengan Mesir dan Yordania untuk menghadapi ancaman Iran. Juga memperkuat kerja sama angkatan laut dengan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) untuk tujuan yang sama, serta bersekutu dengan AS. Namun, semua itu bagi Saudi belumlah cukup.

Maka pada Desember 2015, Saudi berinisiatif membangun Aliansi Militer Islam untuk Memerangi Terorisme. Pusat komando bersamanya berada di Riyadh. Organisasi yang telah diikuti oleh 39 negara berpenduduk mayoritas Islam ini, dikatakan bertujuan memerangi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) di Irak, Suriah, Mesir, Libya, dan Afghanistan, serta kelompok teror manapun. Indonesia diajak namun, kendati mendukungnya, menolak untuk bergabung. Karena Saudi menolak keikutsertaan Iran, organisasi yang berbasis kalangan Sunni ini dianggap sekatraian. Bagaimanapun, sulit untuk tidak mengatakan bahwa Aliansi Militer Islam ini lebih ditujukan untuk menghadang Iran dan proxy-nya di berbagai negara, seperti Hizbullah dukungan Iran di Lebanon yang telah dicap teroris oleh Saudi dan Houthi di Yaman. Sebagai negara berpenduduk mayoritas Sunni dan merupakan negara Muslim terbesar di dunia, keterlibatan Indonesia dalam Aliansi Militer Islam sangat penting untuk memperkuat legitimasai Islam pada organisasi ini, sekaligus untuk mengisolasi Iran yang belakangan semakin dekat dengan Indonesia.

“Ancaman” Iran dan ketidakpastian di Timur Tengah membuat Saudi memandang perlunya membangun persahabatan lebih erat dengan banyak negara, khususnya Indonesia (negara besar yang cukup terpandang) setelah Saudi tidak dapat membangun aliansi dengan Rusia dan Tiongkok — serta Israel karena belum berdamai dengan Palestina —  yang tidak bersedia mengorbankan persahabatannya dengan Iran, sementara AS di bawah Presiden Barack Obama telah mengeluarkan Iran dari isolasi dengan menandatangani kesepakatan nuklir (Juli 2015) dengan negeri mullah itu. Presiden AS Donald Trump memang mengambil sikap anti-Iran, dengan mengancam membatalkan perjanjian nuklir yang juga ditandatangani oleh Rusia, Tiongkok, Inggris, Perancis, plus Jerman. Belum lama ini AS menjatuhkan sanksi baru atas Iran terkait dengan uji coba rudal balistik negeri itu. Namun, mengingat upaya AS menghancurkan NIIS di Irak dan Suriah memerlukan kerja sama dengan Iran, sangat mungkin Trump akan melunakkan sikapnya terhadap Iran. Maka, kerja sama politik dengan Indonesia penting bagi Saudi untuk berkontribusi bagi keamanan Saudi dan stabilisasi Timur Tengah. Toh, Indonesia yang tidak terlibat perang di Yaman dan bersikap netral dalam perang saudara Suriah, serta berhubungan dekat dengan Iran, dapat mengambil bagian bagi perdamaian di negeri-negeri bergolak itu.

 

Ekonomi

Urusan ekonomi juga menjadi alasan penting kedatangan Raja Salman dan rombongan ke Indonesia. Sejak tahun lalu, Arab Saudi melancarkan Rencana Transformasi Ekonomi Nasional (Visi Arab Saudi 2030), yang intinya meninggalkan ekonomi berbasis minyak. Turunnya harga minyak dunia lebih dari setengah membuat ekonomi Saudi sangat terpukul. Paling tidak Saudi mengalami defisit anggaran sebesar 98 miliar dollar AS. Saudi merupakan negara produsen minyak terbesar di dunia di mana 80 persen pendapat luar negerinya berasal dari ekspor minyak. Defisit itu terjadi karena 75 persen APBN Saudi disumbang oleh pendapatan dari minyak.

Untuk mentransformasikan ekonomi yang melepaskan diri dari ketergantungan pada pendapatan dari minyak, Arab Saudi memerlukan investasi asing yang besar, di antaranya, di bidang infrastruktur, industri militer, perumahan, pariwisata, pendidikan, dan kesehatan. Kendati rencana ini dipandang terlalu ambisius, diprakarsai oleh Wakil Putera Mahkota Muhammad bin Salman (putera Raja Salman), Visi Saudi 2030 diyakini bisa dicapai dalam waktu 14 tahun mendatang, saat diversikasi ekonomi Saudi telah tercapai dengan pendapat per kapita lebih dari 30.000 dollar AS. Dalam konteks inilah kedatangan Raja Salman bersama sepuluh menteri dan ratusan pebisnis dapat difahami. Sebagai negara berpendapatan menengah, anggota G-20, dengan penduduk tak kurang dari 250 juta jiwa, tentu pasar Indonesia cukup menggiurkan. Karena Saudi akan meningkatkan manajemen haji untuk mendapatkan penghasilan di bidang ini makin besar, tentu Indonesia dengan jamaah haji terbesar di dunia akan memberikan pemasukan terbesar pada kerajaan Saudi.

Selanjutnya kedua negara dapat meningkatkan kerja sama di bidang pariwisata, perminyakan, perbankan, pendidikan, dan industri kemiliteran. Indonesia juga harus ambil bagian dalam proyek-proyek infrastruktur Saudi yang melibatkan dana ratusan miliar dollar AS.

 

Kebudayaan

Selama di Jakarta, Raja Salman berencana melakukan pertemuan dengan ormas-ormas Islam. Pertemuan ini akan berjalan hangat, terutama dengan ormas-ormas tertentu, yang selama ini banyak mendapat bantuan dari Saudi. Bukan tidak mungkin Saudi akan mengkonkretkan rencana-rencana sebelumnya berupa pembangunan sekolah-sekolah di Indonesia oleh ormas-ormas yang dipercayai Saudi. Taoi rencana ini bukan tidak mungkin akan mendapat perlawanan dari kelompok Islam liberal dan moderat yang menganggap Wahabisme, yang dianut mayoritas penduduk Saudi, merupakan ajaran radikal, intoleran, membatasi kapasitas Islam untuk beradaptasi dengan perubahan, dan anti terhadap ahlu sunnah wal-jamaah, walapun sejak almarhum Raja Abdullah berkuasa moderasi terhadap Wahabisme terus dipromosikan. Itu terlihat, misalnya, pada polisi akhlak (mutawin), yang anggotanya mulai digantikan oleh anggota baru yang lebih toleran terhadap budaya luar. Kaum perempuan pun mulai diberi tempat dengan mengangkat anggota Dewan Syura (semacam parlemen yang anggotanya dianggat raja) dari kalangan perempuan, serta menunjuk perempuan sebagai wakil menteri. Saudi memang sedang berubah walaupun lamban.

Yang mengkhawatirkan kalangan minoritas Syiah Indonesia adalah kerja sama Saudi dengan ormas-ormas Islam mengarah pada pembendungan pengaruh Syiah yang oleh Saudi dipandang sebagai alat Iran untuk menanamkan pengaruhnya di Indonesia. Sejak Revolusi Islam Iran 1979, Indonesia jadi lahan konflik antara Syiahisme dan Wahabisme yang merupakan proxy Iran dan Saudi. Wahabisme dan Syiahisme memang sangat berbeda. Keduanya merupakan dua pulau di antara lautan ahlu sunnah wal jamaah (Sunni). Bila Wahabisme lebih menekankan pada teks yang difahami secara leterlek dengan mengabaikan peran figur, termasuk Nabi Muhammad yang hanya sampai pada perannya sebagai penyampai wahyu saja (bahkan melarang merayakan Maulid dan ziarah kubur wali), Syiahisme lebih menekankan pada figur (Nabi, para Imam, dan figur suci lain), dan mengedepankan rasionalitas dengan ajaran yang filosofis dan abstrak. Di tengahnya adalah  lautan kaum Sunni yang menganggap teks Al Qur’an dan figur (Nabi dan para wali) sama-sama penting. Rasio penting, tetapi wahyu lebih tinggi dari rasio.

Mudah-mudahan kedatangan Raja Salman dan rombongan membawa manfaat bagi kedua negara. Selamat datang di Indonesia!

Jakarta, 22 Februari 2017

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*