Home » Article and Analysis » Relasi Indonesia dan Arab Saudi » 3571 views

Relasi Indonesia dan Arab Saudi

Oleh Ismail Suardi Wekke
Divisi Riset ISMES

Setelah 47 tahun berlalu, kali terakhir Raja Faisal Al-Saud yang berkunjung ke Indonesia. Padahal, presiden Indonesia secara rutin menjadwalkan kunjungan kenegaraan ke Kerajaan Arab Saudi. Bahkan Presiden Joko Widodo belum genap setahun setelah pelantikan, sudah mengunjungi negara Timur Tengah tersebut (September, 2015). Kunjungan terakhir dari Arab Saudi, hanya kunjungan Pangeran Thalal Al-Walid.

Raja Salman Al-Saud akan mengadakan kunjungan kenegaraan selama tiga hari, kemudian rombongan Raja Salman akan berlibur ke Bali. Dengan jumlah rombongan sekitar 1.500 orang sebagaimana disampaikan Kedutaan Kerajaan Arab Saudi, merupakan delegasi terbesar yang selama ini mengunjungi tanah air. Setidaknya diperlukan tujuh pesawat untuk mengakomodir kedatangan Raja, Mentri, dan para Pangeran.

Hubungan Indonesia dan Arab Saudi tidak hanya pada hubungan dagang semata. Di masa lalu para jamaah haji Indonesia juga diantaranya adalah pedagang. Masjid Harampun juga menyaksikan betapa warga Indonesia merupakan murid dan juga guru dengan talenta yang setara dengan murid dan ustadz dari belahan dunia Islam lainnya. Merekapun mendapat kehormatan untuk mengajar, baik di Masjid Haram maupun Masjid Nabawi di Madinah. Saat ini, Ustadz Firanda, mahasiswa program doktor di Universitas Islam Madinah menjadi salah satu tenaga pengajar di deretan pilar Masjid Nabawi.

Lembaga Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) yang merupakan pengembangan dari Universitas Al-Imam juga ditempatkan salah satunya di Jakarta. Di ibukota negara kitalah, LIPIA melayani kepentingan pembelajaran bahasa Arab. Dari LIPIA, tenaga pengajar bahasa Arab, pakar kajian Islam, dan dai, tersebar ke seluruh pelosok negeri. Mereka menjadi bagian dalam kesemarakan dakwah Islam dengan kemampuan bahasa Arab yang sangat cemerlang.

Begitu pula keluarga Al-Saud secara khusus mendonasikan sumbangan untuk penyelesaian bangunan masjid Arif Rahman Hakim di Kalemba, kampus Universitas Indonesia. Termasuk kesempatan untuk daurah bahasa Arab secara berkala di Universitas Islam Madinah maupun Universitas Umm al-Quro Makkah. Mahasiswa Indonesia menerima beasiswa di perguruan tinggi Arab Saudi, tidak hanya dalam kajian Islam tetapi juga pada departemen perminyakan, teknologi, dan media. Semuanya terbuka untuk diakses oleh warga Indonesia.

Tidak tersedia jejak kelam dalam hubungan kedua negara. Bahkan secara khusus, Indonesia selalu mendapat tempat yang teramat istimewa bagi Kerajaan Arab Saudi. Jumlah jamaah haji Indonesia yang terbesar, demikian pula jamaah umroh yang mencapai angka jutaan di tahun 2016, semuanya tentu menjadi sumbangan devisa bagi Kerajaan Arab Saudi. Sementara itu, Indonesia mendapatkan devisa melalui pengiriman tenaga kerja yang saat ini dihentikan untuk sementara.

Persaudaraan Islam menjadi kunci kehangatan hubungan kedua negara. Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia, di satu sisi. Sementara, Kerajaan Saudi Arabia yang menjadi tuan rumah Dua Kota Suci. Kedua negarapun juga, secara bersama-sama menjadi anggota G-20. Dengan teknologi eksplorasi minyak yang dikuasai Saudi Aramco, maka ada peluang kerjasama dengan Pertamina untuk kolaborasi yang tidak hanya pada sebatas haji, tenaga kerja, dan pendidikan.

Relasi yang terbangun, bahkan sebelum negara bangsa wujud, sesungguhnya merupakan modal dasar untuk semakin meningkatkan diplomasi kedua negara. Masing-masing memiliki modal yang dapat disinergikan sehingga akan saling membantu kedua belah pihak. Ini akan semakin mengukuhkan juga hubungan emosional kedua negara. Jikalau saja Indonesia dan Arab Saudi bisa mengeksplorasi kerjasama yang lebih luas, maka keuntungannya akan sampai pada umat Islam. Dengan relasi seperti itu, akan menjadi jembatan bagi kemajuan dunia Islam. ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*