Home » Article and Analysis » Kapan Konflik Israel-Palestina Berakhir? » 4185 views

Kapan Konflik Israel-Palestina Berakhir?

Oleh Samsul
(Mahasiswa Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam UI, Awardee LPDP PK-44)

Palestina merupakan sebuah wilayah yang terletak di bagian barat benua Asia dan bagian pantai timur Laut Tengah. Palestina terletak di posisi yang sangat strategis, karena dianggap sebagai penghubung antara benua Asia dan Afrika.

Di samping itu, Palestina juga sebagai pusat pertemuan wilayah dunia Islam. Berbicara mengenai Palestina, tentunya tidak terlepas dari berbagai macam konflik yang dimilikinya. Salah satu di antaranya ialah konflik Palestina dan Israel yang telah berlangsung selama kurang lebih 60 tahun hingga saat ini tak kunjung menampakkan benang merah perdamaian di antara kedua belah pihak.

Konon, konflik antara Palestina dan Israel ini dipicu oleh adanya perebutan wilayah. Dalam hal perebutan wilayah ini, masing-masing kedua belah pihak mengklaim bahwa tanah suci Palestina merupakan tanah milik mereka. Bagi Israel sendiri, wilayah Palestina merupakan “Tanah yang dijanjikan (The Promised land)”  oleh Tuhan kepadanya melalui perantara nenek moyang mereka.

Sesungguhnya hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 21 bahwasanya Nabi Musa menyeruh kepada kaumnya (Bani Israel) untuk masuk ke tanah suci Palestina, di mana tanah ini merupakan tanah yang telah ditentukan oleh Tuhan bagi mereka. Memang benar adanya perjanjian tersebut, tetapi perlu diketahui bahwasanya setelah Bani Israel diberikan segala macam kenikmatan oleh Tuhan, mereka ingkar dan berpaling dari menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Mereka malah menyembah patung anak sapi betina, sehingga dengan kejadian tersebut Tuhan murka kepada mereka, lalu mengusirnya keluar dari tanah suci yang telah dijanjikan tersebut.

Selain itu, ada beberapa mitos yang melegalisasi kedatangan bangsa Israel ke Palestina, yaitu mitos bahwa Palestina adalah negeri tanpa bangsa untuk bangsa tanpa negeri, mitos demokrasi bahwa Israel kelak merupakan satu-satunya negara demokrasi di Timur Tengah, mitos keamanan bahwa Israel dipaksa menghadapi ancaman besar dari negara-negara Arab sehingga menjadi penggerak kebijakan luar negeri Israel, dan mitos holocaust bahwa Israel adalah pewaris beban moral dari korban holocaust yang dilakukan oleh Nazi Jerman kepadanya.

Mitos holocaust ini juga menjadi sandaran historis yang menggerakkan bangsa Israel untuk mendapatkan wilayah Palestina. Dari peristiwa holocoust tersebut, mereka merasa bahwa mereka mengalami penindasan dan perilaku yang sangat tidak manusiawi, sehingga mengharuskan mereka untuk kembali ke tanah zion yang merupakan tanah yang dijanjikan oleh Tuhan kepada mereka sebelum berdiaspora.

Seperti halnya bangsa Israel yang melihat pentingnya wilayah Palestina dari aspek teologis, demikian pula bangsa Arab memandang Palestina, yang memiliki status signifikan bagi umat Muslim. Arti penting Palestina bagi bangsa Arab, yaitu wilayah Palestina merupakan wilayah yang diberkati oleh Allah SWT dan sebagai tempat Isra’ Rasulullah SAW dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha, sebagaimana dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 1, Palestina merupakan daerah para Nabi, di dalam hadits Sahih riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah dikatakan bahwa Baitul Maqdis (Yerussalem) merupakan bumi tempat berkumpul dan dihadapkan kembali semua manusia, dan Negeri Syam, di mana Palestina adalah bagian darinya, merupakan tempat berdomisilinya Darul Islam, yaitu di saat terjadinya fitnah dan malapetaka besar di akhir zaman.

Berdasarkan aspek teologis di atas, maka sudah cukup jelas landasan substansial bagi bangsa Arab Palestina untuk mempertahankan Palestina dari klaim Yahudi. Tetapi di sisi lain, paradigma kaum Zionis yang berasal dari pijakan sejarah dan agama telah mengabaikan keberadaan bangsa Arab yang telah ada di Palestina. Pengaburan kaum Zionis terhadap realitas keberadaan bangsa Palestina inilah yang menyebabkan benturan idealisme hingga menimbulkan penentangan. Ideolegi bangsa Israel terhadap konsep tanah perjanjian sangat kental, sehingga mengesampingkan aspek-aspek moral dalam memperoleh tanah Palestina. Atas dasar kekuatan pandangan masing-masing terhadap wilayah Palestina, maka kedua belah pihak berjuang untuk memperoleh kepentingannya hingga saat ini.

Lalu timbul sebuah pertanyaan yang sangat menarik dalam benak kita, “Sampai kapan konflik Palestina dan Israel ini akan berlangsung?”

Jika di antara kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah dan masing-masing bersikeras memperjuangkan apa yang telah menjadi kepentingannya, maka tentu saja hal ini akan berlangsung sampai di mana tidak ada lagi kehidupan di muka bumi yang fana ini.

Pada hari itu, tidak ada lagi perang, tidak ada lagi penindasan, dan tidak ada lagi kekuasaan selain kekuasaan-Nya. Dia-lah yang menguasai segala apa yang ada di muka bumi ini, maka dari itu tidak ada yang berhak untuk saling mengklaim bahwa tanah ini adalah milikku, semua adalah milik-Nya karena Dia-lah yang Maha Memiliki atas segalanya. ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*