Home » Article and Analysis » Jalur Sutera Minyak di Balik Konflik Suriah » 4823 views

Jalur Sutera Minyak di Balik Konflik Suriah

Oleh: Tia Mariatul Kibtiah, Ketua Divisi Ekonomi Politik Timur Tengah ISMES

Konflik Timur Tengah tak ada habisnya. Dari masa ke masa, kawasan ini selalu dilanda konflik berkepanjangan. Belum usai pergolakan politik di Mesir antara militer dibawah pimpinan Abdel Fattah al-Sisi menggulingkan Presiden terpilih Muhamad Mursi, kini Suriah terus mengalami konflik panjang tanpa solusi. Konflik ini dimulai pada 26 Januari Tahun 2011. Presiden Suriah Bashar al-Assad dianggap sebagai penguasa otoriter yang haus kekuasaan dibawah naungan Partai Ba’ath. Ada beberapa point yang dituntut oposisi Suriah yaitu pengunduran diri Presiden Bashar al-Assad, penghentian rezimnya karena sudah menguasai Suriah hampir lima dekade dan menggantinya dengan sistem pemerintahan Islam dibawah naungan khilafah. Awalnya Assad mengangap sepele kelompok oposisi ini. Namun perlahan tapi pasti, oposisi Suriah kian menguat dan Assad pun langsung menggunakan militer untuk meredam gejolak yang mengancam kedudukannya. Banyak warga sipil tak berdosa menjadi korban bombardir Assad atas rakyatnya sendiri.

Oposisi Assad makin menguat ketika mendapat dukungan dari Amerika Serikat. Dalam pernyataannya di beberapa media, Presiden Amerika Serikat Barack Obama berulang kali mengatakan bahwa Washington mendukung pemberontakan di Suriah untuk menggulingkan Assad. Presiden Obama mengatakan:

Our intelligence shows the Assad regime and its forces preparing to use chemical weapons, launching rockets in the highly populated suburbs of Damascus, and acknowledging that a chemical weapons attack took place. And all of this corroborates what the world can plainly see – hospitals overflowing with victims, terrible images of the dead (intelejen kami menunjukkan rejim Assad dan pasukannya sedang menyiapkan untuk menggunakan senjata kimia, meluncurkan roket di wilayah Damaskus yang sangat padat, dan itu menunjukkan lokasi serangan senjata kimia. Peristiwa ini meyakinkan apa yang bisa dunia lihat dengan jelas – ruma sakit penuh dengan korban, gambaran mayat yang memilukan).

Meski ada kekhawatiran di parlemen Amerika sendiri bahwa senjata yang akan dikirimkan ke pihak oposisi akan jatuh pada kaum ekstremis. Namun Obama meyakinkan kongres, bahwa AS akan dukung oposisi, bukan ekstremis. Amerika menyebut kaum oposisi ini bukan jihadis yang identik dengan gerakan Islam radikal tapi lebih ke kaum Islam moderat yakni kelompok Sunni yang ingin membebaskan dirinya dari keotoriteran serta kekejaman rezim Assad. Dukungan Amerika Serikat kian menguat tatkala Assad sudah berani bermain dengan senjata kimia. Ratusan rakyat tak berdosa Suriah menjadi korban atas senjata kimia Assad ini. Kongres pun setuju agar Amerika mendukung oposisi dengan cara mengirimkan bantuan senjata. Amerika memiliki beberapa kepentingan strategis, antara lain akses terhadap minyak (access to oil). Lesser, Nardulli, dan Arghavan menyatakan bahwa “access to Middle Eastern oil in adequate amounts and at reasonable prices will almost certainly remain a vital interest (akses terhadap minyak Timur Tengah dalam jumlah yang cukup dan harga yang masuk akal akan tetap menjadi kepentingan utama)”.[i] Suriah adalah jalur strategis minyak dari Timur Tengah menuju Eropa dan Asia, selain menjadi salah satu exporter minyak dunia. Sebagaimana tampak di Gambar 1 bahwa Suriah telah menjadi jalur utama minyak di Timur Tengah. Meskipun saat ini jumlah kilang minyak sempat diproduksi jatuh akibat konflik atau perang sipil. Jalur pipa minyak masih aktif melewati Suriah dari Saudi Arabia ke Irak menuju Eropa dan Asia. Sebagian pipa minyak rusak akibat konflik dan perang baik di Irak maupun Suriah. Pemerintah Suriah saat ini jatuh produksi minyaknya akibat sebagian pusat produksi minyak berpusat di utara dan selatan yang dikuasai oleh oposisi, dan sebagian jatuh di tangan ISIS. Dikhawatirkan harga minyak menjadi tidak stabil jika kelompok pemberontak dan Jihadis mendapatkan kilang minyak yang besar. Tetapi ini juga kesempatan terbuka bagi dunia internasional untuk menjatuhkan kekuatan ISIS melalui permainan harga minyak. Saudi memiliki kekuasaan untuk memainkan ini. Per Januari 2014, Suriah kehilangan hidrokarbon sejumlah 12 milyar dollar baik secara langsung akibat kerusakan kilang minyak, alat produksi maupun karena faktor tidak langsung, kehilangan ekspor.

Gambar 1. Jalur Minyak yang Melewati Suriah.

Artikel ini akan mengkaji politik minyak dibalik dinamika konflik Suriah dan bagaimana oposisi (termasuk didalamnya kelompok Jihadis) didukung oleh Amerika Serikat beserta sekutunya. Metodologi riset dalam penulisan artikel ini adalah kualitatif, dengan mengandalkan wawancara dan data. Artikel ini berasal dari wawancara beberapa ahli Timur Tengah antara 2012-2013 dan analisis data. Artikel terbagi menjadi tiga pokok bahasan. Pertama, peran Amerika Serikat dalam konflik Suriah. Kedua, peran oposisi di Suriah dan bagaimana kelompok Jihadis Indonesia terlibat dalam konflik Suriah. Ketiga, politik minyak dalam konflik Suriah. Argumen artikel ini adalah bahwa kuatnya dukungan Barat khususnya Amerika Serikat dalam gerakan oposisi menggulingkan rejim Assad lebih dari sekadar demokratisasi. Ada alasan ekonomis, terutama politik minyak dalam operasi perubahan rejim di Suriah. Perlu juga mendapat perhatian bagaimana masa depan Suriah jika oposisi yang berasal dari beragam kelompok mengambil alih pemerintahan Suriah.

Amerika Serikat dalam Rejim Assad
Garis politik Amerika Serikat dalam sejarah Suriah mengalami dinamika pasang surut dukungan, kadang dekat dan kadang jauh.[ii] Kemesraan Amerika dengan rezim Suriah ini diawali pada Tahun 1949 dimana Amerika melalui CIA terus mendukung kudeta militer di Suriah secara terus menerus melawan pesaingnya dari negara-negara Eropa yang berlangsung selama dua dekade. Berikutnya pada saat Hafeez al-Assad (ayah Bashar al-Assad) menjabat sebagai menteri pertahanan yang menarik pasukannya dari Dataran Tinggi Golan dan memberikan peluang pada Israel untuk menguasai Golan, mendapat apresiasi dari Amerika Serikat. Maka sebagai imbalan, AS mendukung Suriah melalui resoulsi PBB nomor 242 tahun 1967 agar Suriah menguasai kawasan Golan dari pendudukan Israel. Pada Tahun 1973, Presiden Amerika Serikat yang seharusnya mendukung Israel dan menetapkan sanksi-sanksi atas Suriah malah melakukan kunjungan ke Damaskus. Amerika juga merestui pendudukan Suriah atas Lebanon pada Tahun 1976. Dukungan balik juga dilakukan Suriah atas Amerika Serikat ketika melakukan invasi militer ke Irak, bahkan ikut mengirimkan 14.500 pasukan. Suriah juga menerima AS sebagai mediator perselisihan negaranya dengan Israel. Ketika terjadi agresi Irak ke Kuwait, Suriah juga membantu Amerika Serikat dalam melindungi Saudi Arabia. Tetapi hubungan mulai menurun pada masa Presiden Clinton akibat kebijakan Amerika yang terlalu menguntungkan Israel.

Namun pada konflik Suriah di era modern ini, sikap Amerika justru berbalik dengan tegas mendukung oposisi Suriah, berani menjanjikan pengiriman senjata ke oposisi dan menegur keras rezim Bashar al-Assad karena Assad menggunakan senjata kimia dalam perang. Obama mengecam Assad dan meminta sang presiden mundur. Meski penggunaan senjata pemusnah masal itu sempat dibantah kelompok Assad. Menurut kelompok Assad, Amerika dituduh melakukan kebohongan publik karena untuk memuluskan pengiriman senjata ke pihak oposisi. Kebijakan politik Amerika yang kerap berubah dan bersifat dualisme ini sebenarnya bukan hal aneh. Ia sering melakukan kebijakan standar gandanya untuk daerah konflik terutama kawasan Timur Tengah. Amerika sadar betul, kawasan ini berdarah “panas” yang sering memicu konflik, baik itu antar negara ataupun perang saudara. Seperti yang di terapkan Washington pada Irak di masa Saddam Hussain. Amerika pada masa Presiden George Walker Bush begitu mesra dan melakukan hubungan sangat baik dengan Saddam. Amerika membantu Irak melakukan invasi ke Iran pasca revolusi Iran yang menumbangkan sekutu Amerika, Reza Shah Pahlevi. Tumbangnya Pahlevi membuat Amerika kesulitan menguasai minyak Iran. Akhirnya mendekati Saddam untuk menyerang Iran yang menyebabkan korban ribuan jiwa pada tahun 1980-1988. Irak pun mengalami kerugian besar akibat perang ini. Perekonomian Irak merosot tajam. Rakyat Irak menderita dengan kondisi ini. Muncul oposisi di Irak untuk meruntuhkan kekuasaan rezim Saddam. Kekalahan perang Irak atas Iran menjadikan Amerika berkhianat. Amerika yang semula memasok senjata Irak, malah berbalik menuduh Saddam atas penggunaan senjata kimia pemusnah massal. Padahal diduga, Amerika-lah yang memasok senjata kimia tersebut. Hingga Saddam dibunuh pada Tahun 2006, tuduhan Amerika tidak terbukti. Akhirnya, Amerika pula yang menggiring Saddam putra Tikrit ke tiang gantungan.

Politik luar negeri Amerika yang berstandar ganda ini tak lain adalah karena demi kelancaran pasokan minyak Timur Tengah ke negaranya. Menurut Alwi Shihab, mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, bahwa minyak adalah alasan paling kuat dibalik konflik Suriah. Pasokan minyak diarahkan lebih mudah aksesnya bagi negara Barat, khususnya Amerika. Amerika merupakan negara konsumen minyak nomor satu di dunia. Perkiraan konsumsi BBM (Bahan Bakar Minyak) Amerika adalah sekitar 19,150 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan domestik dalam negeri. Beberapa negara di Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil minyak sudah dikuasainya. Saudi Arabia sudah menjadi patner setia dalam bisnis minyak ini. Sudah tak bisa dibedakan mana “tuan” dan mana “majikan” antara Saudi Arabia dan Amerika Serikat. Namun ada beberapa negara Timur Tengah yang tak bisa tunduk atas keinginan negara adidaya ini. Diantaranya adalah Iran pasca revolusi dan Libya. Tentu saja ini dimanfaatkan oleh negara konsumen minyak terbesar dunia lainnya, seperti China. Negara yang kini tengah berkembang pesat di semua sektor ini, membutuhkan minyak sekitar 9,400 juta barel per hari. China pun segera merapat ke Iran. Walaupun Iran bukan negara penghasil minyak terbesar di Timur tengah, hubungan diplomatik yang baik dengan Iran serta minimnya pengaruh Amerika terutama pasca revolusi dibawah Khomaini, membuat China leluasa dan fokus dengan Iran dalam bisnis minyak. Ditambah lagi kepercayaan diantara kedua belah pihak, berkembang terus ke arah lebih positif.

Hubungan kerjasama China-Iran sebetulnya sudah lama berlangsung. Tetapi hubungan dalam perminyakan baru mulai pada beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2003, tercatat impor minyak China dari Iran sebesar 13 persen dari seluruh total impornya. Diplomasi minyak China di Iran menggunakan cara-cara yang cukup baik dan tidak menampakkan gejala-gejala penggunaan kekuatan militer untuk mengamankan ladang-ladang minyak seperti yang kerap dilakukan Amerika serikat dan beberapa negara Eropa di Timur Tengah. Pada Oktober 2006, China dan Iran secara resmi menandatangani perjanjian kerjasama untuk pengembangan ladang minyak Iran di daerah Yadavaran. Kerjasama kedua negara ini melibatkan Sinopec selaku perusahaan minyak negara milik China yang telah melakukan kesepakatan untuk membeli 250 juta ton gas alam cair (LNG) dalam jangka waktu 25 tahun dan juga Iran akan mengekspor minyak sebanyak 180 ribu barel minyak per hari setelah Sinopec selesai mengembangkan pembangunan ladang minyak di Yadavaran. Nilai kerjasama tersebut menghasilkan kerjasama luar biasa besar yaitu senilai 100 miliar dollar AS. Kerjasama kedua negara ini bisa dikatakan kerjasama yang bersifat simbiosis mutualisme, dimana China membutuhkan minyak dan gas dari Iran, di lain pihak Iran membutuhkan dukungan politik dan dana yang besar dari China untuk meneruskan engembangan program nuklirnya. Kedua negara inipun sama-sama mengangkat isu kedaulatan, dalam hal ini China mendukung Iran dalam menghadapi sikap Amerika berkaitan dengan program nuklir Iran.

Tidak hanya China yang menjadi sandungan Amerika menguasai seluruh negara Timur Tengah penghasil minyak. Tapi juga Rusia. Rusia merupakan negara keempat konsumen minyak terbesar dunia. Negara ini mempunyai ekonomi yang memungkinkan warganya untuk membeli berbagai jenis mesin yang menggunakan BBM. Negara ini juga menghasilkan produk yang berbeda dan memiliki jumlah industri yang tinggi. Perkiraan konsumsi BBM harian Rusia mencapai 3,199 juta barel per hari. Untuk memenuhi kebtuhan minyak dalam negerinya, sama seperti China, Rusia memilih negara yang bersebrangan dengan Amerika yaitu Iran. Menteri Perminyakan RII (Republik Islam Iran) Bijan Namdar Zanganeh mengatakan, Teheran dan Moskow akan mencapai kesepakatan final terkait kerjasama ekonomi dan perdagangan yang lebih luas. Iran bertekad untuk meningkatkan volume transaksi ekonomi dengan Rusia dibawah kesepakatan jangka panjang. Saat ini, volume perdagangan Iran-Rusia mencapai 5 miliar dollar AS per tahun, bahkan para ekonom dunia memprediksi, kedua negara ini akan terus meningkatkan kerjasama ekonominya mencapai empat kali lipat atau sekitar 20 miliar dollar AS per tahun.

Berkaitan dengan minyak, sudah jelas peta politik dunia dalam kepentingan mengamankan jalur minyak dari Timur Tengah ke Asia dan Eropa, selain hasil minyak Suriah yang hampir terpuruk akibat konflik kepentingan. Menurut jurnal Oil & Gas dinyatakan bahwa Suriah memiliki potensi cadangan minyak sebesar 2.5 milliar barel per Januari 2014. Tetapi sejak 2011, Suriah mengalami kemunduran akibat perang sipil, dan paling utama boikot oleh dunia international. Akibat boikot ini, ada 3.6 milyar barrel untuk Eropa yang tidak bisa dikirim karena sangsi. Suriah bias memroduksi minyak 400.000 barel perhari antara 2008 sampai 2010. Sejak 2011, Suriah hanya bisa memroduksi minyak sebesar 25.000 barel perhari. Assad merupakan Presiden di Timur Tengah yang berani berkata “tidak” terhadap Amerika. Berbeda dengan ayahnya Hafeez al-Assad yang sempat membina hubungan baik dengan Amerika Serikat, Bashar al-Assad malah melakukan tindakan membangkang terutama pasca invasi Amerika ke Irak tahun 2003.  Ada perbedaan pendapat menyikapi isu Lebanon dan Palestina setelah rezim Saddam tumbang. Perbedaaan itu mencapai puncaknya setelah Menteri Lebanon Rafik Hariri yang pro Barat tewas pada Tahun 2005. Suriah diduga terlibat pembunuhan Hariri. Hal inilah yang menjadikan Suriah dekat dengan Iran. Ketika Suriah bergejolak pada Maret Tahun 2011, Amerika Serikat tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Bagi Amerika, siapapun yang berkuasa entah itu Sunni atau Syiah tak jadi masalah. Amerika akan kesulitan menaklukkan minyak Suriah selama Assad yang berkuasa karena pemimpin negara ini sudah terlanjur menjalin hubungan baik dengan Iran yang notabene merupakan musuh bebuyutan Amerika Serikat. Berbagai carapun dilakukan untuk menumbangkan Assad asal dia bisa menguasai Suriah. Akhirnya atas nama kemanusiaan, Amerika menyatakan dukungannya terhadap oposisi bahkan berniat menyerang Suriah untuk menghancurkan kelompok Assad.

Oposisi Assad dan Politik Minyak
Oposisi Suriah setidaknya terdiri dari tiga bagian kelompok milisi: Free Syrian Army (FSA), Jabhat Nusra (JN) dan Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS). Panjangnya konflik dan perang melawan rejim Assad membuat mereka bergerak menguasai sumberdaya alam, khususnya sumur-sumur minyak yang tersebar di Syria. Mereka menjual produksi sumur-sumur minyak ini untuk kelangsungan hidup milisi, pembelian senjata paling mutakhir, logistik dan kebutuhan pemerintahan opsisi yang mereka bentuk. Melalui minyak ini ISIS misalnya sekarang mampu membangun pemerintahan yang holistik di tiga provinsi, yaitu di Provinsi Aleppo, al-Hasaka, Raqqa yang mencakup “agama, pendidikan, hukum, keamanan, kemanusiaan dan infrastruktur”. Selanjutnya, JN berhasil menguasai beberapa sumur minyak yang strategis untuk menghidupi milisinya. JN mengalami kesulitan ketika terjadi perpecahan dan ISIS. Fenomena menarik yaitu proses penjualan hasil eksplorasi yang mereka kuasai. JN menjual minyak kepada Damasks, rejim Asad. Demi kepentingan minyak, permusuhan pun bisa ditanggalkan. Bagaimana sikap oposisi terhadap kepentingan asing? Bagaimana sikap masyarakat Suriah terhadap Amerika Serikat?

Masyarakat Suriah sendiri terkotak-kotak menyikapi sikap Amerika yang hendak menyerang Suriah. Di Kota Damaskus, masyarakat tak suka dengan Amerika Serikat. Mereka bertekad, bila mendapat serangan dari Amerika, mereka akan berjuang mempertahankan Damaskus. Bahkan seorang warga sipil mengatakan, Damaskus merupakan benteng berduri bagi Amerika. Warga Damaskus yakin, senjata pemusnah masal Assad yang dituduhkan Amerika hanya alasan Amerika untuk menyerang Suriah. Oleh karena itu, warga Damaskus siap berjihad melawan Amerika jika Amerika menyerang negara mereka. Inilah bagi pendukung Assad arti jihad yang sesungguhnya. Membela tanah air dari serangan asing yang akan menghancurkan negara mereka.

Lain di Damaskus, lain pula di wilayah lain di Suriah. Di Aleppo, oposisi bergerak sangat gigih melawan pasukan Assad. Banyak sudah rakyat sipil menjadi korban dalam pertempuran antara pasukan Assad dan oposisi. Para oposisi juga tidak keberatan jika Amerika datang menyerang Suriah. Tujuannya hanya satu, menumbangkan rezim Assad dan mengganti dengan pemerintahan Islam model “khilafah”. Bagi kelompok oposisi, sebelum AS menyerangpun, Assad sudah banyak melakukan kekejaman terhadap rakyat Suriah. Ada sekitar 100 ribu orang tewas, jutaan orang kehilangan tempat tinggal, bahkan tak sedikit yang terluka. Kelompok oposisi Suriah sendiri terdiri dari berbagai kelompok. Ada yang disebut pasukan Suriah merdeka atau Free Syrian Army (FSA). Beranggotakan sekitar 80.000 orang, FSA ini diperkuat oleh para perwira militer yang membelot dari pasukan pemerintah. Pemimpinnya bernama Salim Idris, adalah jenderal Angkatan Darat Suriah sebelum membelot pada Juli 2012. Idris pun ikut membentuk Koalisi Pasukan Revolusioner dan Oposisi Suriah pada November 2012. Idris telah berdinas di Angkatan Darat Suriah selama 20 tahun lebih. Dalam wawancaranya dengan The New York Times, satu peristiwa tragis membuatnya membelot. Pasukan pemerintah pada Mei 2012 menyerang Desa al-Mubarakiyah guna menghabisi para pemberontak. Itu adalah desa tempat Idris dan delapan saudaranya dibesarkan oleh orangtua mereka. Dia mengontak sesama jenderal yang memimpin serangan, agar menghentikan penyerbuan itu. Tapi tidak ada yang menanggapi. Pasukan pemerintah membunuh tiga orang, dan menangkap 70 lainnya. Termasuk saudara ipar Idris satu-satunya. Dia saat itu tidak pernah dibebaskan. Idris yang saat itu menjadi kepala akademi militer di Aleppo, tak percaya dengan kabar itu. Tapi dia tidak berani mengutarakannya kepada sesama perwira. Batin Idris tertekan. Dia pun membelot. Dia menguras tabungan, yang disiapkan untuk membiayai rumah baru bila pensiun, untuk membiayai pasukan pemberontak. Namun, Idris tidak sendiri. Para perwira lain mengikuti langkahnya itu. Sejak bergabung ke FSA, Idris aktif melobi Aerika termasuk ke Presiden Barack Obama, Menteri Luar Negeri John Kerry dan Dewan Keamanan PBB agar menggugah masyarakat dunia untuk turun tangan dan membantu kelompok anti Assad yang dia pimpin. Itu sebabnya Idris kini jadi mitra andalan Amerika.

Selain kelompok Idris yang sakit hati karena kampungnya dibantai Assad, ada kelompok lain yang menjadi lawan Assad. Mereka adalah kelompok militan berhaluan ekstrem Jabhat al-Nusra yang dipimpin oleh Abu Mohammed al-Golani. Kelompok ini punya ribuan pendukung dan berafiliasi dengan al-Qaida. AS pernah mencatatnya sebagai kelompok teroris sejak Desember 2012. Selain itu, kalangan politisi di Amerika juga mencurigai milisi tertentu yang menjadi sekutu FSA dalam memerangi pasukan Assad. Kelompok itu adalah Brigade Tawhid. Seperti dikutip NBC News, kelompok ini terkait erat dengan al-Nusra. Al-Nusra sendiri adalah kepanjangan tangan dari Daulah Islamiyah Irak. Hal itu sudah diakui langsung oleh pimpinan Daulah Islamiyah Irak melalui rekaman audio berdurasi 21:30 menit, Abu Bakar al-Husaini al-Baghdadi. Pada rekaman tersebut al-Baghdadi mengumumkan bahwa kelompok jihad yang beroperasi di daerah Suriah, Jabhat al-Nusra adalah perpanjangan dari Daulah Islamiyah Irak. Abu Bakar al-Baghdadi juga menegaskan bahwa Jabhat al Nusra menerima biaya operasional dari Daulah Islamiyah Irak. Dalam hal ini, dia mengumumkan bahwa nama Daulah Islamiyah Irak dan Jabhat al Nusrah tidak digunakan lagi, melainkan secara resmi penggabungan dua kelompok tersebut dibawah Daulah Islamiyah Irak dan Syam.[v] Pengakuan dari sang pimpinan inilah yang menggelindingkan roda jihad di seluruh dunia mulai dari Eropa, Asia, dan Amerika Utara. Mereka memiliki misi bunuh diri dalam barisan jihad. Menurut Thomas Hegghammer, berdasarkan Penelitian Pertahanan Norwegia di Oslo, ia telah mempelajari jumlah orang asing Al-Qaeda di Suriah yang berasal dari Barat yang terus bertambah. Mereka berasal dari hasil konversi imigran Perancis, Inggris, Italia dan bahkan Australia. Usia rata-rata yaitu 23 tahun hingga 26 tahun. Sebagian besar analis memperkirakan 500-700 orang masuk dalam ” brigade internasional ” telah tewas berjuang di Suriah. Saat ini ada lebih dari 5.000 pejuang asing Sunni di negara yang dilanda perang, termasuk lebih dari 1.000 dari Barat.

Politik Minyak dan Konflik Suriah
Pada tataran petinggi dari para jihadis Indonesia yang memberangkatkan masa ke Suriah, mereka mengerti tujuan sebenarnya dari misi tersebut. Namun dari arus grass root, yang mereka pahami adalah mengangkat senjata berjihad untuk membunuh Syiah yang dianggap kafir (diluar Islam). Hal itu dibenarkan peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Hamdan Basyar. Saat ditanya melalui jalur mana mereka berangkat ke Suriah, arus grass root kelompok Islam radikal itu tidak mengerti sama sekali. Inilah yang seharusnya dipahami para jihadis sebelum memutuskan berangkat ke Suriah. Media nasional di Indonesiapun berkewajiban untuk mempublikasikan apa yang sebenarnya terjadi di Suriah secara terang benderang. Sehingga dengan publikasi yang jelas, diharapkan, mereka yang pergi ke Suriah paham untuk apa dan untuk siapa mereka berjihad.

Banyak data  yang terungkap dibalik konflik Suriah. Selain dijadikan ajang pelatihan militer bagi kelompk ekstremis, bisnis senjata dunia, penggalangan dana oleh organisasi Islam radikal, konflik ini merupakan konflik yang sengaja dibuat karena persoalan minyak atau politik minyak dunia. Peneliti LIPI  Hamdan Basyar mengatakan, adanya isu perang Sunni dan Syiah di Suriah bisa saja dihembuskan orang dalam negeri Indonesia sendiri dengan alasan politik. Selama ini isu Syiah dan Sunni merupakan isu yang sangat sensitif dibahas di Indonesia. Berdasarkan wawancara sebuah media online dengan mahasiswa Indonesia dari organisasi NU (Nahdatul Ulama), yang tidak mau disebutkan identitasnya dan saat ini sedang kuliah di  Om Durman University cabang Mujamma’ Syekh Ahmad Kuftaroo Damaskus  jurusan Ushul Fiqh Suriah mengatakan, bahwa Suriah merupakan negara berpaham sekuler. Semua kepercayaan boleh tumbuh.  Bahkan partai komunis juga ada di Suriah. Tetapi pemerintah melarang agama diseret  ke dalam ranah politik. Oleh karena itu, tidak diperkenankan agama atau kesukuan menjadi dasar sebuah partai. Walaupun demikian, fiqh Hanafi menjadi salah satu sumber hukum utama dalam hukum akhwal syakhsiyyah di Suriah. Di Damaskus bertebaran puluhan Tsanawiyah Syar’iyah (setingkat MTs dan Madrasah Aliyah Keagamaan) dan 5 ma’had syar’i (mirip pondok pesantren) di bawah kementrian Awqaf milik Sunni. Di Damaskus juga terdapat satu hauzah (pendidikan tinggi) milik Syiah. Namun perbedaan tersebut selama ini tidak pernah menimbulkan gesekan apapun seperti yang terjadi di Indonesia. Kerukunan di Suriah tidak diatur oleh pemerintah, namun oleh tokoh agama masing-masing dan setiap individu itu sendiri. Maka ketika Natal tiba, ada deretan kursi diluar gereja yang ditata kaum muslimin. Kursi-kursi  itu memang disediakan untuk kaum muslimin yang ingin mengucapkan selamat kepada umat Kristiani setelah melakukan Misa. Semboyan di Suriah adalah al din lillah; wal wathan li al jami’ yang artinya agama untuk Allah, negara untuk masyarakat. Selain itu, sikap toleransi di Suriah cukup tinggi dengan saling menolong antar agama. Ketika tokoh besar Islam meninggal, semua gereja-gereja di Damaskus membunyikan lonceng sebagai tanda belasungkawa. Tokoh-tokoh  gereja datang dan memberikan  sambutan di majelis ta’ziyah ulama-ulama. Mereka hadir, tapi tidak ada yang saling mengikuti peribadatan masing-masing. Sementara, pembangunan dan pemeliharaan Masjid dan sekolah-sekolah keagamaan dibiayai oleh masyarakat lewat yayasan-yayasan sosial keagamaan. Sedangkan imam, khatib dan penjaga Masjid digaji oleh pemerintah. Kecuali Masjid-Masjid dan situs yang termasuk dalam cagar budaya pemerintah, maka biaya pemeliharaan dan operasional ditanggung negara, seperti  Masjid Agung Umawi, Gereja St Paulus, benteng hingga museum. Mahasiswa dari NU itu juga membantah, bahwa di Raqqa masyarakatnya sudah menjalankan syariat Islam dalam berpakaian seperti memakai cadar dan burqa. Rakyat Suriah religius tapi mereka juga  moderat, dalam artian setiap orang berhak dan bebas menjalankan keyakinannya masing-masing. Di Suriah bebas pakai  cadar atau jeans. Yang menentukan etika dalam berpakaian dalam hidup bermasyarakat adalah para agamawan bukan pemerintah. Lazimnya dalam masyarakat, pasti ada yang berakhlak baik serta peduli aturan dan syariat agama, dan ada juga yang tidak. Tapi yang pasti, pengajian dan Masjid cukup ramai didatangi para jamaah. Jauh berbeda dengan Lebanon dan yang sering mengunjungi Masjid  kebanyakan merupakan anak-anak muda Suriah.

Dalam wawancara tersebut, mahasiswa Indonesia itupun menjelaskan soal konflik yang terjadi di Suriah. Konflik itu bukan perseteruan antara Sunni-Syiah, namun lebih ke persoalan politik yang melibatkan dalam dan luar negeri. Data yang dikeluarkan oleh ICSR yaitu lembaga yang khusus mengkaji gerakan radikal internasional yang berbasis di King College London, bahwa salah satu yang melawan pemerintahan Assad adalah orang-orang Palestina. Mereka adalah golongan HAMAS yang diketahui berideologi Ikhwanul Muslimin, baik Ikhwanul Muslimin di Suriah, Mesir, Turki, Qatar atau di Indonesia.  Orang yang paham  politik dan pernah hidup di Suriah akan mengerti dengan kondisi pergolakan Suriah saat ini. Ada beberapa daerah seperti Daraa, Allepo, Homs, Hama, Raqqa, dan Deir Zur yang terus dilanda perang. Aleppo adalah paru-paru  ekonomi. Di situ ribuan pabrik mulai yang berskala lokal hingga internasional bisa ditemui. Kini Allepo sebagian besar telah rata dengan tanah. Mesin mesin diselundupkan ke Turki untuk di jual. Turki berbatasan langsung dengan Suriah di wilayah Allepo, Idlib, Lattakia, Deir Zur. Sedangkan Homs dan Hama berbatasan langsung dengan Lebanon. Deirzur berbatasan dengan Irak. Begitu juga halnya dengan Hasakeh. Sedangkan Daraa’ berbatasan langsung dengan Yordania. Ditambah lagi dengan jumlah minyak yang melimpah di wilayah Deir Zur, Hasakeh dan Homs. Para oposisi ini sengaja menghancurkan tempat-tempat strategis di Suriah. Suriah merupakan tempat yang strategis bagi perjalanan pipa minyak Amerika dan sekutunya. Amerika berencana membuat jalur pipa minyak dari Irak ke Laut Tengah agar lebih mudah dibawa ke Eropa tanpa harus melewati Teluk Persia yang pada akhirnya harus berurusan dengan Iran. Pipa minyak ini juga bisa mempersingkat jalur tanpa harus memutar ke Laut Merah, Terusan Suez baru ke Laut Tengah. Suriah lah negara paling strategis yang bertetangga dengan Irak yang akan dilalui oleh pipa-pipa Amerika dan sekutunya. Rencananya, pipa tersebut akan bermuara di pelabuhan Lattakia. Pengamat politik dari Universitas München Michael Meyer pun berpendapat yang sama mengenai adanya kemungkinan politik minyak dibalik konflik Suriah. Sebab Suriah punya akses langsung ke Laut Tengah. Posisi ini membuat Suriah sangat penting bagi Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon.

Maka tak heran banyak pihak luar mulai dari kawasan Timur Tengah sendiri seperti Saud Arabia, Iran, hingga Rusia, Amerika dan Jerman sibuk berkomentar memberikan sikap tegas atas perang Suriah. Gedung Putih mengumumkan bahwa Amerika akan memberikan bantuan langsung kepada pemberontak Suriah. Diduga sikap ini karena Amerika sudah tak pro lagi terhadap Partai Baath dibawah rezim Assad. Baath sudah didominasi oleh pihak Rusia dan Iran dengan adanya intervensi langsung dari Hizbullah. Peta politik negara-negara ini jelas. Saudi Arabia yang merupakan sekutu Amerika Serikat serius memberikan dukungannya teradap kaum pemberontak dengan mengirimkan bantuan senjata dan alat-alat berat. Saudi mengirimkan kendaraan lapis baja dan senapan mesin secara resmi diterima oleh kelompok pemberontak Free Syrian Army (FSA). Selain bantuan senjata, Arab Saudi juga mengirim bantuan dana. Para pejuang FSA diberitakan menerima pembayaran gaji dalam mata uang dollar atau euro. Gaji tentara pemberontak lebih tinggi dari gaji rata-rata pegawai pemerintah. Dengan pembayaran itu, Arab Saudi berharap akan lebih banyak pegawai negeri Suriah yang beralih mendukung kelompok pemberontak.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan Saudi semangat terlibat dalam konflik Suriah bahkan ikut dalam perjanjian di Geneva, Swiss. Pertama, karena Saudi sekutu Amerika yang akan terus mengikuti apa yang dilakukan Amerika. Kedua, Saudi memang ingin memperkuat pengaruhnya di Suriah. Menurut pengamat politik Anna Sunik dari Institut GIGA di Hamburg yang melakukan penelitian tentang negara-negara di Jazirah Arab berpendapat, Suriah sekarang memang menjadi ajang pertarungan bagi kekuatan-kekuatan besar di kawasan itu. Saudi Arabia yang berhaluan Sunni, dan Iran yang berhaluan Syiah. Sejak revolusi Islam di Iran tahun 1979,  Saudi Arabia memang ingin membendung pengaruh Iran. Menurut Sunik, pertentangan antara Iran dan Saudi Arabia merupakan persaingan dalam ideologi Islam. Arab Saudi yang menganut Islam Sunni ingin memperkuat pengaruh paham wahabi, sebuah aliran Islam yang sangat konservatif yang menjadi ideologi negara. Sementara di Iran, Islam Syiah menjadi agama negara dan haluan politiknya ditentukan oleh para Mullah dan pimpinan tertinggi agama. Rezim di Arab Saudi merasa terancam dengan adanya ideologi Islam alternatif yang diwakili oleh Iran. Mereka khawatir ada kelompok oposisi yang mencontoh model ini dan kemudian menggoyahkan kekuasaan keluarga kerajaan Al-Saud yang sudah berkuasa sejak tumbangnya masa Usmani hingga sekarang. Ketiga, Saudi Arabia merasa tersaingi oleh Iran dari segi penghasil minyak yang kini mendukung posisi Assad. Iran dan Saudi merupakan negara penghasil minyak terpenting dunia. Arab Saudi memiliki simpanan minyak terbesar, sedangkan Iran memiliki simpanan minyak ketiga terbesar di dunia. Saat ini, sebagian besar industri minyak Iran memang masih terbengkalai setelah terkena sanksi internasional puluhan tahun. Tapi Iran berambisi besar untuk membangkitkan lagi industri minyaknya. Pada pertemuan Davos, Presiden Iran Hassan Rouhani mengundang para investor Barat untuk melakukan investasi besar-besaran di negaranya. Rouhani yang garis politiknya berbeda dengan Ahmadi Nejad yakni lebih moderat, berbicara tegas dihadapan sekitar 2.500 peserta dari kalangan politik dan ekonomi dunia. Dia mengajak mereka perusahaan-perusahaan asing, terutama perusahaan energi besar, untuk melakukan investasi di Iran. Rouhani menyatakan harapannya bahwa Iran bisa berkembang menjadi salah satu dari sepuluh negara ekonomi terbesar dunia dalam 20 tahun mendatang. Ia mengatakan, Iran siap bekerjasama dengan semua negara untuk mencapai tujuan itu. Tentu saja ini menjadi ancaman bagi Saudi yang sudah lebih dulu bermitra dengan Barat.

Sementara untuk Rusia, bergeming tetap mendukung Assad karena diapun memiliki garis politik yang jelas. Rusia, Iran, ditambah China selalu merapat dalam satu barisan menghadapi gempuran Amerika dan sekutunya. Motivasi utama Rusia selain minyak adalah perdagangan senjata yang besar ke Suriah. Para pejabat Rusia tidak mau ambil resiko berpaling dari Assad. Kemungkinan konflik berkepanjangan ini akan menghancurkan  perekonomian Suriah. Butuh waktu panjang bagi Suriah dalam mengembalikan sebutan sebagai negara produsen minyak signifikan di Timur Tengah. Menurut Menteri Perminyakan Suriah Suleiman Al-Abbas mengatakan, sejak awal krisis Suriah, kerugian langsung di sektor sumber daya mineral dan minyak, naik jadi 502 miliar pound Suriah (tiga miliar dolar AS). Kerugian tersebut meliputi gas dan minyak yang terbuang dan dicuri serta kerusakan prasarana, instalasi, pipa saluran dan perlengkapan. Mengenai kerugian tak langsung, Menteri itu memperkirakan jumlahnya mencapai 19 miliar dolar AS. Pemerintah Suriah belum lama ini telah menaikkan harga bensin sampai 20 persen sebagai bagian dari langkah penghematannya guna memangkas biaya subsidi. Sektor perminyakan adalah tulang punggung ekonomi Suriah dengan jumlah hampir separuh dari total ekspor negeri itu. Namun sejak bentrokan meletus pada 2011, produksi minyak Suriah telah merosot sebab ladang minyak utamanya berada di daerah yang dikuasai gerilyawan di bagian timur laut dan digunakan secara keliru oleh gerilyawan. Tahun lalu, Suriah bahkan harus mengimpor minyak dengan nilai 1,7 miliar dolar AS untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Menurut pengamat Timur Tengah LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Hamdan Basyar mengatakan, konflik ini akan terus berkepanjangan. Ini terjadi karena “kebuntuan” komunikasi semua pihak ditambah kebingungan Amerika Serikat dalam menentukan sikap. Jika Amerika membantu oposisi, khawatir justru aliran ekstremis yang naik menggantikan posisi Bashar al-Assad. Jika ini terjadi, tentu sangat membahayakan Amerika Serikat. Tapi jika mendukung Bashar, Amerika juga khawatir dengan dominannya pengaruh Iran, China dan Rusia yang notabene bersebrangan secara politik dalam menguasai minyak Timur Tengah. ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*