Home » Article and Analysis » Islam di Buton » 1622 views

Islam di Buton

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Divisi Riset ISMES

Masyarakat Buton memiliki hubungan historis dengan Bugis, Makassar, dan Toraja di Selatan. Sementara dengan kesultanan Ternate dan Tidore di Timur. Keberagamaan masyarakat Buton justru dimulai dengan kontak kesultanan Ternate sejak awal. Bahkan pelantikan raja Buton muslim pertama mendapatkan restu dari Kesultanan Johor. Sementara ketika Arung Palakka memutuskan untuk keluar dari wilayah kerajaan Bone, maka wilayah yang dipilihnya justru wilayah kesultanan Buton. Catatan historis menunjukkan bahwa sejak dulu, masyarakat Buton sudah berinteraksi dengan pelbagai masyarakat dari wilayah yang berbeda-beda.

Kelembagaan pendidikan mendapatkan perjumpaan dengan masyarakat Arab dimana penamaan menggunakan istilah zawiyah. Lembaga pendidikan yang memiliki kemiripan dengan praktik keagamaan yang sebelumnya sudah didirikan di jazirah Arab. Zawiyah merupakan lembaga pendidikan yang menekankan kepada pembelajaran sufistik. Keberadaan lembaga pendidikan sufistik ini kemudian memberikan pengaruh dimana beberapa prinsip yang dipraktikkan masyarakat mengacu kepada prinsip-prinsip sufi.

Bekas pusat kerajaan Buton yang terletak di Baubau, sampai saat ini dapat ditemukan dengan warisan bekas kesultanan yang bertahan hingga kini. Wilayah seluas 23.375 menjadi catatan tersendiri dimana mendapat status sebagai benteng terluas tidak saja di Nusantara tetapi juga di dunia. Terdapat 12 lawa (pintu) yang menjadi akses dengan 16 baluara (meriam) untuk mengamankan benteng. Pada zamannya, benteng inilah salah satu yang terbaik sehingga menjadi tempat bertahan yang tidak terkalahkan. Bahkan, Portugis saat itu mengalami kesulitan untuk menguasai wilayah Buton karena tentara kesultanan melakukan perlawanan gigih.

Dampak antara zawiyah dan kontak dengan beragam budaya memberikan kesempatan kepada masyarakat Buton untuk senantiasa terbuka. Mereka kemudian dengan mudah menyerap nilai yang datang dari luar. Pada saat yang sama juga mengembangkan kearifan yang sudah diwarisi dari leluhur. Sehingga dengan perjumpaan tersebut pergaulan mereka meluas. Tidak sebatas pada kepulauan Sulawesi saja tetapi menjangkau wilayah sampai ke perairan Papua saat ini. Di masa lalu, mereka menjaga hubungan dengan kesultanan Ternate dan Tidore. Begitu juga dengan Gowa, Tallo, dan Bone. Bahkan memberikan “suaka politik” kepada Arung Palakka tanpa menyebabkan ketersinggungan punggawa kerajaan Gowa. Tidak saja di Nusantara, tetapi mereka sudah menjalin komunikasi dengan imperium Ostmaniyah, sehingga Sultan Buton secara tidak resmi disebut sebagai perwakilan kekhalifaan Ostmaniyah di Nusantara.

Pengislaman yang dilakukan Syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaeman pada Raja Wulio atau Halu Oleo, Sultan Buton yang kemudian bergelar Sultan Murhum, dipercayai berasal dari Patani, wilayah Thailand saat ini. Dalam versi yang lain disebut berasal dari Johor. Apapun itu adalnya, ini merupakan satu bukti bahwa interaksi dengan dunia luar sudah dilakukan dalam pelbagai urusan. Inilah yang menjadi faktor sehingga masyarakat muslim Buton sangat terbuka menerima kehadiran masyarakat luar tidak saja secara fisik tetapi juga pembaruan ide. Bahkan, mereka dengan mudah dapat menerima agama yang dianggapnya sebagai sebuah kebenaran.

Keberadaan masyarakat muslim Buton mengindikasikan bahwa masyarakat pesisir merupakan wilayah yang memiliki karakteristik tersendiri. Ini ditandai dengan kesediaan untuk menerima informasi, pada saat yang sama juga mengadopsi informasi yang diterimanya dan melakukan formulasi baru. Sebagaimana masyarakar Buton juga mengenal istilah sufi, seperti martabat tujuh. Memadukan antara kebijaksanaan tasawuf dengan tetap memegang keteguhan syariah. Potret ini mengukuhkan pendapat Nur Syam (2005) bahwa Islam pesisir merupakan tempat bersemainya perbedaan dan selanjutnya menyatu dalam formula yang mencerminkan keperluan masyarakat. ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*