Home » Article and Analysis » DUALISME BAHASA ARAB » 2072 views

DUALISME BAHASA ARAB

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Divisi Riset ISMES

Bahasa Arab menjadi bahasa dunia Islam, tidak hanya digunakan oleh kawasan Timur Tengah semata. Digunakan dari Maroko sampai Merauke. Bahkan 18 Desember diperingati khusus sebagai bahasa Arab ketika ditetapkan sebagai bahasa resmi Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). Bahasa Arab menempati posisi yang sangat istimewa seiring dengan menjadi pilihan untuk Alquran dan Hadis. Hanya saja, kadang kesakralan ini juga menjadi penghalang dalam hal-hal tertentu. Bahasa Arab menjadi bahasa bisnis, komunikasi sebagai bahasa lain, dan juga interaksi di kalangan muslim.

Bahasa Arab sebagai pilihan merupakan ketentuan Ilahiyah secara teologis. Namun demikian, kekayaan kosakata bahasa Arab menjadi sebuah tanda bahwa bahasa Arablah yang memang paling tepat untuk menjadi bahasa wahyu. Begitu pula saat Nabi Muhammad diutus, bahasa Arab saat itu mencapai puncak kejayaan dan kemasyhuran berupa seni dan kesastraan. Sehingga ketika bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa wahyu, inilah yang menjadi mukjzat tersendiri. Sehingga kemampuan sastrawan Arab tidak mampu untuk membentuk kalimat, bahkan kata yang “sekuat” kemampuan pesan-pesan wahyu.

Bahasa Arab juga berkaitan dengan nasionalisme bangsa Arab. Ketika kesadaran kebangsaan di tahun 1950-1960 mulai bangkit, terjadi pula kesadaran dan kebanggaan akan penggunaan bahasa Arab. Sekalipun itu bagi warga negara yang tidak memilih Islam sebagai agamanya. Bahasa Arab tidak hanya menjadi bahasa bagi seorang muslim tetapi bagi orang Arab juga. Sehingga dalam konteks ini, bahasa Arab merupakan bahasa yang dituturkan bukan saja terkait dengan identitas kemusliman tetapi di luar dari itu. Maka, dengan memperhatikan ini, bisa saja tidak bisa disepadankan antara Arab dan Islam karena keduanya merupakan identitas yang berbeda sama sekali. Penganut Yahudi dan Kristen yang bermukim di Timur Tengah juga menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ibdah mereka.

Tantangan berikutnya adalah bahasa Arab yang dipelajari berkaitan dengan kajian keislaman sepenuhnya menggunakan bahasa fusha. Sementara bahasa yang dituturkan masyarakat Arab sendiri adalah bahasa ammiyah sesuai dengan keperluan masing-masing wilayah. Bahasa Arab berkembang mengikuti dinamika masyarakat. Sehingga warga Arab yang tidak menekuni bahasa secara khusus, belum tentu terampil dalam berbahasa fusha. Dalam satu kesempatan, kami bertemu dengan keluarga yang menikmati masa bersama keluarga usai shalat maghrib dan menunggu shalat isya di masjidil haram. Ada kesempatan untuk berbicara dengan keluarga tersebut. Hanya saja, anak-anak mereka yang belum menempuh pendidikan formal kesulitan untuk berkomunikasi dengan kami. Ini dapat dijadikan sebuah gambaran, walau bukan generalisasi bahwa kemampuan berbahasa fusha merupakan sebuah ragam bahasa formal yang digunakan dalam komunikasi resmi.

Termasuk adanya lahjah (dialek) di setiap wilayah Arab yang terbentang dari Afrika sampai ke Asia. Begitu pula dengan perbedaan bentuk-bentuk pemerintahan semakin memperkaya khazanah kosakata bahasa Arab di setiap wilayah. Jika di Mesir digunakan istilah jumhuriyah (republik), maka di Saudi Arabia digunakan mamlakah (kerajaan). Ini berkaitan dengan kelembagaan masing-masing negara yang berbeda antara satu dengan lainnya. ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*