Home » Article and Analysis » ULAMA, SAUDAGAR, DAN GURU » 1580 views

ULAMA, SAUDAGAR, DAN GURU

Oleh Ismail Suardi Wekke *)

Penyebaran Islam yang dikenal di Nusantara, tidak lepas dari peran-serta para saudagar. Saat berkeliling untuk berdagang, mereka kemudian menjawab keingintahuan tentang Islam. Bukan dengan niat awal untuk menyebarkan Islam tetapi perilaku dan praktik keislaman mereka kadang menarik minat mitra bisnisnya. Saat Islam mulai dikenal, ulama dan guru-lah yang kemudian mengukuhkan pemahaman keagamaan sesuai dengan permintaan masyarakat setempat. Dalam peristiwa Kerajaan Gowa dan Tallo, syahadat pertama kali dilafalkan Sultan Alauddin yang saat itu berkuasa.  Selanjutnya, guru dan ulamalah yang memainkan peran. Ketika itu, Islam mulai menyebar dari pesisir dan pantai. Ini karena perjumpaan dengan para saudagar bermula dari pelabuhan dan titik-titik perdagangan yang terdekat dari pantai.

Di Palu (Sulawesi Tengah), sampai ke Manado (Sulawesi Utara) dan Ternate (Maluku Utara), keberadaan komunitas Arab melembaga dalam organisasi Al-Khairat. Sampai sekarang, Al-Khairat menjadi bagian tidak terpisahkan dalam keagamaan di ketiga wilayah tersebut. Begitu pula menumbuhsuburkan semangat nasionalisme untuk nama Indonesia. Menjadi penggerak untuk pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Bahkan pengaruhnya, tidak hanya untuk keluarga komunitas Arab semata tetapi menjadi aset umat dan bangsa. Kharisma Guru Tua, begitu sapaan akrab pendiri Al-Khairat yang telah wafat menyebar. Kecintaan masyarakat ditunjukkan dengan memasang poto Guru Tua di kediaman pribadi mereka.

Komunitas Arab juga melintasi etnisitas. Mulai dari Merauke sampai ke Sabang. Dalam nama, dikenali dengan Syed atau Syarifah. Sementara ada juga yang menggunakan nama marga seperti Shihab, Al-Katiri, Muhammad, Assegaf. Perjumpaan komunitas Arab dengan masyarakat Bugis dapat terlihat dari keluarga Quraisy Shihab. Sementara di Ambon, pertemuan etnis Arab dengan masyarakat Maluku dapat dikenal dengan tokoh politik seperti Assegaf yang menjabat Gubernur Maluku saat ini setelah periode sebelumnya menjabat wakil gubernur. Kajian secara khusus tentang keluarga Arab di wilayah timur Indonesia ditelurusi secara khusus ilmuwan Austria, Martin Slama. Penyebaran keluarga Arab marga tertentu, dalam temuan Slama ada yang hanya menyebar di timur Indonesia, terkhusus di Papua.

Guru-guru yang mengajarkan Islam di tanah Bugis dan Makassar justru berasal dari tanah Minang. Tiga datuk, Datuk Ribandang, Datuk Sulaiman, dan Datuk Patimang, mereka yang mengajarkan Islam di tiga wilayah berbeda yang sekarang dikenal dengan Provinsi Sulawesi Selatan. Sehingga secara emosional, Minang dengan Bugis dan Makassar sangat dekat. Termasuk ketika Buya Hamka pernah berkhidmat sebagai guru di Makassar sekitar dua tahun. Saat itulah, Buya Hamka berinteraksi dengan pimpinan organisasi kemasjidan di Makassar yang tidak mau disebut ulama, Fadeli Luran. Hasil perjumpaan beliau berdua mnghasilkan filosofi yang dikelola Ikatan Masjid Mushallah Indonesia Muttahidah (IMMIM) dengan kalimat “bersatu dalam aqidah, toleransi dalam furu dan khilafiyah”. Kalimat ini yang diteguhkan dalam pengelolaan pesantren yang dinaungi IMMIM, sebuah pesantren yang terletak di Tamalanrea untuk putra dan Minasate’ne untuk putri.

Saudagar-saudagar Bugis yang berlayar sampai ke Fak-fak juga menjadi bagian dari pendidikan Islam di wilayah Timur setelah Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore memperkenalkan Islam di pesisir Selatan Papua yang menjangkau Raja Ampat, Kaimana, dan Fakfak. Bersama-sama dengan etnis Kei dan Maluku Utara lainnya, masyarakat Bugis menjadi “pendatang” yang memilih profesi jadi guru agama di seentaro Papua. Sebagian besar dari mereka memilih profesi sebagai pedagang. Pada kesempatan selanjutnya para saudagar tersebut yang sebelumnya hanya mengurus pasar, kemudian menjadi pengurus masjid yang berada di wilayah pasar tempat mereka berdagang. Dalam kesempatan lanjutan, beberapa diantaranya menjadi pengurus partai politik dan berhasil menduduki kursi legislatif, baik di tingkat kota atau kabupaten, maupun provinsi. Bahkan beberapa diantaranya menjadi wakil bupati atau wakil walikota.

Beberapa madrasah seperti di Merauke, Kota Sorong, Manokwari, dan Timika didirikan alumni Darul Dakwah Wal Irsyad (DDI) yang berpusat di Mangkoso, Sulawesi Selatan. Mereka menjadi guru dan mengelola lembaga pendidikan untuk memfasilitasi keperluan belajar masyarakat muslim. Begitu juga dengan lembaga pendidikan seperti Hidayatullah, tersebar seentaro tanah Papua. Setiap kota dan kabupaten di wilayah Papua dan Papua Barat, terdapat pesantren Hidayatullah yang melengkapi keterampilan berkebun untuk menjadi bagian aktivitas santri.

Keberadaan saudagar, ulama, dan guru, melengkapi satu sama lain. Mereka bahu-membahu dalam urusan keagamaan. Ini semua berawal dari kepedulian untuk kepentingan keluarga. Akhirnya membesar menjadi urusan komunitas dan masyarakat. Semangat keberagamaan lebur yang tidak dibatasi oleh etnik, kebangsaan, dan juga wilayah. Islam menjadi pilihan untuk jalan hidup, sekaligus menjadi sumber etika dan semangat dalam kehidupan keduniawian. Pada merakalah, kemudian Islam menjadi cerminan, betapa agama menyebar dengan semangat untuk kebersamaan. ***

*) Ismail Suardi Wekke (Dosen STAIN Sorong & Divisi Riset ISMES)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*