Home » Article and Analysis » Globalisasi, Trump, dan Indonesia *) » 1412 views

Globalisasi, Trump, dan Indonesia *)

Oleh Yanuardi Syukur (Sekjen ISMES)

Konteks Global
Disadari atau tidak saat ini kita hidup dalam era globalisasi yang ditandai dengan adanya saling ketergantungan (interdepence) antar negara. Konsekuensinya adalah negara-negara kemudian bergabung berdasarkan regional atau kepentingan nasional dalam bentuk yang beragam. Akan tetapi, dalam regionalisme tersebut tidak bisa dimungkiri bahwa suara dominan (atau negara besar) lebih berkuasa ketimbang suara negara-negara kecil.

revKetika membicarakan hubungan Indonesia dengan Amerika maka mau tak mau kita harus membahas terlebih dahulu konteks global yang berlangsung hari ini dan sementara menuju ke titik tertentu di masa depan. Amerika sebagai negara super power tentu saja memiliki kepentingan nasional untuk tetap menjadi polisi dunia dan dapat menguasai berbagai sumber yang ada di dunia ini lewat berbagai kekuatan seperti ekonomi, militer, sosial, dan budaya.

Dalam bidang militer misalnya, Amerika tengah memperkuat pengaruhnya untuk membendung pengaruh Tiongkok yang makin hari makin besar. Negara-negara dunia ketiga pun terjebak dalam pilihan-pilihan dilematis, antara: mengejar uang (economy) Tiongkok atau mendapatkan keamanan (security) Amerika. Kemitraan dengan Tiongkok tentu saja berimplikasi penting pada perekonomian, dan di sisi lain Amerika juga tak kalah penting, yaitu menjanjikan keamanan. Penempatan pasukan Amerika di Darwin (Australia) merupakan bagian dari rencana untuk melindungi berbagai kepentingannya di Pasifik, salah satunya adalah PT. Freeport McMoran. Hegemoni ini juga dapat dilihat dengan penempatan kapal perang laut dangkal (Littoral Combat Ship) di Singapura, dan pengaktifan Pangkalan AL di Subic dan Pangkalan AU di Clark (Filipina). Singkat kata, Amerika saat ini terancam atas Tiongkok yang semakin agresif terhadap negara-negara lain. Kawasan Laut Tiongkok Selatan yang dituntut hampir 90% merupakan bagian dari politik Tiongkok untuk menguasai laut tersebut.

Hal yang tak kalah penting adalah kawasan Timur Tengah yang saat ini masih terus diwarnai dengan tindak kekerasan dan konflik. Di masa kepemimpinan Presiden Obama misalnya, Amerika berpandangan bahwa ada tiga masalah yang harus diselesaikan di Timur Tengah, yaitu soal program nuklir Iran, senjata kimia di Suriah, dan konflik antara Israel-Palestina yang seperti tak berujung. Belum lagi meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh gerakan-gerakan radikal seperti ISIS yang menjaring sekian banyak pemuda Islam dari berbagai negara di dunia tidak hanya dari negara-negara Islam tapi juga dari negara barat seperti Eropa atau Australia. Kendati banyak sumber menyebut bahwa ISIS dibentuk oleh Amerika, akan tetapi saat ini ISIS menjadi salah satu musuh besar Amerika. Tapi, karena ISIS punya kaitan dengan Amerika maka ada pandangan yang melihat bahwa gerakan tersebut sengaja dipelihara agar bisnis senjata dan anggaran perang tetap mengucur terus. Pada titik ini, konflik tidak semata dilihat sebagai konflik an sich, tapi bergumul di dalamnya kepentingan ideologis dan pragmatis (pasar).

Terkait Indonesia, Amerika tentu saja memiliki kepentingan besar di sini. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia merupakan salah satu poros yang dapat menguntungkan Amerika. Pada beberapa hal, ada kesamaan antara Indonesia dan Amerika seperti masyarakat yang plural, mengikuti demokrasi, terbuka, akan tetapi perbedaan nilai mayoritas (agama) menjadi salah satu sentiment paling besar yang mewarnai hubungan kedua negara. Ketika Amerika menyerang Timur Tengah pasca 9/11 dengan dalih mencari Osama bin Laden, masyarakat Indonesia ramai-ramai mengecam Amerika dengan berbagai sudut: keadilan, kebangsaan, atau ideologis.

Indonesia membutuhkan berbagai keunggulan Amerika seperti pengetahuan, ekonomi, dan juga kerjasama militer. Pun demikian dengan Amerika terhadap Indonesia yang selain sebagai mitra strategis juga sebagai pasar (market) bagi produk-produk Amerika, termasuk di dalamnya adalah penguasaan terhadap sumber-sumber strategis seperti tambang di Papua. Di satu sisi Indonesia ingin benar-benar berdaulat akan tetapi faktanya kedaulatan tersebut belum benar-benar mandiri. Kita tidak bisa benar-benar terlepas dari Amerika, karena berbagai kepentingan bangsa yang tidak lepas dari Paman Sam.

Terpilihnya Trump
Terpilihnya Trump sebagai Presiden Amerika disikapi beragam oleh masyarakat Indonesia. Pemerintah tentu saja akan menerima, akan tetapi tidak semua masyarakat menerima begitu saja Donald Trump. Gerakan Islam misalnya berhati-hati dengan Trump karena statement-statement-nya yang provokatif terkait Islam di sana tentang rencananya untuk membatasi secara ketat imigran yang masuk, bahkan melarang Islam masuk ke Amerika.

Tentu saja sebagai strategi meraup suara, hal itu wajar sekali dilontarkan Trump. Tapi, apakah setelah berkuasa, ia akan melakukan itu? Tidak sepenuhnya jelas memang, karena sejak awal Trump memang tidak ingin diketahui langkah-langkahnya secara jelas. Pengalaman dia sebagai seorang pengusaha dengan jejaring luas membuatnya terbiasa membuat keputusan yang cepat. Berbeda dengan sosok politisi misalnya Hillary Clinton yang cenderung dapat ditebak arahnya kemana. Dari perspektif orang Asia, Hillary memang lebih punya kedekatan karena ia membangun kemitraan dengan bangsa-bangsa di Asia. Akan tetapi, Trump, kita masih masih menunggu perkembangan.

Prediksi Sementara
Lantas, bagaimana prediksi dampak terpilihnya Trump bagi Indonesia? Ada beberapa asumsi sementara yang dapat kita lihat di permukaan sebagai berikut.

  1. Bisnis Trump akan semakin berkembang di Indonesia. Saat ini, paling tidak ada dua investasi dia di Indonesia: di Bogor dan di Bali. Salah satu alasan Wakil Ketua DPR Fadli Zon setahun yang lalu ketemu Trump di Lantai 26 Trump Plaza adalah untuk memenuhi undangan makan siang sambil “ngobrol 30 menit”. Menurut Fadli, dalam biografinya “Menyusuri Lorong Waktu” (2016), bisnis Trump di Indonesia salah satunya bermitra dengan Hary Tanoe, pemilik MNC.
  2. Sikap Trump yang kurang bersahabat dengan Islam karena ketidaktahuannya tentang Islam jika tidak diatur sedemikian rupa dapat menimbulkan resistensi yang kuat dari umat Islam. Indonesia berpenduduk muslim terbesar dan damai, akan tetapi jika Trump silap lidah atau punya kebijakan yang anti-Muslim tentu saja akan mendatangkan resistensi yang cukup. Baru-baru ini salah satu kelompok radikal di Timur Tengah mengatakan bahwa terpilihnya Trump akan semakin mempercepat kehancuran Amerika. Tapi memang sumber-sumber internet terkadang tidak bisa betul-betul dipercaya karena banyak hoax juga.
  3. Kebijakan luar negeri Amerika tidak terlepas dari bagaimana mengamankan kepentingan nasionalnya. Kata Dino Patti Jalal, “Problem Presiden Amerika adalah menjaga keamanan internasional.” Tersebarnya pasukan Amerika di berbagai pangkalan di dunia menjadi salah satu penguat bahwa Amerika sebagai polisi dunia ingin tetap memiliki hegemoni yang kuat di tengah bangkitnya Rusia dan Cina. Kebangkitan dua rival ini cukup membuat Amerika harus berpikir strategis dan memperbanyak kawan. Terpilihnya Trump beberapa waktu lalu juga direspon oleh Presiden Rusia V. Putin yang ingin memulihkan hubungan kedua negara, akan tetapi politik selalu dinamis dan perang hegemoni akan semakin kuat di dunia.

Sebagai orang Indonesia tentu saja lebih banyak melihat Amerika dengan kacamata yang agak jauh, karena tidak tinggal di sana dan lebih banyak bersumber pada analisis dari media-media mainstream atau buku. Terlepas dari apapun kebijakan luar negeri Trump, kita di Indonesia tentu saja harus meningkatkan nasionalisme, mempertinggi kecerdasan dan martabat bangsa tanpa harus konfrontatif secara radikal.

Orang Indonesia senang berpikir dalam wilayah “abu-abu”, antara jelas dan tidak jelas, dalam ruang ada dan tiada. Secara politik kita kadang mengikuti satu blok, tapi kita juga bermain dengan blok lainnya. Kita lebih banyak mengikuti ritme yang ada, karena faktanya memang kita masih belum apa-apa kecuali pada jumlah penduduk yang besar akan tetapi masih miskin kualitas. Untuk itu, maka apa yang disebut sebagai bonus demografi dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membawa bangsa ini menjadi lebih kuat dan bermartabat. ***

*) Tulisan dibuat sebagai pengantar Bincang Negarawan: “Hasil Pilpres AS dan Dampaknya bagi Indonesia” di Grup WA Keluarga Negarawan, 13 November 2016.