Home » Article and Analysis » Apakah Barat Anti Islam? » 1134 views

Apakah Barat Anti Islam?

Oleh Yanuardi Syukur

 

Walau sudah lebih dua dekade, pengaruh teori ‘clash of civilizations’ masih terasa sampai sekarang. Pertarungan antara kekuatan Barat dan Islam menjadi tema yang dikaji oleh banyak sarjana tidak hanya Islam tapi juga non-Muslim yang tertarik dalam kajian Islam. Efek paling jelas nyata dari ‘kebenaran’ benturan antar peradaban itu terlihat dari konflik-konflik anti-Barat yang dilancarkan tidak hanya di Timur Tengah, tapi juga di Eropa, Amerika, bahkan di Asia Tenggara.

 

Fakta meningkatnya gerakan anti-Barat seperti yang terlihat dari kemunculan Taliban di Afghanistan, serangan gerakan Al Qaeda terhadap pos-pos penting Amerika Serikat–seperti yang paling besar di menara kembar WTC–yang disusul juga bom beruntun yang terjadi di Bali, telah semakin menguatkan stigmatisasi akan ‘buruknya’ Barat di mata umat (atau aktivis pergerakan/haraki) Islam. Fenomena konflik ini tidaklah berdiri sendiri, ada saja faktor internal seperti meningkatnya eksploitasi terhadap sumber daya alam setempat, atau karena solidaritas terhadap kaum muslim yang tertindas di berbagai belahan dunia, salah satunya yang paling bertahan sampai sekarang adalah isu Palestina.

 

Pada tahun 1998 misalnya, Osama bin Laden pernah mengeluarkan fatwa tentang bolehnya membunuh warga Amerika, sipil atau militer. Juga, dalam konteks konflik antara Israel dan Palestina, ada gerakan untuk menyerang orang Israel (sipil maupun militer) dan sebaliknya telah terjadi serangan Israel terhadap warga sipil di Gaza. Fakta ini seakan memperjelas bahwa saat ini ketika terjadi perang, orang tidak lagi bisa memisahkan mana yang harus diperangi, dan mana yang harus dilindungi. Mana yang terlarang untuk diperangi, mana yang boleh diperangi.

 

Sebuah pertanyaan penting patut dilontarkan. Apakah semua yang berlabel Barat adalah anti-Islam? Untuk menjawab itu kita bisa melihat perkembangan Islam yang terjadi di dunia Barat. Di Amerika Serikat misalnya, berbagai data melansir terkait meningkatkan jumlah pemeluk Islam dari hari ke hari. Jika kita baca tulisan Imam Shamsi Ali misalnya, beliau biasa menceritakan bagaimana animo masyarakat Amerika untuk memeluk Islam. Michael Lipka dan Conrad Hackett, dalam tulisan mereka Why Muslims are the world’s fastest-growing religious group, di laman Pew Research Center (23 April 2015), menulis bahwa pemeluk Islam kecepatan pertumbuhannya adalah dua kali lipat dari keseluruhan pertumbuhan populasi dunia antara tahun 2010 sampai 2050 (pertengahan abad ke-21), dan akan melampaui agama Kristen sebagai agama terbesar di dunia (Muslims will grow more than twice as fast as the overall world population between 2010 and 2050 and, in the second half of this century, will likely surpass Christians as the world’s largest religious group).

 

Para pemeluk Islam di Amerika ini tidak hanya para imigran dari Afrika yang didatangkan untuk kebutuhan produksi perkebunan, tapi juga para penduduk Amerika yang keturunan Eropa dan telah lahir sebagai warga Amerika. Mereka mendapatkan kedamaian dalam Islam. Peristiwa 9/11 sekilas sangat menyeramkan, akan tetapi mengandung ‘berkah’ bagi kebenaran ayat Al Quran surat An Nashr, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.”

 

Kemudian, peningkatan jumlah Muslim di Eropa juga makin hari makin berkembang lebih dari 10 persen menjelang tahun 2050 (Guardian, 2 April 2015). Gerakan untuk membungkam penyebaran Islam seperti yang dilakukan oleh politisi Belanda Geert Wilders yang mempublikasikan video dan kartun anti-Islam dengan dalih untuk menjaga freedom of expression, rupanya tidak mempan untuk mencegah gelombang muallaf Islam di Eropa. Dalam konteks ini, terlihat bahwa animo masyarakat Islam untuk menjadi muslim yang baik juga meningkat. Fakta dari berbondong-bondongnya pemuda muslim Eropa yang bergabung dengan ISIS–terlepas dari radikalisme gerakan ini–memperlihatkan adanya peningkatan kesadaran untuk menegakkan Islam. Tentu saja, bergabungnya para pemuda dalam kafilah ISIS itu patut disayangkan, karena hingga saat ini jumhur ulama dan tokoh muslim menyatakan bahwa gerakan ISIS adalah teror dan tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti yang dapat kita baca dari surat yang ditulis oleh lebih dari seratus ulama bergelar syeikh, professor, doktor, dan tokoh Islam di negaranya masing-masing. Lepas dari kecenderungan mereka untuk bergabung dengan ISIS, terlihat di sini peningkatan semangat keberislaman.

 

Di Australia, sebagai contoh benua ketiga, pemeluk Islam juga terus meningkat. Salah satu oleh-oleh yang saya dapatkan ketika berkunjung ke Australia adalah fakta bahwa di antara agama lainnya, Islam adalah agama yang paling berkembang di Australia. Tulisan Scott Higgins, di laman Center for Christianity and Society (4 Agustus 2014), berjudul Is Australia being Islamicised? tentang masuknya para muslim pencari suaka adalah kekhawatiran terkait Islamisasi di Australia, penerapan syariah Islam, dan transmisi budaya kekerasan ke masyarakat Australia. Tapi, kekhawatiran ini sesungguhnya natural (jumlahnya tidak banyak), karena di masyarakat manapun selalu ada kelompok kecil yang pro pada kekerasan. Walau jumlahnya tidak sesignifikan Kristen, akan tetapi makin hari makin banyak yang bergabung dengan Islam dan tetap menghormati konstitusi yang mengajarkan mutual respect and understanding sesama warga Australia. Tentu saja hal ini sesuai dengan konstitusi Indonesia dimana seluruh warga secara konstitusi mendapatkan hak yang sama dan harus saling menghormati diversitas suku bangsa dan kepercayaan yang ada dalam masyarakat.

 

Apakah Barat anti-Islam?

 

Jika konsep ‘Barat’ itu kita letakkan minimal pada warga yang tinggal di tiga benua tersebut–Amerika, Eropa, dan Australia–maka secara general orang-orang yang tinggal di sana apapun latar belakangnya adalah barat. Dan, jika kita berpatokan pada asumsi bahwa Barat membenci Islam atau saat ini terjadi konflik antara Barat dan Islam, maka semua yang jadi warga di tiga benua itu dianggap berperang atau membenci Islam. Padahal, di tiga benua itu orang Islam-nya juga ada, bahkan terus meningkat. Tambahan lagi, walau tidak beragama Islam, di tiga benua itu juga banyak dari mereka yang bersimpati kepada Islam, bahkan menjadi pembela Islam dan mengkampanyekan pentingnya perdamaian.

 

Danielle Loduce, dalam tulisannya Living Islam in the West: Is it Easy?, menulis, “Not only do i feel comfortable and truly at home here, where I understand the culture, language, and systems, I also feel a care and responsibility towards my fellow Americans.” Hidup sebagai muslim di negara mayoritas non-Muslim kata Loduce, terasa nyaman dimana ia dapat memahami budaya, bahasa, dan sistem ala Amerika dan lebih penting lagi adalah ia merasa ada kepedulian dari teman-temannya yang orang Amerika. Selanjutnya, Loduce juga mempublikasikan sebuah survei sederhana kepada 115 orang Islam terkait pengalaman mereka hidup di negera mayoritas non-Muslim. Hasilnya, hampir 35 persen responden menjawab baik (fairly good), 25 persen menjawab sangat baik (very good), dan 11 persen menjawab sangat baik sekali (excellent). Sementara itu, mereka yang menjawab sedikit baik (midlly good) sebanyak 17 persen, dan tidak baik (not good) 6 persen, berbeda 5 poin dengan yang menjawab excellent (OnIslam.net, 2 September 2015).

 

Selain itu, ketika ditanya bagaimana pengamalan rukun Islam, skala yang mereka pilih paling tinggi, yaitu 5. Ini menandakan bahwa walau hidup di negara non-Muslim, mereka tetap bisa mengamalkan Islam dengan baik. Akhirnya, Laduce mengambil sebuah kutipan umum dari hasil survei-nya dengan kalimat, “The US is still the best country in the world to have freedom of practicing Islam.” Tentu saja, walau survei ini respondennya sangat terbatas (cuma 115 orang), akan tetapi bisa menjadi data awal bagi kita bahwa hidup di negara non-Muslim belum tentu sulit dalam mengamalkan Islam. Dan, satu yang menarik dari survei ini juga adalah, 71 persen respondennya adalah wanita, kelompok sosial yang jika kita lihat di berita-berita sangat rentan untuk diperlakukan tidak adil.

 

Terkait dengan respon kalangan non-Muslim terhadap Islam, di tubuh keturunan Yahudi sekalipun, sebagai contoh, ada kalangan yang cinta damai, mereka anti-perang, baik yang berada dalam satu kelompok atau secara personal. Kelompok Yahudi Orthodox Shira Hadasha di Melbourne, misalnya. Mereka cinta dan menyerukan perdamaian antara Israel dan Palestina. Rabi Marc Schneier di New York yang menulis buku Sons of Abraham bersama Imam Shamsi Ali telah menjalin hubungan baik dan saling membela antara satu dan lainnya (BBC, 17/11/2014). Artinya, rasanya tidak adil jika kita menyematkan semua orang Yahudi itu suka teror, suka perang, juga tidak semua orang Kristen setuju pada ide Bush ketika dia harus perintahkan pasukannya untuk menyerang Irak, bahkan apa yang dilakukan para biksu di Myanmar juga rasanya tidak disetujui oleh semua orang Budha–termasuk di Indonesia.

 

Di titik ini, kita dituntut untuk berpikir lebih adil dalam melihat sesuatu. Tidak semua yang Barat itu kafir, sebagaimana tidak semua yang Timur juga baik. Tidak semua budaya Barat itu kufur, juga tidak semua kearifan lokal di Nusantara juga compatible dengan Islam. Jadi, dalam konteks Islam, kita tidak tidak dibenarkan untuk berlalu tidak adil kepada orang lain, bahkan kepada mereka yang memusuhi Islam. Bagaimana sikap Nabi Muhammad kepada orang kafir yang memeranginya sesungguhnya memperlihatkan ketinggian akhlak dan pemikiran beliau. Orientasi beliau dalam menghadapi orang kafir adalah bukan dengan perang, kecuali sangat terpaksa untuk itu. Ajakan (atau dakwah) adalah lebih diutamakan ketimbang perang. Artinya, dialog merupakan solusi terbaik untuk menemukan kemenangan di kedua pihak.

 

Jadi, soal apakah Barat anti kepada Islam  atau tidak, hemat saya dengan berbagai fakta–yang dapat kita unduh dari berbagai survei dan berita di media massa–menunjukkan fakta bahwa Barat adalah peradaban yang majemuk. Walaupun mereka dibesarkan oleh tradisi Yunani, Romawi, dan juga Yahudi, Barat di abad ke-21 ini tidaklah bertahan seperti itu. Fenomena ‘muallaf bule’ yang terus bertambah adalah fakta bahwa tidak selamanya mereka yang dibesarkan dalam tradisi tiga latar belakang itu akan terus mempertahankan keyakinannya. Manusia bisa berubah, sebagaimana dunia ini juga bisa berubah. Dan, cara pandang kita dalam melihat Barat tentu saja harus diupayakan tetap adil dengan mempertimbangkan konteks sosiologis bertambahnya pemeluk Islam.

 

Satu hal yang mungkin menjadi kritikan  banyak aktivis pergerakan Islam kepada Barat adalah kepada pemerintah. Ya, kebijakan pemerintah itu yang menjadi sasaran kritikan paling keras kepada Barat. Sebagai contoh, serangan Amerika ke Irak dengan dalih adanya senjata pemusnah massal tapi ternyata omong kosong–dan ini sudah ditulis banyak orang saya kira–adalah bukti bahwa ada yang patut diubah dalam kebijakan luar negeri negara Barat. Jadi, problemnya pada manajemen pemerintahan, bukan pada masyarakat sipil. Nah, jika problemnya pada pemerintahan, maka tentu saja para ahli dari seluruh dunia berikan masukan dan usulan terkait bagaimana seharusnya pemerintah berhubungan dengan masyarakat Islam di luar negara mereka.

 

Tentu saja para ahli seperti John Esposito, sebagai contoh, telah memberikan sumbangsih yang signifikan dalam menjelaskan Islam ke dunia Barat, terutama bukunya The Oxford History of Islam yang menjelaskan tentang Islam tidak hanya dari kawasan Afrika Utara sampai Asia Tenggara, tapi juga komunitas minoritas Islam di planet ini. Juga, antropolog Pakistan yang juga duta besar, Akbar S. Ahmed, dalam salah satu bukunya Journey into America: The Challenge of Islam, yang menjelaskan tentang kehidupan 7 juta muslim di Amerika—berikut ceramah-ceramahnya—telah membuka mata orang Barat tentang bagaimana sebenarnya Islam. Buku Ahmed, dengan pendekatan antropologis ini, paling tidak bisa menjadi salah satu rujukan terkait bagaimana ‘pertarungan’ identitas sebagai seorang muslim dalam masyarakat Amerika, dan juga isu-isu yang berkembang seperti terorisme dan juga hubungan antara Islam dengan Yahudi dan Kristen. Apa yang disajikan oleh kedua ahli tersebut tentu saja bermanfaat karena kita mendapatkan fakta langsung dari informan yang menjelaskan bagaimana pemikiran, perasaan, dan sikap mereka di tempat dimana mereka hidup.

 

Dunia yang damai seharusnya menjadi perjuangan kita semua, baik yang tinggal di Barat atau Timur, penganut moneteisme tauhid, politeisme, atau tidak beragama sekalipun. Walau memang ada saja orang-orang yang tidak senang pada kata perdamaian, tapi rasanya mustahil manusia yang tinggal di planet ini semuanya ingin perang. Pasti semua ingin hidup damai. Tak peduli apapun agama dan latar belakangnya, semuanya pasti ingin hidup damai dan menciptakan dunia yang damai. Maka, berpikir dengan perspektif yang damai harus dikedepankan dalam pikiran kita masing-masing. Damai sesungguhnya lebih indah, lebih berkah, dan lebih manusia. *

 

 

YANUARDI SYUKUR, Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun; Aktif di The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES), dan Peneliti Bundaran Institute.