Home » Article and Analysis » Krisis Suriah dan Pengaruhnya Bagi Dunia Islam » 840 views

Krisis Suriah dan Pengaruhnya Bagi Dunia Islam

Krisis Suriah dan Pengaruhnya Bagi Dunia Islam

Oleh M. Hamdan Basyar

Peneliti Utama pada Pusat Penelitian Politik – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

(P2P – LIPI)

 

 

Pengantar

Rakyat Suriah telah dua tahun mengalami krisis berbangsa dan bernegara. Sebagian mereka menginginkan pemimpinnya, Presiden Bashar al-Assad, untuk segera diganti. Sebagian yang lain masih mempertahankan kepemimpinan keluarga Assad. Mereka bentrok dan saling saling menyerang. Korban jatuh sudah cukup banyak. Ribuan orang meninggal dunia dan puluhan ribu penduduk harus mengungsi ke luar negeri. Pasukan pemerintahan Assad terus memburu kelompok oposisi yang memberontak melawan rezim.

Krisis itu bisa jadi merupakan efek domino dari kejadian di negara lain. Kita tahu, pemberontakan rakyat Tunisia telah berhasil menumbangkan kekuasaan Presiden Zine Albidin. Kemudian disusul dengan runtuhnya kekuasaan Presiden Hosni Mubarak di Mesir. Selanjutnya, pemberontakan kaum oposisi Libya yang dibantu oleh pihak luar berhasil menyingkirkan Pemimpin Libya, Moammar Khaddafi. Demikian juga Presiden Yaman berhasil ditumbangkan oleh rakyat.

Kejadian demi kejadian di Timur Tengah itu, seringkali disebut sebagai “Arab Spring”. Ini dimaknai sebagai musim semi Arab bagi demokratisasi di sana. Tampaknya oposisi Suriah juga mengikuti pola yang kurang lebih sama dengan beberapa negara sebelumnya. Perbedaannya, krisis di Suriah telah berlangsung dua tahun. Sementara itu, di negara lain proses pergantian kepemimpinan segera terjadi tidak lama setelah krisis mulai.

Mengapa krisis Suriah itu dapat terjadi dan bagaimana pengaruhnya bagi dunia Islam, akan dicoba dibahas dalam tulisan singkat ini.

 

Masyarakat Suriah

Masyarakat Suriah cukup beragam. Sebagian besar mereka menganut Islam Sunni. Kemudian ada penganut Islam Syiah, Kristen ortodoks, dan lainnya. Dari berbagai sumber diketahui jumlah penganut Muslim Sunni adalah 16.798.000 orang (74,56%); penganut Alawiyah 2.350.000 orang (10,43%); penganut Druze 681.000 orang (3,02%); penganut Syiah Imam tujuh ada 200.000 orang (0,89%); penganut Syiah Imam duabelas sekitar 100.000 orang (0,44%); penganut Kristen Ortodoks Yunani 1.100.000 orang (4,88%); Kristen Ortodoks Suriah 700.000 orang (3,11%); Kristen Ortodoks Armenia 200.000 orang (0,89%); dan penganut agama yang lain sekitar 400.000 orang (1,78%).

Terlihat betapa beragamnya agama yang dianut oleh masyarakat Suriah. Perbedaan itu dapat menambah warna kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tetapi, perbedaan itu pula dapat menyebabkan masyarakatnya terbelah dalam sektarian. Mereka bersaing untuk menguasai politik dan kepemimpinan di Suriah.

Memanfaatkan konflik internal dalam Partai Baath Suriah, Hafez al-Assad, pada tahun 1970, menguasai partai dan akhirnya menjadi Presiden Suriah. Al-Assad yang berasal dari kaum Alawiyah berkuasa di Suriah sampai meninggal dunia pada 2000. Pada waktu berkuasa, Hafez al-Assad berusaha memperkuat posisinya melalui kekuasaan Partai Baath yang sekular. Beberapa kelompok, terutama dari kalangan Muslim Sunni, menentang kebijakan Al-Assad. Mereka menentang kebijakan sekular yang dijalankan oleh Partai Baath. Selain itu, mereka juga menentang Al-Assad yang berasal dari kaum Alawiyah.

Dari tahun 1976 sampai 1982, kelompok Ikhwanul Muslimin memimpin pemberontakan melawan pemerintahan pimpinan kaum Alawiyah. Akibatnya, pada Februari 1982, penguasa Damaskus memborbardir kota Hama yang dianggap sebagai pusat pemberontakan Ikhwanul Muslimin. Antara 10.000 dan 25.000 orang menjadi korban kebengisan pemerintahan Al-Assad. Kebanyakan dari mereka adalah penduduk sipil. Dunia tidak begitu peduli pada pembantaian itu. Setelah kejadian yang mengerikan tersebut, masyarakat Suriah tidak begitu berani menentang dan bersikap anti pemerintahan Hafez al-Assad. Mereka takut mengalami nasib yang sama dengan kelompok Ikhwanul Muslim di kota Hama.

Rezim Al-Assad terus berjaya. Tetapi karena faktor usia, pada 10 Juni 2000, Hafez al-Assad meninggal dunia. Para loyalis Al-Assad ingin melanggengkan kekuasaan kaum Alawiyah ini, maka mereka berusaha mendorong putra Hafez al-Assad, yakni Bashar al-Assad, untuk meneruskan kekuasaan ayahnya. Persoalan konstitusional kemudian muncul bila Bashar al-Assad yang waktu itu baru berusia 34 tahun dipaksakan menjadi Presiden Suriah. Dalam Konstitusi Suriah disebutkan bahwa usia seorang Presiden minimal 40 tahun. Untuk mengatasi hal tersebut, maka diadakan amandemen konstitusi tentang batas usia calon presiden menjadi minimal 34 tahun. Dengan menurunkan batas usia minimal itu, maka dapat memungkinkan Bashar al-Assad untuk dicalonkan menjadi Presiden Suriah berikutnya. Selanjutnya, pada 10 Juli 2000, diadakan referendum nasional untuk memilih calon tunggal Bashar al-Assad sebagai Presiden Suriah. Menurut siaran resmi pemerintah Suriah, hasil referendum menyatakan 97,29% pemilih menyatakan setuju Bashar al-Assad sebagai Presiden Suriah berikutnya yang menggantikan posisi ayahnya. Dengan hasil referendum tersebut, “dinasti” Al-Assad berlanjut.

 

Melanjutkan Sang Ayah

Sebenarnya ada harapan baru dengan terpilihnya Bashar al-Assad yang masih relatif. Masyarakat mengharapkan Bashar al-Assad dapat melakukan suatu reformasi politik yang dapat mengakomodasi aspirasi berbagai kalangan di Suriah. Berbagai kalangan aktivis politik berusaha mendesakkan adanya reformasi politik tersebut.

Aktivis pro-demokrasi mengeluarkan apa yang disebut sebagai “Manifesto 99” yang ditandatangani oleh 99 tokoh. Para aktivis itu, antara lain, Riad Seif, Jamal al-Atassi, Haitham al-Maleh, Kamal al-Labwani, Riyad al-Turk, dan Aref Dalila. Tetapi, pada musin gugur 2001, gerakan itu diberangus oleh Al-Assad. Sebagian aktivis pro-reformasi itu dimasukkan ke dalam penjara.

Penentangan terhadap rezim Al-Assad terus berlanjut. Pada Oktober 2005, terjadi lagi gerakan oposisi terhadap kekuasaan Bashar al-Assad. Tuntutannya hampir sama dengan gerakan sebelumnya. Mereka ingin adanya reformasi politik yang memungkinkan diterimanya aspirasi yang berbeda. Al-Assad memang menjawab bahwa dia ingin melakukan reformasi. Tetapi, ternyata reformasi yang dilaksanakan hanya terbatas pada “reformasi pasar”.

Maka tuntutan reformasi terus berlanjut. Kejadian di Tunisia, Mesir, dan Libya, dijadikan momen oleh pada aktivis pro-demokrasi di Suriah untuk kembali melakukan aksinya. Protes mulai dilaksanakan pada 26 Januari 2011. Dari hari ke hari, aktivitas kaum pemprotes terus bertambah dan meluas. Mereka pun kemudian menggalang kekuatan oposisi untuk menentang kekuasaan Bashar al-Assad.

Rupanya Bashar al-Assad meniru gaya ayahnya pada 30 tahun yang lalu. Dia berusaha melibas kaum oposisi dengan senjata. Tetapi bedanya, kini kota Hama tidak sendiri. Muslim Sunni di kota lain, seperti Homs dan Deera juga ikut melawan pemerintah. Bahkan kemudian menjalar ke kota-kota lain.

Akibat kekerasan yang dilakukan oleh tentara pemerintah dan kaum oposisi, ribuan orang tewas dan puluhan ribu meninggalkan tanah airnya. Mereka mengungsi ke luar Suriah untuk mencari kehidupan yang lebih aman.

 

Sikap Dunia Islam

Kondisi di Suriah, tentunya, membuat prihatin masyarakat dunia, terutama dunia Islam. Mereka mengecam tindakan penguasa Suriah yang telah menyengsarakan rakyatnya sendiri. Negara yang berbatasan langsung dengan Suriah, seperti Turki, menampung banyak pengungsi. Perdana Menteri (PM) Turki, Recep Tayyip Erdogan, membekukan semua aset Suriah yang ada di Turki. Tindakan itu sebagai kecaman terhadap penguasa Suriah. Tidak hanya itu. Pemerintah Turki juga menjaga perbatasannya dengan menempatkan rudal-rudal yang siap menghujani wilayah Suriah.

Arab Saudi, Yordania, Qatar, dan negara-negara Arab lain ikut mengecam tindakan penguasa Suriah. Bahkan Liga Arab juga ikut berusaha mengusahakan adanya dialog antara Al-Assad dengan oposisi. Walaupun seruan damai dan dialog datang dari berbagai pihak, tetapi Al-Assad tetap bersikukuh untuk tidak mau mundur dari kekuasaannya.

Dalam pidatonya, pada 6 Januari 2013, Al-Assad menyatakan, dirinya menolak untuk mundur, namun dia siap berdialog dengan orang-orang yang tidak menghianati Suriah. Pernyataan itu disampaikan Assad di sebuah gedung opera di Damaskus pusat. Assad menyerukan mobilisasi nasional dalam perang untuk membela bangsa. Dalam pidato tersebut, Assad menggambarkan oposisi yang melawannya sebagai teroris yang memiliki ideologi Alqaidah.

Terlepas dari berbagai perbedaan politik yang ada di Suriah, semestinya dunia Islam segera melakukan tindakan konkret untuk membantu masyarakat Suriah yang menderita. Mereka telah mengalami krisis selama dua tahun. Solusinya belum begitu jelas. Oleh karena itu, kesadaran kemanusiaan dari masyarakat, terutama dunia Islam, perlu dibangkitkan.

Islam telah mengajarkan bahwa sesama umat muslim adalah bersaudara. Mereka harus saling menguatkan dan saling membantu. Umat muslim di Indonesia, walaupun secara geografis jauh dari Suriah, tetap berkewajiban ikut membantu masyarakat muslim di sana. Soal bentuk dan caranya, barangkali pada kesempatan kali ini dapat dibicarakan bersama.

 

(Telah dipresentasikan pada “Seminar Peduli Rakyat Suriah”, yang diselenggarakan oleh Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI), pada 19 Januari 2013, di Jakarta).