Home » News and informations » Hubungan Arab-Mesir Tegang » 687 views

Hubungan Arab-Mesir Tegang

Kairo, Kompas – Aparat keamanan Mesir bersiaga di sekitar gedung Kedutaan Arab Saudi di Distrik Giza, Kairo, Minggu (29/4), guna mencegah kemarahan massa terhadap penangkapan pengacara asal Mesir, Ahmed al-Gizawi, di Arab Saudi. Insiden ini memicu ketegangan diplomatik kedua negara.

Al-Gizawi ditangkap aparat keamanan Arab Saudi di Bandara Udara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, dengan tuduhan membawa 20.000 pil antidepresi dalam tas pakaiannya.

Ribuan warga Mesir mencoba mendobrak gedung Kedutaan Arab Saudi di Distrik Giza, Sabtu lalu. Hal tersebut memicu bentrok dengan aparat keamanan.

Pemerintah Arab Saudi memutuskan menutup sementara kedutaannya di Kairo dan kantor konsulatnya di kota Alexandria dan Suez, serta memanggil pulang duta besarnya di Kairo, Abdel Aziz al-Qattan.

Ketua Dewan Agung Militer (SCAF) Jenderal Muhammad Hussein Tantawi segera menelepon Raja Arab Saudi Abdullah untuk meredakan ketegangan hubungan kedua negara akibat penahanan pengacara asal Mesir itu.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Mesir Muhammad Kamel Amr juga menelepon Menlu Arab Saudi Pangeran Suud Faisal untuk mencegah kemungkinan meningkatnya ketegangan hubungan Mesir-Arab Saudi.

Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP) yang merupakan sayap politik Ikhwanul Muslimin juga mengimbau agar tidak terjadi eskalasi ketegangan hubungan Mesir-Arab Saudi.

Opini publik di Mesir juga terpecah. Sebagian opini melihat aksi unjuk rasa di sekitar gedung Kedutaan Besar Arab Saudi merupakan tindakan individual sebagian elemen masyarakat. Mereka juga beropini, menjaga hubungan historis Mesir-Arab Saudi jauh lebih penting dari sekadar peristiwa sesaat.

Tidak semena-mena

Sebagian opini lagi memandang, aksi unjuk rasa di depan gedung Kedutaan Besar Arab Saudi atau negara lain penting dilakukan. Hal itu supaya Pemerintah Arab Saudi atau negara lain tidak semena-mena memperlakukan warga Mesir di luar negeri. Mereka melihat banyak warga Mesir diperlakukan tidak adil di luar negeri, termasuk di Arab Saudi.

Bahkan, sejumlah analis menuduh, perlakuan Arab Saudi terhadap Mesir pada pra dan pasca revolusi sangat berbeda.

Arab Saudi dikenal sangat dekat dengan pemerintah Presiden Hosni Mubarak. Arab Saudi sempat dituduh kurang simpati terhadap revolusi Mesir yang menjatuhkan rezim Hosni Mubarak.

Para aktivis Mesir juga menuduh, penangkapan Al-Gizawi lebih berlatar belakang politik karena Al-Gizawi sebelumnya gencar mengajukan berkas perkara ke pengadilan Mesir untuk memperkarakan Raja Abdullah agar segera membebaskan tahanan warga Mesir di Arab Saudi.

Seperti dimaklumi, jumlah warga Mesir di Arab Saudi merupakan terbesar di luar negeri dan sekaligus penyumbang devisa terbesar ke Pemerintah Mesir selama ini. (mth)