Home » Article and Analysis » Kemenangan Mutlak Ikhwanul Muslimin Mesir Pasca Husni Mubarok » 756 views

Kemenangan Mutlak Ikhwanul Muslimin Mesir Pasca Husni Mubarok

Menjelang awal tahun 2011 berhembus angin pergolakan Negara Timur Tengah dan Afrika Utara melawan pemimpin yang otoriter dan tidak pro rakyat, awal mula pergolakan ini atau dalam dunia Barat dikenal dengan Arab Spring (musim semi Arab) dimulai dari Negara Tunisia, dimana pemicu dari pergolakan besar  ini adalah keadaan ekonomi rakyat yang semakin lama semakin hidup dalam penderitaan dan penindasan dan puncak dari ini semua adalah penindasan  terhadap seorang pedagang buah yang dagangannya dirampas oleh polisi, lalu pedagang ini membakar dirinya hingga tewas sebagai protes terhadap pemerintahan yang represif dibawah presiden Tunisia Zinedin bin Ali waktu itu.

Seketika itu juga hampir seluruh rakyat turun ke jalan menuntut pemerintah lebih memerhatikan rakyat dan akhirnya menuntut mundur presiden Tunisia, klimaks dari protes rakyat besar-besaran ini adalah larinya presiden Zinedin bin Ali ke luar negeri.

Tak pelak lagi keberhasilan rakyat Tunisia mengusir presidennya lari ke luar negeri  menginspirasi rakyat di Negara Arab dan Afrika Utara lain untuk bergerak melawan pemerintahan yang otoriter dan penindas. Angin perubahan ini akhirnya berhembus ke Mesir, Yaman, Libya, Bahrain dan Suriah. Presiden Mesir Husni Mubarok akhirnya juga ikut terguling dengan mengundurkan diri dari singgasana kekuasaannya  pada Februari 2011 begitu juga dengan  pemimpin Libya Moammar Khadafy yang tewas di tangan pemberontak Libya pada Oktober 2011 setelah pemberontakan rakyat Libya selama berbulan-bulan.  Bagi Suriah sendiri sampai tulisan ini dibuat masih dilanda pergolakan antara pemberontak melawan pemerintahan presiden Bashar Al Assad.

Dalam Kancah Perpolitikan di Mesir , tak lepas dari kelompok Ikhwanul Muslimin, sebuah gerakan politik kemasyarakatan , gerakan oposisi  terbesar, paling populer dan paling efektif sebagai gerakan penekan,yang mempunyai sayap-sayap gerakan hampir di semua level masyarakat Mesir.  Sejarah revolusi Mesir juga tak lepas dari kontribusi gerakan ini, dimana sebelum tahun 1952 terjadi konflik kekerasan antara ikhwanul muslimin dengan gerakan yang dianggap berseberangan dengan platform gerakan ikhwanul muslimin.  Platform gerakan ikhwanul Muslimin ini sejak  awal adalah memperjuangkan hukum syariah, anti Barat dan anti Zionis yang  telah menjajah tanah palestina.

Ketika revolusi Mesir tahun 1952 terjadi, Ikhwanul Muslimini ikut serta membantu terciptanya revolusi  melawan raja Farouk.  Ketika Gamal Abdul Naser memimpin sampai Naser  digantikan oleh Anwar Sadat, gerakan IM dibungkam dan diberangus, para aktivis dan pemimpinnya ditangkapi dan dijatuhi hukuman mati. Ikhwanul Muslimin menjadi gerakan yang dilarang beraktifitas di Mesir.  Setelah Anwar Sadat terbunuh oleh kelompok Islam militant ia digantikan oleh Husni Mubarok, Mubarok pun tetap melarang dan membungkam gerakan Ikhwanul Muslimin, sehingga praktis gerakan IM menjadi gerakan yang beroperasi sembunyi-sembunyi  atau lebih dikenal dengan gerakan bawah tanahnya.

Gerakan IM yang sejak beberapa masa  dari pemerintahan Naser hingga Husni Mubarok mengalami penindasan  maka pada Februari 2011 dimana terjadi pergolakan rakyat yang terinspirasi dari gerakan rakyat Tunisia melawan pemerintah yang berkuasa, IM turut andil sebagai penggerak bersama- sama dengan kelompok-kelompok perlawanan yang lainnya. IM sejak Mubarok berkuasa bergerak secara sembunyi dan mengakar di masyarakat karena IM bergerak melalui gerakan-gerakan sosial kemasyarakatan.

Tuntutan demi tuntutan  rakyat yang turun ke jalan akhirnya memaksa presiden yang telah berkuasa selama 31 tahun akhirnya mundur dan pemerintahan sementara Mesir digantikan oleh dewan Agung militer. Pemerintahan sementara Mesir ini pun tidak aman dari gelombang protes yang sama-sama menelan korban jiwa, dimana rakyat menuntut dewan militer untuk mundur karena dicurigai menginginkan berkuasa kembali di Mesir.

Serangkaian peristiwa demonstrasi berdarah di Mesir akhirnya lambat laun menurun karena diadakannya pemilu, salah satunya adalah pemilu parlemen majlis rendah selama tiga putaran yang dimulai pada desember 2011 hingga Januari 2012. Pemilu selanjutnya akan memilih parlemen majelis tinggi yang akan diadakan Februari 2012 dan sedianya pemilihan presiden akan dijadwalkan pada bulan Juni 2012.

Pemilu yang telah diadakan sejak tergulingnya presiden Husni Mubarok dianggap pemilu paling demokratis dan spektakuler karena melalui serangkaian tahap yang jujur dan adil serta transparan.  Pemilu pertama yang demokratis ini dalam sejarah Mesir dimenangkan oleh partai Kebebasan dan Keadilan( PKK) yang  merupakan afiliasi dari kelompok IM , PKK secara mutlak memenangi pemilu dimana 47 % lebih IM menguasai kursi dari 498 kursi yang diperebutkan, pemenang ke dua adalah partai  An-nour yang berafiliasi ke kelompok salafi Mesir yang memperoleh kursi 25% lebih, partai annur ini disebut-sebut oleh Barat berhaluan keras dan ingin menegakkan aturan syariah Islam di Mesir.

Pragmatisme IM ,  AS dan Sekutunya

Ketika Husni Mubarok berkuasa, dimana kelompok-kelompok islam seperti IM dan salafi ditekan dan ditindas, AS dan Barat sangat mendukung, karena gerakan IM dan gerakan Islam lainya juga menentang kepentingan AS di Timur Tengah khususnya di Mesir. AS dikenal sebagai Negara yang membantu  militer Mesir baik dari pelatihan maupun pendanaan. Bantuan militer ini kerap digunakan oleh Husni Mubarok kala itu untuk memberangus gerakan-gerakan penentang pemerintah.

Namun sekarang peta kekuatan politik Mesir dipegang oleh kalangan Islamis, yaitu PKK yang berafiliasi ke IM dan partai annur yang berafiliasi ke kelompok salafi.  Sebelum IM memenangi pemilu secara mutlak, pemimpin kelompok yang sudah mengakar di masyarakat Mesir ini mengatakan dalam beberapa  kesempatan bahwa IM tidak akan memaksakan ditegakkannya hukum Islam di Mesir dan akan merangkul semua golongan untuk kepentingan dan kesejahteraaan Mesir. Namun lain halnya dengan kelompok salafi yang membentuk partai annur bahwa kelompok ini tetap akan memperjuangkan aturan hukum Islam di tanah Mesir.

Perubahan platform gerakan IM menjadi lebih lunak merupakan kejutan bagi Barat dan sekutunya, karena Barat tadinya khawatir akan kemenangan IM karena dikenal sebagai gerakan radikal dan selalu melawan kepentingan AS dan sekutunya, dimana  salah satunya AS khawatir perjanjian damai antara Mesir dan Israel yang diprakarsai oleh AS dan dikenal dengan nama perjanjian Camp David akan terancam dibatalkan dan ini mengancam kepentingan AS di Timur Tengah dan praktis Israel akan semakin terkucil di kawasan Timur Tengah. Memang tidak ada yang  bisa menduga dan dapat menjamin perjanjian camp David ini akan aman setelah tergulingnya Presiden Husni Mubarok.

Dengan perubahan gerakan IM ini yang dilontarkan oleh pemimpin IM maka membuat AS dan sekutunya harus berpikir ulang untuk menentang atau tidak mengakui  kemenangan IM dalam pemilu Mesir ini, AS telah mencoreng mukanya sendiri ketika pemilu demokratis di Palestina pada 2006 silam dimenangkan oleh kelompok HAMAS, AS tidak mengakui HAMAS sebagai pemenang pemilu dan malah mengganggap HAMAS sebagai kelompok teroris dan harus dikucilkan.

Sekarang AS harus bersikap pragmatis dan mau tak mau harus mengakui  kalangan Islam sebagai pemenang pemilu Mesir paling demokratis tersebut, walaupun dalam banyak media internasional tidak ada sedikitpun tanggapan AS atas kemenangan partai-partai Islam di Mesir ini, apalagi memberikan selamat atas kemenangan tersebut.  IM sudah berpikir pragmatis demi kepentingan dan masa depan Mesir, namun kita masih menunggu dan melihat apa reaksi selanjutnya dari AS dan sekutunya serta Israel dalam merespon kemenangan mutlak partai-partai Islam di Mesir  tersebut.**

 

Fahmi Salsabila