Monthly Archives: February 2012

Jalan AS untuk Tekan Iran

Banyak pihak mengkhawatirkan campur tangan militer asing dalam konflik di Suriah. Campur tangan itu dikhawatirkan menjadikan Suriah seperti Libia dan  irak. Untuk memahami kondisi di Suriah tersebut, Media Indonesia mewawancarai Sekretaris Jenderal Masyarakat Indonesia untuk Kajian Timur Tengah (ISMES) Fahmi Salsabila akhir pekan lalu. Berikut kutipannya.

Apa yang Anda lihat dari krisis di Suriah ini?

ini memang dipengaruhi gelombang revolusi Timur Tengah atau Arab Spring yang dimulai dari Tunisia. Masyarakat Suriah sudah tidak ingin di bawah kekuasaan Al-Assad dan momentum gejolak demokrasi yang terjadi di negara-negara Arab membuat rakyat Suriah yang tadinya ditekan pun ingin berontak. Yang membuat ber-beda dengan negara-negara Timur Tengah lain, Suriah ini memiliki hubungan strategis dengan negara-negara Arab lain, salah satunya iran.

Diberitakan media asing bahwa AS telah menyiapkan militer mereka di Turki agar sewaktu-waktu cepat menggapai Suriah. Apa sebenarnya kepentingan AS di Suriah?

Saya lihat ini merupakan momentum yang sejalan dengan konflik yang terjadi dengan Iran. Mungkin ini menjadi pemanasan, soalnya Suriah merupakan sekutu dekat Iran. Menurut saya ini akan jadi sesuatu yang memudahkan. Dimulai dari situ (Suriah), lalu mendekat ke iran. Menurut saya Suriah dan iran ini mitra strategis yang penting.  iran menganggap Suriah sebagai mitra penting dan sebaliknya. Jadi seolah (AS) ingin menghabisi dua-duanya sekaligus dengan dalih (konflik) di Suriah itu, ya biasalah, dengan alasan untuk mengirim pasukan perdamaian. Seperti yang terjadi di Libia, pasukan asing membantu pemberontak supaya bisa menggulingkan kekuasaan walau di lain sisi, dalam tanda kutip, rakyat itu dibunuhi oleh pemimpinnya sendiri.

Apakah AS akan turun langsung dengan cepat, atau hanya lewat suplai senjata seperti yang diberitakan?

Kalau lewat tangan belakang (suplai senjata) itu sudah biasa dilakukan AS dan intelijen Israel. Tapi, kalau turun

secara langsung saya rasa masih agak sulit. AS hanya bisa turun lewat pasukan perdamaian, sedangkan oKi (organisasi Kerja Sama Islam) menentang pasukan perdamaian itu dikirim, lalu juga kan harus ada persetujuan dari Suriah, terus resolusi di PBB pun kan diveto. Jadi sulit un-tuk menempatkan pasu-kan perdamaian di sana. Cuma kalau di belakang layar itu pasti ada karena Amerika akan sekuat mungkin agar Bashar Al-Assad bisa jatuh dan Suriah berada dalam genggaman mereka. Se-lain itu, selama ini Al-Assad juga kan menentang Barat dengan keras, juga merupakan musuh Israel–yang sekutu abadinya AS. Salah satu kon  flik Israel-Suriah ialah perebutan dataran tinggi Golan yang direbut israel dalam perang enam hari, 1967.

“Saya lihat ini merupakan momentum yang sejalan dengan konflik yang terjadi dengan Iran. Mungkin ini menjadi pemanasan, soalnya Suriah merupakan sekutu dekat Iran.”

 

Bagaimana dengan Iran?

Saya rasa iran akan segera mengirim bantuan kepada Suriah. Saya baca kemarin Iran juga telah menempatkan pasukan perang, kapal perang dekat-dekat Teluk Persia, dekat-dekat Suriah. Mungkin itu juga sebagai bentuk antisipasi kalau Suriah diserang Israel atau AS. Saya juga baca kemarin di Middle East Forum bahwa pengiriman senjata secara terselubung  telah dilakukan. Walaupun beritanya belum valid, itu bisa saja terjadi karena Suriah ini mitra strategis mereka.  Saya pun yakin mungkin ada perjanjian rahasia antara Suriah dan Iran. Salah satu saja terancam, maka yang lainakan membantu. Analisis saya, Suriah dan  iran punya perjanjian strategis soal keamanan, juga dengan Rusia dan China. Kita ketahui Rusia dan China telah memveto resolusi yang diusulkan ke Dewan Keamanan PBB.

Bagaimana pula dengan Rusia dan China yang gigih memveto sanksi PBB terhadap Suriah. Apakah menurut Anda mereka juga akan menurunkan pasukan?

Kalau Rusia dan China karena memiliki hak veto, mereka akan lebih bermain lewat diplomatik.  itu sudah cukup sebagai dukungan buat Bashar.

Data PBB, berdasarkan pantauan kelompok HAM, korban di Suriah sudah mencapai 7.600 orang. Apakah meningkatnya jumlah korban itu juga dipengaruhi keberadaan tentara pembelot?

Pastinya tentara pembelot ini memiliki senjata seperti juga militer sehingga memungkinkan bentrok senjata yang berimbas pada warga sipil. Cuma buat pihak-pihak yang ingin keamanan terealisasi menginginkan transisinya terjadi dengan damai sehingga tidak terjadi konflik yang meluas seperti di libia sekarang ini, yang berimbas pada terjadinya pertempuran-pertempuran saudara antarsuku. Kalau memang rakyat menginginkan turun, liga Arab, PBB, dan oKi mendesak Al-Assad turun dengan elegan dan ganti dengan pemerintahan yang lebih demokratis. Asal Al-Assad turun saja mungkin akan lebih kondusif, tidak seperti di libia, ya paling tidak seperti di Mesir. Gejolak mungkin terjadi, tapi sedikit-sedikit saja. (DK/I-2)

 

dimuat di harian Media Indonesia cetak, selasa 28 Februari 2012 hal 23.

 

Syria counts vote of controversial referendum

Vote counting after Syria’s referendum on a new constitution is under way with the results expected on Monday, but Western nations and some of the opposition, which boycotted the exercise, have labelled the vote a sham.

More than 14 million people over the age of 18 were eligible to vote at 13,835 polling stations on Sunday in a ballot that could theoretically end five decades of one-party rule.

But with many parts of the country reeling from weeks of military assault, and army defectors engaged in a guerrilla campaign against loyalist troops, it was unclear how the ballot could prove to be convincing.

 

Western nations, including Canada and Germany, said the referendum was a farce.

“This is a dubious ploy by the [Bashar al] Assad regime to delay the inevitable while continuing its slaughter of Syrian civilians. Assad’s ‘referendum’ is a farce. It is also too little, too late,” John Baird, the Canadian foreign affairs minister, said in a statement, referring to the president.

“Assad must go. A new day must dawn for the Syrian people,” Baird added.

Guido Westerwelle, the German foreign minister, also called Sunday’s vote “a farce”.

Hillary Clinton, the US secretary of state who called the vote a “cynical ploy”, urged Syrians who still support the president to abandon him.

She said “the longer you support the regime’s campaign of violence against your brothers and sisters, the more it will stain your honour. If you refuse, however, to prop up the regime or take part in attacks … your countrymen and women will hail you as heroes.”

Al Jazeera’s Nisreen El-Shamayleh, reporting from neighbouring Jordan due to restrictions on foreign media, said she had spoken to Syrian activists who said the shelling of Homs had continued and that they were not interested in the referendum outcome.

‘Meaningless’ vote

The Syrian president had unveiled the proposed new national charter earlier this month in his latest reform pledge since protests erupted last March.

The resulting violence has left more than 7,600 people dead, monitors say. Syria blames the violence on “armed terrorist gangs”.

Assad has promised to hold parliamentary elections within 90 days if voters approve the new constitution. However, the decision to hold the referendum has failed to ease global pressure on his government.

Louay Safi, a leading member of the Syrian National Council, an opposition group, said the new constitution would be “meaningless” in bringing about change because it was being created by a government that continued to violate its own laws in its campaign to crush the uprising.

“The major problem is that the government is violating the current constitution,” Safi told Al Jazeera. “What we fear is if the regime stays intact, the new constitution will be meaningless.

“So the real step to have a new constitution is to have a new or transitional government.”

In Damascus, the Syrian capital, and its suburbs, opposition activists voiced similar scepticism over the vote.

“This was a constitution made to Bashar’s tastes and meanwhile we are getting shelled and killed,” a protester said.

“More than 40 people were killed today and you want us to vote in a referendum? … No one is going to vote.”

However, Adel Safar, the Syrian prime minister, said on Sunday that the opposition’s call for a boycott indicated a lack of interest in dialogue.

“If there was a genuine desire for reform, there would have been movement from all groups, especially the opposition, to
start dialogue immediately with the government to achieve the reforms and implement them on the ground,” he said.

Raging violence

The referendum took place as government security forces shelled residential areas in Bab Amr neighbourhood in the central city of Homs for the 26th day in a row, reportedly killing at least nine people, according to the Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), a UK-based opposition group.

The group said that rebel soldiers had also killed at least four government troops in the city.

The SOHR said that eight civilians and 10 members of the government’s security forces were killed elsewhere in the country, bringing the total death toll for Sunday to 31.

Intense violence was reported in the province of Deraa, where the uprising first began last March.

One-party rule

The charter, framed by a committee of 29 people appointed by Assad, would drop the highly controversial Article 8 in the existing charter, which makes the Baath party “the head of state and society”.

That would effectively end the monopoly on power the Baathists have enjoyed since they seized power in a 1963 coup that brought Assad’s late father, Hafez, to power.

Instead, the new political system would be based on “pluralism,” although it would ban the formation of parties on religious lines.

Under the new charter, the president would maintain his grip on broad powers, as he would still name the prime minister and government and, in some cases, could veto legislation.

Article 88 states that the president can be elected for two seven-year terms, but Article 155 says these conditions only take effect after the next election for a head of state, set for 2014.

This means that Assad could theoretically stay at the helm for another 16 years.

This is Syria’s third referendum since Assad inherited power from his late father. The first installed him as president in
2000 with an official 97.2 per cent in favour. The second renewed his term seven years later with 97.6 per cent in favour.

source: aljazeera

Israel Sulit Lakukan Serangan Udara ke Iran

NEW YORK, KOMPAS.com — Israel akan sangat sulit untuk melakukan sebuah serangan udara terhadap beberapa instalasi nuklir Iran, kata sejumlah pejabat pertahanan AS dan pengamat militer, seperti dilaporkan harian New York Times, Selasa (21/2/2012).

Pasalnya, begitu Israel memutuskan untuk menyerang Iran, para pilotnya harus terbang menempuh jarak lebih dari 1.600 kilometer, menyeberangi wilayah udara sejumlah negara yang tidak bersahabat, mengisi bahan bakar di udara, menghadapi pertahanan udara Iran, menyerang sejumlah tempat secara bersamaan, dan menggunakan sedikitnya 100 pesawat.

Sejumlah pejabat pertahanan AS dan pengamat militer yang dekat dengan Pentagon mengatakan, serangan Israel yang bertujuan untuk menghancurkan program nuklir Iran akan menjadi sebuah operasi besar dan sangat kompleks. Mereka menggambarkan, serangan itu akan berbeda jauh dari serangan Israel terhadap sebuah reaktor nuklir Suriah tahun 2007 dan reaktor Osirak Irak tahun 1981.

New York Times mengutip pernyataan Letnan Jenderal David Deptula, yang tahun lalu pensiun sebagai pejabat senior intelijen Angkatan Udara AS dan dulu merencanakan serangan udara AS tahun 2001 di Afganistan dan Perang Teluk 1991. Deptula menegaskan, sebuah serangan udara Israel terhadap Iran tidak akan mudah dilakukan.

Spekulasi bahwa Israel mungkin akan menyerang Iran telah berkembang dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan ketegangan antara kedua negara yang meningkat. Iran menuding Israel atas serangkaian pembunuhan terhadap sejumlah ilmuwan nuklirnya. Sebaliknya, Israel menuduh Iran berada di balik serangkaian ledakan bom pada pekan lalu yang tampaknya menyasar para diplomatnya di Georgia, India, dan Thailand.

Dalam suasana yang makin mengkhawatirkan itu, penasihat keamanan nasional AS, Thomas Donilon, bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di Yerusalem, hari Minggu. Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Martin Dempsey, melalui CNN sebelumnya memperingatkan bahwa serangan Israel terhadap Iran sekarang ini akan menimbulkan “destabilisasi”. Menteri Luar Negeri Inggris William Hague, juga mengatakan kepada BBC bahwa menyerang Iran bukan “hal yang bijaksana” bagi Israel “saat ini”.

Sementara itu, seorang juru bicara Israel di Washington mengatakan, negara Yahudi itu terus mendorong sanksi lebih keras terhadap Iran. Ia menegaskan, Israel, seperti halnya Amerika Serikat, “tetap menempatkan semua pilihan di atas meja”.

Prihal kemungkinan rencana serangan Israel telah menjadi sumber perdebatan di Washington, kata New York Times. Sejumlah pengamat mempertanyakan apakah Israel punya kemampuan militer jika hal itu dilakukan. Salah satu ketakutan adalah bahwa AS akan terjerumus untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Michael Hayden, yang menjadi direktur CIA tahun 2006 hingga 2009, bulan lalu mengatakan, serangan udara untuk merusak secara serius program nuklir Iran “berada di luar kapasitas” Israel.

Karena Israel ingin menyerang empat lokasi nuklir utama Iran, yaitu fasilitas pengayaan uranium di Natanz dan Fordo, reaktor air di Arak dan pembangkit yellowcake-conversion di Isfahan, maka menurut para analis militer, masalah pertama adalah bagaimana menuju ke sana. Ada tiga rute potensial: rute utara via Turki, rute selatan melalui Arab Saudi atau  rute tengah melewati Yordania dan Irak.

Rute via Irak akan menjadi yang paling langsung dan paling mungkin, kata para pengamat pertahanan, karena Irak tidak memiliki pertahanan udara dan AS, setelah menarik diri pada Desember, tidak lagi memiliki kewajiban untuk membela langit Irak. Dengan asumsi Yordania akan memberi toleransi terhadap penerbangan lintas perbatasan oleh Israel, masalah berikutnya adalah jarak. Israel memiliki jet tempur F-15I dan F-16i rakitan AS yang dapat membawa bom ke sasaran. Namun jangkauan jet-jet itu terbatas, tidak sanggup mencapai jarak 3.200 kilometer pergi-pulang.

Rintangan beart lainnya adalah persediaan bom Israel yang mampu menembus fasilitas di Natanz dan Fordo, yang dibangun di dalam sebuah gunung. Dengan asumsi tidak menggunakan perangkat nuklir, Israel punya bom penghancur bunker GBU-28 seberat 2.200-kilogram buatan AS yang dapat merusak target tersebut, meskipun tidak jelas seberapa jauh bom bisa menjangkau sasaran yang berada di dalam perut gunung.

“Hanya ada satu negara adidaya di dunia yang dapat melakukan ini,” kata Jenderal Deptula.

Videos, Slideshows and Podcasts by Cincopa Wordpress Plugin