Home » Article and Analysis » Hamdan Basyar: Demo Libya Cermin Pemimpin Tak Peduli Rakyat » 947 views

Hamdan Basyar: Demo Libya Cermin Pemimpin Tak Peduli Rakyat

Jakarta – Libya merupakan negara dengan GDP per kapita tertinggi di Afrika. Kemampuan membaca masyarakatnya tinggi yakni 82%. Pemerintah pun menggratiskan biaya pendidikan dasar bagi masyarakatnya. Namun itu semua tidak menjamin ketiadaan gelombang protes.

Rakyat mendemo penguasa lantaran berkuasa terlalu lama sehingga menimbulkan kesewenang-wenangan. Keinginan rakyat agar ada pengaturan periode kepemimpinan tidak ditanggapi. Semua hal harus seperti yang dititahkan sang pemimpin, Muammar Khadafi.

“Ini pelajaran buat kita. Kesejahteraan ekonomi bukan jaminan tidak ada protes dari rakyat. Kalau pemimpinnya tidak peduli apa yang dimau rakyat bisa saja begitu,” ujar pengamat politik Timur Tengah Hamdan Basyar.

Hal itu disampaikan Hamdan menanggapi demonstrasi besar rakyat Libya yang meminta Khadafi muncur. Khadafi merespons demo tersebut dengan tindakan represif sehingga ratusan orang tewas.

Berikut ini wawancara detikcom dengan peneliti utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang juga Direktur Eksekutif ISMES (Indonesian Society for Middle East Studies), Selasa (1/3/2011):

Gelombang demonstrasi besar pun merembet ke Libya. Mengapa demikian?

Ini memang jadinya menjalar ke mana-mana, Tunisia, Mesir, lalu Libya dan lainnya. Ini ada permasalahan hubungan penguasa dan rakyat. Dan tampaknya karena penguasa berkuasa terlalu lama, 42 tahun, maka rakyat menginginkan reformasi untuk membatasi kepemimpinan. Mereka menginginkan sirkulasi kepemimpinan.

Ketika ada peristiwa serupa di Tunisia, Mesir, mereka memanfaatkan momen untuk mereformasi politiknya. Dalam dunia yang sudah terbuka, perlu ada keterbukaan rakyat dan pemimpin, butuh sirkulasi kepemimpinan yang jelas.

Ketika ada masalah ekonomi, bisa juga itu turut mendukung. Kondisi rakyat yang kurang sejahtera seperti Bahrain menimbulkan protes. Namun ketika ini terjadi di negara yang cukup sejahtera, maka mematahkan asumsi bahwa negara yang kurang sejahtera kurang peduli rakyat. Karena ini ternyata bisa terjadi di mana-mana.

Seperti Mubarak di Mesir, Khadafi juga menolak mundur meski sudah dituntut mundur. Mengapa?

Khadafi orangnya lebih keras dibanding Mubarak. Dia keras sejak menggulingkan pemerintahan sebelumnya, Raja Idris, pada 1969. Dia memang kepala negara yang agak aneh. Di negeri itu tidak ada seorang pun berpangkat jenderal karena Khadafi adalah seorang kolonel.

Dia juga punya gaya hidup yang aneh dengan tinggal di tenda dan membawa-bawa tendanya. Mungkin dia ingin menunjukkan kesederhanaannya. Tapi ini ternyata masih diprotes oleh rakyatnya. Rakyat menginginkan reformasi politik, adanya sirkulasi kepemimpinan.

Militer merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting di sini. Sekarang ini kondisinya tidak semua anggota militer masih loyal ke Khadafi karena ada juga sebagian yang membelot. Kalau pasukan elite militer menggerogoti kekuasaan Khadafi, maka dia akan jatuh juga.

Sekarang ini di dunia yang serba terbuka, susah untuk menghindar dari mata dunia. Kalau dia melakukan kekerasan, tidak akan bisa menyembunyikan kekerasannya.

Di saat yang bagaimana Khadafi akan turun?

Kalau semakin banyak elite militer yang membelot tentu akan makin cepat mundur. Apalagi kalau kota-kota yang dikuasi oleh massa anti Khadafi semakin banyak. Saya dengar di Benghazi mantan menteri kehakiman membuat pemerintahan sementara. Kalau ini masih bertahan, jangan-jangan bisa ada dua kekuasaan yakni Tripoli dan Benghazi.

Kalau sudah semakin banyak kota anti Khadafi maka turunnya Khadafi tinggal tunggu waktu. Lagipula umurnya juga sudah 70-an, sudah tidak seganas dulu.

Barat ikut bermain dalam aksi di Libya ini?

Memang masyarakat internasional tidak akan tinggal diam kalau masyarakat sipil dibunuhi. Atas apa yang terjadi di Libya, PBB dan beberapa negara telah memberikan tekanan ke Libya.

Barat tentunya punya kepentingan di Libya, yakni mengganti pemimpin Libya yang dianggap ‘bandel’ dengan yang lebih pro Barat. Khadafi itu salah satu yang dianggap bandel dan pernah dijatuhi hukuman embargo. Lalu setelah menyerahkan pengebom Lockerbie, tekanan pada Libya relatif lebih turun.

Di Libya itu ada minyak sebagai daya tarik. Maka ada faktor ekonomi yang membuat Barat terdorong untuk memperhatikan negara itu. Mereka tentunya ingin, pemimpin selanjutnya bisa menjadi rekan yang baik bagi mereka.

Beberapa negara membangun pangkalan militer di sekitar Libya, seperti AS, Inggris dan Prancis. Indikasi apa?

Saya tidak tahu apakah pangkalan yang dibangun merupakan pangkalan penuh dan tjuan untuk apa. Kalau benar membangun pangkalan militer, mungkin itu dalam rangka mengamankan wilayah. Yang jelas mereka punya kepentingan ekonomi di sana, karena ada beberapa negara yang memiliki perusahaan di sana, jadi tentu mau diamankan.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menjatuhkan sederet sanksi untuk Khadafi, mulai dari membekukan aset di luar negeri sampai melarang berpergian bagi Khadafi dan keluarganya. Apa dampaknya?

Ini sanksi cukup keras. Kalau aset Khadafi di luar negeri tidak bisa dicairkan, maka dia tidak akan punya uang. Kalau dia tidak bisa keluar negeri, maka bisa dihukum oleh rakyat. Istilahnya dicekal-lah kalau bahasa kita. Ini akan mempermudah untuk menghukum.

Kalau semakin banyak kota dikuasai anti Khadafi maka dia akan lebih cepat turun. Apalagi kalau Tripoli dikuasai. Mereka yang anti Khadafi telah bergerak mulai dari timur, lalu ke barat, ke arah Tripoli. Kalau Tripoli dikuasai ya tinggal tunggu waktu. Apalagi kalau militer membelot.

Apa arti penting Libya bagi Barat selain karena minyak buminya?

Ini memang beda dengan Mesir. Kalau Mubarak (mantan Presiden Mesir) bisa ikut bantu dalam menjembatani kepentingan Arab dan Barat, termasuk Israel. Kalau di Libya ini agak beda. Khadafi ini orang yang sangat senang dengan kepemimpan gaya Nasser (presiden kedua Mesir, Gamal Abdul Nasser). Dia juga ingin mempersatukan Arab seperti Nasser.

Kalau orang-orang seperti ini masih ada, yang akibatnya Arab bersatu, maka kepentingan Barat di Timur Tengah terancam. Jadi orang yang ingin mempersatukan Arab ditumbangkan. Barat inginnya tokoh-tokoh yang masuk pengaruh Barat. Ada kepentingan menyingkirkan tokoh yang membahayakan kepentingan Barat.

Khadafi menuding bahwa Al Qaeda bertanggungjawab atas timbulnya aksi unjuk rasa besar-besaran di Libya?

Wallahu a’lam. Kalau toh ada, mungkin saja. Dalam hitungan Khadafi, tokoh Al Qaeda itu kan Osama bin Laden yang merupakan didikan Amerika dan awalnya dekat dengan CIA. Lalu AS menciptakan monster Bin Laden yang diikuti oleh Al Qaeda. Sehingga Khadafi ingin mempersalahkan itu, secara tidak langsung AS juga.

Bagaimana ke depannya, melihat situasi sekarang tidak terlihat tokoh alternatif yang menonjol?

Selama 40 tahun lebih berkuasa dengan otoritas lebih dan keras, tokoh alternatif agak susah. Tokoh yang keras kepada pemerintah sempat terusir, sehingga agak sulit tokoh penggantinya.

Semula, Khadafi menyiapkan anaknya untuk menjadi penggantinya. Jadi ini sudah seperti kerajaan. Kalau Khadafi, mungkin dari militer yang akan memegang transisi. Tapi selanjutnya perlu dipersiapkan pemimpin seperti apa yang tepat bagi Libya ke depan, dan jangan sampai mengulangi apa yang dilakukan Khadafi, berkuasa demikian lama. Reformasi yang diinginkan rakyat harus diwujudkan.

Kemungkinan kudeta?

Mungkin saja, tergantung elite militer di sana. Kasarnya, semakin banyak anti Khadafi yang menguasai kota akan dilihat oleh militer. Militer bisa melihat kemungkinan itu untuk menurunkan,dengan cara baik-baik atau mengkudeta.

Kalau diturunkan baik-baik, sepertinya susah. Khadafi pasti akan melawan sekuat tenaga. Kalau dia mengerahkan kekuatan pendukungnya, bisa jadi ada perang saudara dan ini akan lama.

PBB harus cepat turun memediasi selain hanya mengeluarkan resolusi?

Kalau masih ada Mubarak barangkali bisa diminta ikut memediasi. Tapi sekarang sulit tokohnya yang bisa masuk ke sana. PBB perlu turun tangan. Ketika sudah ada pembunuhan, kejahatan, tentu harus dicegah agar jangan menjalar. Terkadang PBB juga standar ganda, di satu tempat begini di tempat lain beda lagi. Terlepas dari itu, kekerasan pada penduduk sipil tidak bisa dibiarkan.

Apa pelajaran berharga untuk kita?

Jadi waktu seseorang yang berkuasa harus dibatasi. Tanpa dibatasi akan menimbulkan kesewenang-wenangan. Kalau ada kesewenang-wenangan, tentu akan diprotes. Ini pelajaran buat kita. Kesejahteraan ekonomi bukan jaminan tidak ada protes dari rakyat. Kalau pemimpinnya tidak peduli apa yang dimau rakyat bisa saja begitu

Apa yang terjadi di sana menunjukkan betapa kuatnya pengaruh jejaring sosial di dunia maya?

Mobilisasi massa, penjaringan kekuatan melalui dunia maya bisa ke mana-mana karena lebih mudah dan murah. Tidak usah langsung gunakan senjata, tapi dengan satu gerakan di dunia maya. Ini terjadi di Mesir dan Libya. Ini pelajaran yang lain buat kita, hati-hati terhadap penggalangan kekuatan dari dunia maya untuk menjatuhkan pemerintahan. Maka itu pemerintah harus tahu apa yang dimau rakyat.

http://www.detiknews.com/read/2011/03/01/161501/1582297/158/hamdan-basyar-demo-libya-cermin-pemimpin-tak-peduli-rakyat