Home » Article and Analysis » Fahmi Salsabila: Mesir Krisis Tokoh Muda » 933 views

Fahmi Salsabila: Mesir Krisis Tokoh Muda

Jakarta – Hosni Mubarak resmi turun dari kursi Presiden Mesir. Pemimpin selanjutnya di bumi Umm al Dunya alias Ibu Dunia ini masih dicari. Tokoh-tokoh yang menonjol adalah dari kalangan tua. Mesir krisis tokoh muda.

“Di Mesir ada Muhammad Hussein Tantawi, Menteri Pertahanan yang menjadi majelis tertinggi militer yang diserahi kekuasaan untuk memimpin Mesir sementara. Ada Omar Suleiman, Wapres Mesir, yang juga merupakan orang Mubarak dan punya kedekatan dengan AS. Ada juga ElBaradei, tapi dia belum lama kembali dari luar negeri dan belum mengakar pada rakyat. Semua tokoh itu adalah tokoh-tokoh tua,” kata pengamat politik Timur Tengah, Sekjen The Indonesian Society for Middle East Studies.

Untuk diketahui, Tantawi berumur 75 tahun. Sedangkan Omar Suleiman, setahun lebih muda dari Tantawi. Usia Suleiman 76 tahun. Dan ElBaradei lebih muda dari Tantawi dan Suleiman, yakni 68 tahun. Tokoh mudanya belum ada yang terlihat menonjol.

Berikut ini wawancara detikcom dengan Fahmi, Senin (14/2/2011):

Pejabat AS menyebut Indonesia bisa menjadi contoh terbaik bagi Mesir. Pendapat anda?

Kalau melihat dari tuntutan rakyat, ada demonstrasi besar-besaran yang kemudian
disusul dengan Soeharto turun, itu pengalaman yang sama. Rakyat tidak menginginkan
pemimpin yang otoriter. Hal yang sama juga diinginkan rakyat Tunisia.

Persamaan Indonesia dengan Mesir adalah rakyat sama-sama meminta presidennya yang
otoriter turun. Mereka menginginkan rezim yang penuh korupsi di mana angka
pengangguran tinggi segera diganti. Ini sama.

Yang diharapkan adalah pemerintah transisi yang lebih baik daripada saat zaman
Hosni Mubarak. Nah, Indonesia yang punya pengalaman ini, secara umum apa yang
dilakukan Indonesia bisa diadopsi. Misalnya cara Indonesia dalam berdiskusi dengan
oposisi.

Perjuangan rakyat Mesir belum selesai. Sekarang militer yang memegang kekuasaan
setelah Mubarak turun. Militer membubarkan parlemen dan tidak menggunakan
konstitusi sebelumnya. Ini belum cukup. Harus terus ada pengawalan sampai nanti ada
pemerintahan yang diinginkan rakyat, tentunya pemerintahan yang lebih baik.

Model dialog yang dilakukan Indonesia saat reformasi mungkin bisa dicontoh. Tapi
sayangnya di Indonesia, reformasi sudah jalan namun dari program-programnya masih
banyak rakyat yang belum merasakan kesejahteraan. Nah, jangan sampai di Mesir
begitu. Jangan sampai rakyat Mesir terlena dengan kemenangannya. Jangan sampai
sistem bagus, beda orang, beda zaman, tapi tidak ada perubahan sehingga lagi-lagi
rakyat yang jadi korban.

Pejabat AS menyampaikan seperti itu karena ingin Mesir seperti Indonesia? Ada
kepentingan lain?

Dua negara ini dulunya sama-sama dipimpin oleh sosok yang ‘tangan besi’, ekonomi
bermasalah karena kekayaan hanya dinikmati segelintir orang, angka pengangguran
yang besar dan ada pemberangusan pers. Mubarak dan Soeharto juga mirip. Mereka
sama-sama memiliki karir di militer yang cemerlang. Bedanya Soeharto dari Angkatan
Darat sedangkan Mubarak dari Angkatan Udara.

Saat Soeharto ada peristiwa terkait PKI. Sedangkan Mubarak ada peristiwa
pemberontakan Presiden Mesi kala itu, Anwar Sadat. Nah hal-hal ini mungkin yang
kemudian menyebabkan pejabat AS menganalogikan dengan mengambil contoh Indonesia.

Bahwa saat didemo, digempur karena sudah tidak lagi mendapat legitimasi rakyat lalu
turun dengan legowo, ini yang mungkin ingin ditekankan dengan mengambil contoh
Indonesia. Ini suatu proses yang masih panjang bagi Mesir.

Obama memang pernah mengatakan bahwa Mubarak harus mendengar kata rakyat dan dunia ketika Mubarak tidak juga turun dari presiden. Tapi sepertinya di belakang kata-
kata itu ada kekhawatiran pemerintahan akan dilanjutkan oleh kelompok yang bagi
mereka adalah garis keras, seperti Ikhwanul Muslimin.

Dengan dipegang oleh militer, maka sementara AS merasa aman. Hal itu dikarenakan
militer Mesir dekat dengan AS. Banyak perwira tinggi di militer Mesir yang
perwiranya mendapat pendidikan AS, dan senjata militernya juga dari AS.

AS tentunya berharap pemilu di Mesir yang akan digelar September 2011 tidak
berlangsung seperti di Palestina. AS mendukung demokrasi supaya berjalan dengan
baik, tapi ketika Hamas menang di sana (Palestina), AS tidak mengakui. Jangan
sampai kalau nantinya Ikhwanul Muslimin menang di pemilu, AS juga tidak mengakui.
Di Timur Tengah, standar ganda AS sangat terlihat.

Transisi Mesir baru saja dimulai seperti yang disampaikan Obama?

Iya. Seperti saya katakan tadi, perjalanan Mesir masih panjang. Segala kemungkinan
bisa terjadi. Oposisi dan tokoh Mesir semoga bisa meminimalisir upaya penyetiran
pihak asing.

Sekarang yang memegang kekuasaan adalah militer, dan rakyat mengawasinya dengan
adanya Dewan Pengawas. Rakyat sudah menyatakan, kalau pemerintahan tidak sesuai
dengan yang diharapkan mereka akan menyampaikan tuntutan lebih besar lagi. Mereka
menyatakan tidak akan berhenti sampai tuntutan dipenuhi. Upaya penyetiran pasti
ada, karena AS ingin kepentingannya dan Israel di Mesir tetap aman.

Keinginan rakyat Mesir lebih pada Mubarak diganti saja atau menginginkan Mesir lepas dari pengaruh asing?

Semua rakyat seluruh dunia mengharapkan negaranya punya pandangan sendiri, punya otoritas sendiri. Apalagi Mesir itu strategis. Dari segi ekonomi, misalnya, mereka memiliki Terusan Suez.

Sebetulnya peran ini sudah dimainkan oleh pemimpin mesir, terutama Hosni Mubarak. Waktu perang Irak-Iran, Mesir mengambil posisi mendukung Irak. Ketika perang Irak- Kuwait, Mesir mendukung supaya Irak mundur. Mesir aktif mengambil hati Irak, ambil hati AS. Ini dimainkan Mesir karena sadar punya posisi penting.

Tapi karena personelnya terlena oleh kekuasaan yang lama, lalu Mesir menjadi negara kedua di Timur Tengah yang mendapatkan bantuan besar setelah Israel, maka begitulah yang terjadi. Apalagi bantuan itu ternyata dimanfaatkan oleh segelintir orang dan bukan untuk menghidupi rakyat Mesir. Tapi saya yakin, rakyat Mesir ingin pemerintahan baru yang tidak otoriter dan yang punya pandangan sendiri.

Melihat situasi sekarang, kemungkinan Mesir hanya akan berubah pemimpin, tapi akan kembali dikuasai diktator atau bagaimana?

Kemungkinan itu ada. Di Mesir ada Muhammad Hussein Tantawi, Menteri Pertahanan yang menjadi majelis tertinggi militer yang diserahi kekuasaan untuk memimpin Mesir sementara. Ada Omar Suleiman, Wapres Mesir, yang juga merupakan orang Mubarak dan punya kedekatan dengan AS. Ada juga ElBaradei, tapi dia belum lama kembali dari luar negeri dan belum mengakar pada rakyat.

Semua tokoh itu adalah tokoh-tokoh tua. Tokoh mudanya belum kelihatan. Satria piningitnya belum terlihat. Dari kalangan oposisi, Ikhwanul Muslimin, ada tokoh juga tapi tidak terlalu dikenal. Namun AS pasti akan berusaha keras tidak akan ada nama dari kalangan ini di pemerintahan.

Ikhwanul Muslimin itu sebenarnya dari organisasi kuat tapi dulu ada UU yang bisa membuat Mubarak memberangus lawan politiknya. Apa yang terjadi di Mesir ini adalah akhir dari satu langkah awal. Jangan sampai ada Mubarak II atau Mubarak III. Suara rakyat harus benar-benar didengarkan.

Pemerintah militer Mesir mengatakan membubarkan parlemen dan tidak menggunakan konstitusi untuk sementara waktu. Implikasinya apa?

Pasti akan terjadi kevakuman. Harus segera dipikirkan supaya tidak terhadi vaccum of power atau vaccum of rule. Ini merupakan masa yang sulit. Kalau begini, saya yakin sedang terjadi tarik ulur, kan di Mesir juga banyak oposisi. Biasalah kalau ingin kekuasan maka harus bersaing.

Kevakuman ini harus dipikirkan oleh pemerintahan sementara. Sekarang memang militer yang jadi pemimpin, tapi tidak menutup kemungkinan adanya koalisi sementara. Nanti dibuat aturan baru untuk pemilu September. Ini memang darurat, tapi memang beginilah saat transisi.

Militer merasa membubarkan parlemen dan tidak menggunakan konstitusi lebih baik, padahal menyebabkan vaccum of power?

Ini dilematis sebenarnya. Parlemen yang ada kan merupakan hasil pemilu lalu yang cacat. Tapi dari segi lainnya, ada vaccum of power yang membuat bias dan kosong. Mungkin mereka merasa vaccum of power sementara lebih baik ketimbang ada parlemen dari pemilu yang cacat.

Saat seperti ini pihak asing bisa memanfaatkan peluang untuk masuk?

Sebenarnya AS sudah masuk. Ada setiran, ada remote control. Hussein Tantawi yang jadi kepala Dewan Tertinggi Militer itu kan dekat dengan AS. Apalagi perwira tingginya juga hasil didikan AS. Kondisi ini sementara sudah aman buat AS. Soalnya kalau membiarkan Mubarak bertahan nanti AS malu juga.

Apa yang dilakukan rakyat Mesir selama 18 hari sia-sia karena tidak ada perubahan?

Kalau untuk rakyat, bisa menurunkan pemimpin yang korup dan otoriter itu merupakan langkah besar. Jumat lalu jelas tidak bisa dilupakan oleh rakyat Mesir. Ini tingal bagaimana merumuskan pemerintahan selanjutnya setelah Mubarak lengser.

Ini prestasi besar. Tapi jangan sampai membuat rakyat Mesir terlena. Harapan sekarang di tangan Dewan Rakyat yang diharapkan dapat mengawasi militer benar-benar bisa bekerja untuk rakyat. Kalau militer tidak memenuhi apa yang diinginkan rakyat, tidak mengubah apa pun, mereka sudah mengancam untuk melakukan demo yang lebih besar.

Saat ini, kondisi Mesir cooling down memang iya, tapi jangan sampai terlarut sehingga vaccum of power berjalan lama. Pengawalan pemerintahan sementara dan untuk menggelar pemilu yang adil, jujur dan demokratis harus dilakukan.

sumber: http://www.detiknews.com/read/2011/02/14/173434/1571181/158/fahmi-salsabila-mesir-krisis-tokoh-muda