The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)
Masyarakat Indonesia Peminat Kajian Timur Tengah
Masyarakat Indonesia Peminat Kajian Timur Tengah
Sep 4th
REPUBLIKA.CO.ID,JERUSALEM–Simon Wiesenthal, salah seorang korban Holocaust yang lolos dari maut, dan menjadi terkenal berkat upaya perburuan tokoh-tokoh nazi, ternyata bekerja untuk dinas rahasia Israel, Mossad. Demikian diberitakan oleh harian The New York Times Jum’at ini, mengutip penerbitan biografi baru Simon Wiesenthal (1908-2005).
Dalam biografi dengan judul ‘Pemburu Nazi’ ini, sejarawan Israel, Tom Segev, yang juga bekerja pada harian Haaretz, menyatakan, Simon Wiesenthal selama bertahun-tahun bekerja untuk Bagian Politik Departemen Luar Negeri Israel, dan kemudian untuk Mossad. Pada tahun 1960, Departemen Luar Negeri Israel membiayai pendirian kantornya di Wina dan menyediakan paspor Israel baginya. Simon Wiesenthal bekerja dengan nama sandi Theocrat.
Simon Wiesenthal berperan penting dalam upaya pelacakan penjahat perang Adolf Eichmann. Pada tahun 1962, tokoh nazi ini diadili di Israel, dan kemudian mendapat hukuman gantung.
Simon Wiesenthal juga terlibat dalam upaya pelacakan ratusan tokoh nazi lainnya. Ia antara lain berhasil melacak identitas petugas polisi yang menangkap keluarga Anne Frank di tempat persembunyian mereka, di Amsterdam.
Sep 4th
REPUBLIKA.CO.ID, JALUR GAZA–Meski memenangkan pemilu di Palestina, Hamas tetap terpinggirkan. Dalam perundingan penting yang kini tengah berlangsung di Washington, Amerika Serikat antara Palestina dan Israel ini pun, Hamas seolah tak terdengar suaranya.
Peranan Hamas dalam pembicaraan damai Israel-Palestina memang tidak disebut-sebut. Baik kedua negara yang berunding maupun AS mengesampingkan Hamas yang secara tegas menolak negosiasi ini.
Penolakan Hamas terhadap pembicaraan damai ini ditunjukkan dengan aksi-aksinya yang menelan korban. Aksi ini seakan menggarisbawahi bahwa tidak akan ada perdamaian tanpa keterlibatan Hamas. Sejauh ini belum ada niatan AS untuk turut serta mengundang Hamas dalam negosiasi perdamaian apapun.
“Serangan ini dimaksudkan untuk memberi tahu (Presiden Palestina Mahmoud) Abbas, bahwa dia bukan orang yang memutuskan nasib rakyat Palestina,” kata Ahmed Yousef, pejabat senior Hamas di Gaza, Jumat (3/9). Serangan itu menewaskan empat warga Israel. Ia mengulangi, bahwa yang layak dalam pengambilan keputusan nasional adalah Hamas karena merekalah memenangkan pemilihan parlemen pada 2006.
“Hamas tidak akan pernah setuju untuk diabaikan dan terisolasi dan kami dapat membongkar susunan kartu,” lanjutnya. Hamas mengendalikan Jalur Gaza, salah satu dari dua wilayah yang seharusnya menjadi bagian dari negara Palestina di masa depan.
Hamas akan memveto kesepakatan apa pun yang dihasilkan dalam negosisasi ini dan tidak memberikan indikasi akan bersedia menerima kesepakatan dengan Israel dengan Abbas yang saat ini menjalankan pemerintahan saingan Hamas di Tepi Barat.
Abbas dan Netanyahu berbeda pendapat sangat jauh pada masalah yang membuat pembicaraand damai selalu gagal. Perbedaan meliputi perbatasan negara Palestina, nasib jutaan pengungsi Palestina, dan masalah paling menonjol: klaim atas kota suci Yerusalem. Seandainya terjadi kesepakatan antara Abbas dan Netanyahu, Hamas akan diperlukan untuk melaksanakan kesepakatan.
Warga Palestina meminta Tepi Barat dan Gaza, yang terletak di sisi berlawanan dari Israel, sebagai negara masa depan mereka, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Untuk saat ini, rakyat Palestina sepakat pada satu masalah, tidak mungkin ada kedamaian jika tidak mengikutsertakan 1,5 juta warga yang tinggal di Gaza.
Abbas telah menolak solusi parsial, memberikan kemerdekaan hanya untuk Tepi Barat dan 2,4 juta warga Palestina. Ini akan dianggap oleh masyarakat Palestina sebagai tanda kelemahan dan Hamas akan mencap Abbas sebagai pengkhianat. Abbas telah berulang kali menganggap negosiasi perjanjian damai sebagai referendum nasional yang juga akan meliputi orang-orang di wilayah Gaza.
Aug 20th
ISMES bekerjasama dengan Kemendiknas RI, mengadakan pelatihan bhs. Arab dan pengenalan budaya Timur Tengah, sekaligus buka puasa bersama. acara dilaksanakan pada:
Wassalam
admin
Aug 1st
• Hundreds of civilians killed by coalition troops
• Covert unit hunts leaders for ‘kill or capture’
• Steep rise in Taliban bomb attacks on Nato
• Read the Guardian’s full war logs investigation
The disclosures come from more than 90,000 records of incidents and intelligence reports about the conflict obtained by the whistleblowers’ website Wikileaks in one of the biggest leaks in US military history. The files, which were made available to the Guardian, the New York Times and the German weekly Der Spiegel, give a blow-by-blow account of the fighting over the last six years, which has so far cost the lives of more than 320 British and more than 1,000 US troops.
Their publication comes amid mounting concern that Barack Obama’s “surge” strategy is failing and as coalition troops hunt for two US naval personnel captured by the Taliban south of Kabul on Friday.
The war logs also detail:
• How a secret “black” unit of special forces hunts down Taliban leaders for “kill or capture” without trial.
• How the US covered up evidence that the Taliban have acquired deadly surface-to-air missiles.
• How the coalition is increasingly using deadly Reaper drones to hunt and kill Taliban targets by remote control from a base in Nevada.
• How the Taliban have caused growing carnage with a massive escalation of their roadside bombing campaign, which has killed more than 2,000 civilians to date.
In a statement, the White House said the chaotic picture painted by the logs was the result of “under-resourcing” under Obama’s predecessor, saying: “It is important to note that the time period reflected in the documents is January 2004 to December 2009.”
The White House also criticised the publication of the files by Wikileaks: “We strongly condemn the disclosure of classified information by individuals and organisations, which puts the lives of the US and partner service members at risk and threatens our national security. Wikileaks made no effort to contact the US government about these documents, which may contain information that endanger the lives of Americans, our partners, and local populations who co-operate with us.”
The logs detail, in sometimes harrowing vignettes, the toll on civilians exacted by coalition forces: events termed “blue on white” in military jargon. The logs reveal 144 such incidents.
Some of these casualties come from the controversial air strikes that have led to Afghan government protests, but a large number of previously unknown incidents also appear to be the result of troops shooting unarmed drivers or motorcyclists out of a determination to protect themselves from suicide bombers.
At least 195 civilians are admitted to have been killed and 174 wounded in total, but this is likely to be an underestimate as many disputed incidents are omitted from the daily snapshots reported by troops on the ground and then collated, sometimes erratically, by military intelligence analysts.
Bloody errors at civilians’ expense, as recorded in the logs, include the day French troops strafed a bus full of children in 2008, wounding eight. A US patrol similarly machine-gunned a bus, wounding or killing 15 of its passengers, and in 2007 Polish troops mortared a village, killing a wedding party including a pregnant woman, in an apparent revenge attack.
Questionable shootings of civilians by UK troops also figure. The US compilers detail an unusual cluster of four British shootings in Kabul in the space of barely a month, in October/November 2007, culminating in the death of the son of an Afghan general. Of one shooting, they wrote: “Investigation controlled by the British. We are not able to get [sic] complete story.”
A second cluster of similar shootings, all involving Royal Marine commandos in Helmand province, took place in a six-month period at the end of 2008, according to the log entries. Asked by the Guardian about these allegations, the Ministry of Defence said: “We have been unable to corroborate these claims in the short time available and it would be inappropriate to speculate on specific cases without further verification of the alleged actions.”
Rachel Reid, who investigates civilian casualty incidents in Afghanistan for Human Rights Watch, said: “These files bring to light what’s been a consistent trend by US and Nato forces: the concealment of civilian casualties. Despite numerous tactical directives ordering transparent investigations when civilians are killed, there have been incidents I’ve investigated in recent months where this is still not happening.
Accountability is not just something you do when you are caught. It should be part of the way the US and Nato do business in Afghanistan every time they kill or harm civilians.” The reports, many of which the Guardian is publishing in full online, present an unvarnished and often compelling account of the reality of modern war.
Most of the material, though classified “secret” at the time, is no longer militarily sensitive. A small amount of information has been withheld from publication because it might endanger local informants or give away genuine military secrets. Wikileaks, whose founder, Julian Assange, obtained the material in circumstances he will not discuss, said it would redact harmful material before posting the bulk of the data on its “uncensorable” servers.
Wikileaks published in April this year a previously suppressed classified video of US Apache helicopters killing two Reuters cameramen on the streets of Baghdad, which gained international attention. A 22-year-old intelligence analyst, Bradley Manning, was arrested in Iraq and charged with leaking the video, but not with leaking the latest material. The Pentagon’s criminal investigations department continues to try to trace the leaks and recently unsuccessfully asked Assange, he says, to meet them outside the US to help them. Assange allowed the Guardian to examine the logs at our request. No fee was involved and Wikileaks was not involved in the preparation of the Guardian’s articles.
Jul 10th
Masih teringat dalam ingatan ketika pada akhir Desember 2008, Israel menyerang wilayah miskin Gaza dengan dalih untuk membalas serangan roket dan memburu para militan Hamas, namun kenyataannya Israel dengan kekuatan militernya meluluhlantakkan Gaza dan membunuh 1500 rakyat Palestina yang sebagian besar adalah warga sipil tak berdosa dalam serangan 22 hari yang mematikan terhadap wilayah pesisir paling padat dan paling miskin di dunia itu.
Praktis bagi wilayah Gaza yang sudah terlebih dahulu di blokade oleh rezim Zionis dan rezim Mesir sejak tahun 2007 telah mengalami penderitaan yang berat menjadi semakin berat lagi dengan hantaman roket-roket dan bom bom canggih Israel yang tanpa ampun menghantam apapun yang dianggap oleh Israel sebagai ancaman baginya, dan ini membuat hampir sebagian besar infrastruktur mengalami kerusakan yang sangat parah.
Lagi-lagi dunia internasional mengecam keras invasi Israel ini dan membuat solidaritas dunia terhadap penentangan invasi ini meluas hampir ke seluruh antero dunia dengan aksi turun ke jalan mengutuk kekejaman rezim Zionis Israel . Dewan keamanan PBB dan negara-negara kuat waktu itu yang memiliki hak veto dianggap lamban dalam perannya untuk menghentikan serangan mematikan Israel ini. Setelah lebih hampir setahun berlalupun pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pemerintahan kala itu (PM Ehud Olmert) tidak jua diseret ke pengadilan internasional, bahkan sebuah investigasi independen yang dipimpin oleh hakim senior asal Afrika Selatan Richard Goldstein, menemukan fakta bahwa Israel dengan sengaja menembakkan bom fosfor yang menurut hukum Internasional sudah tidak boleh digunakan lagi dalam perang apalagi untuk menyerang warga sipil yang tidak berdosa di Gaza.
Tindak lanjut dari laporan Richard Goldstone ini pun sampai sekarang hanya disimpan dalam file DK PBB dan tidak ada tindakan nyata dari PBB untuk menuntaskan masalah ini sehingga dapat menyeret pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pembantaian Gaza waktu itu.
Inisiatif Aktivis perdamaian Internasional
Ketika PBB dan lembaga–lembaga internasional tidak bisa membujuk Israel dan Mesir untuk menghentikan blokade terhadap wilayah Gaza maka membuat aktivis-aktivis perdamaian di seluruh dunia geram. Dengan persiapan yang panjang akhirnya aktivis-aktivis ini yang tergabung dalam LSM seluruh dunia memutuskan untuk mengirim bantuan dengan cara mereka sendiri, yaitu membawa bantuan ribuan ton dengan kapal-kapal untuk dikirim ke Gaza lewat Turki menuju Gaza melalui jalur laut, gerakan ini mereka sebut “freedom flotilla for Gaza”. Aktivis-aktivis perdamaian ini terdiri dari kurang lebih 50 negara dari Asia, Amerika, Eropa dan Timur Tengah, dengan dikomandani oleh LSM IHH/ Free Gaza Movement dari Turki.
Ketika berita akan berangkatnya para aktivis ini didengar oleh seluruh dunia, maka Israel mengumumkan akan menghadang konvoi bantuan ini agar tidak bisa memasuki wilayah Gaza, Israel menganggap konvoi ini ilegal.
Minggu Malam waktu setempat, ketika tujuh kapal bantuan untuk Gaza ini berjarak 120 KM dari wilayah Gaza dan masih berada dalam wilayah perairan Internasional, Marinir Israel menghadang dan meminta untuk mereka tidak masuk wilayah Gaza. Himbauan Israel ini tidak diindahkan oleh awak kapal yang menuju Gaza dan akhirnya Israel dengan senjata otomatis mereka masuk ke kapal dan terjadilah peristiwa penembakan terhadap para aktivis perdamaian seluruh dunia ini. Belasan aktivis meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka karena serangan dahsyat Israel yang terjadi di kapal bantuan utama yang bernama Mavi Marmara.
Kejadian ini semakin membelalakkan mata dunia bahwa Israel tidak perduli dengan dengan siapapun yang berani menentangnya dan Israel akan menyerangnya tanpa pandang bulu, padahal hampir seluruh awak kapal bantuan ini adalah orang sipil yang tidak bersenjata. Pemerintah Israel membela diri dengan mengatakan bahwa militer mereka diserang terlebih dulu oleh para aktivis perdamaian yang berada di kapal sehingga Israel menembakkan peluru tajam ke arah awak kapal bantuan ke Gaza ini.
Secara akal sehat, wajar saja awak kapal bereaksi terhadap masuknya marinir Israel ke kapal mereka walaupun dengan senjata seadanya, sama saja dengan masuknya pencuri yang masuk tanpa izin ke rumah-rumah mereka. Para aktivis melawan karena posisi keberadaan kapal bantuan ini masih dalam wilayah perairan internasional dan andaikata sudah masuk wilayah perairan Gaza-pun Israel secara hukum internasional tidak berhak menghadang apalagi menyerangnya.
Dunia Internasional ramai-ramai mengutuk tindakan barbar Israel ini yang merupakan kejahatan kemanusiaan, hampir sebagian besar kedutaan Israel di seluruh dunia tidak luput dari demonstrasi. Namun sangat disayangkan adalah respon dari Negara-negara besar seperti Amerika, Inggris dan Perancis yang hanya memberikan komentar yang cenderung cari “aman” dan diplomatis. Masyarakat dunia meminta kejadian ini segera diusut dan Israel harus bertanggung jawab di muka pengadilan internasional.
Akhirnya kandas sudah cita-cita mulia dari para aktivis perdamaian seluruh dunia ini dimana Indonesia juga ikut bergabung di dalamnya, para aktivis sudah mulai dipulangkan ke negaranya masing-masing dan bantuan yang mereka bawa pun tidak dapat menyentuh penderitaan rakyat di Gaza.
Dengan kejadian ini Israel dan Mesir membuka wilayah Gaza agar rakyat Gaza bisa mempunyai akses terhadap bantuan luar, namun sikap Israel dan Mesir ini tidak begitu saja dapat menenangkan kemarahan seluruh masyarakat dunia dimana mereka tanpa membedakan suku, ras, bangsa & agama menentang kebiadaban manusia terhadap sesamanya dimuka bumi ini.
Sudah saatnya lembaga lembaga internasional dalam hal ini PBB dan Negara-Negara besar menghukum Israel dengan tingkah polahnya yang selalu mengancam perdamaian dunia, perlu bukti nyata dari Presiden AS Barack Obama dan sekutunya agar bertindak tegas terhadap Israel agar tidak semena-semena dengan kekuatan militernya. Sudah terbukti bahwa Israel tidak hanya membantai bangsa Palestina, tapi seluruh bangsa yang tergabung dalam kapal bantuan menuju Gaza tersebut.***
Fahmi Salsabila
Jul 9th
Iran telah menawarkan suatu pendekatan yang lebih adil bagi semua pihak dalam menyikapi polemik tentang teknologi nuklirnya yang dituduh Barat sebagai kedok untuk membuat senjata pemusnah massal/senjata nuklir. Namun, proposal terbaru Iran dalam perundingan masalah nuklir ini telah ditolak oleh Amerika Serikat dan negara Barat lainnya beberapa pekan lalu. Teknologi nuklir Iran sudah dimulai sejak rezim Shah Reza Pahlevi berkuasa di mana program pengembangannya didukung penuh oleh Amerika yang adalah sekutu pemerintahan Shah Iran waktu itu. Konon dukungan ini untuk menandingi kekuatan Irak, di kawasan Timur Tengah yang rawan konflik.
Ketika revolusi Islam Iran 1979 pimpinan Imam Khomeini menggulingkan Shah Iran, Barat yang dikomandani Amerika menjatuhkan embargo atas Iran. Sejak saat itu hubungan Amerika dan Iran mencapai tahap yang paling buruk, apalagi dengan insiden pengepungan dan penyanderaan Kedutaan AS di Iran selama 444 hari oleh mahasiswa Iran. Amerika yang memiliki hak veto di PBB memaksa anggota lain di PBB untuk menjatuhkan sanksi-sanksi untuk melemahkan Iran. Terhadap nuklir Iran, setidaknya telah dijatuhkan tiga kali resolusi DK PBB (No 1737, 1747, 1803). Wa-laupun telah diembargo dan diberi sanksi resolusi oleh DK PBB, Iran tetap melanjutkan pengayaan uraniumnya.
Iran sebenarnya telah berlaku transparan, melaporkan program nuklirnya kepada dunia internasional, ditandai dengan kerja sama yang dilakukan oleh Iran dengan Badan Energi Atom Internasioanal (IAEA). Para pengawas IAEA diberikan keleluasaan untuk mengawasi dan melaporkan detail setiap kemajuan yang dicapai oleh Iran dalam penga-yaan nuklirnya. Walaupun pernah ada sedikit masalah dengan IAEA, Iran secara umum dapat bekerja sama de-ngan baik, ini dibuktikan oleh laporan yang diterbitkan IAEA bahwa Iran tidak mempunyai tanda-tanda sedang dalam tahap membuat senjata nuklir.
India, Pakistan Dan Israel
Iran termasuk dalam negara yang ikut dalam perjanjian NPT (Traktat Non-Proliferasi Nuklir) di mana negara-negara penanda tangan perjanjian ini berhak memiliki nuklir, namun tidak untuk kepentingan persenjataan. Lalu kenapa Amerika dan Barat serta Israel sangat takut Iran akan menjadi negara nuklir? Apakah Israel akan takut dominasi militernya di kawasan Timur Tengah akan tersaingi dengan kehadiran nuklir Iran? Kekhawatiran ini sedikit mempunyai alasan karena Iran mengembangkan persenjataan balistik yang sudah mencapai kemajuan hingga berjarak 1.500 km, artinya rudal-rudal balistik ini akan dapat sampai ke wilayah Israel dan akan lebih mengerikan lagi jika hulu ledaknya adalah hulu ledak nuklir.
Amerika Serikat secara terang-terangan membantu negara yang tidak menandatangani perjanjian nonproliferasi nuklir seperti India, Pakistan dan Israel. Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan perdamaian dunia di mana negara-negara yang tidak menandatangani NPT dapat dengan mudah menggunakan nuklir. Ini ditunjukkan dengan persaingan dingin yang dilakukan oleh India dan Pakistan yang sering kali memanas dalam perlombaan persenjataan.
Negara-negara Barat dan Amerika Serikat yang tergabung dalam P5+1 (anggota tetap Dewan Keamanan: Inggris, Prancis, Rusia, China, AS ditambah Jerman) memiliki ratusan hulu ledak nuklir, Amerika Serikat membantu Israel dalam pengiriman senjata nuklir. Amerika dan Barat tidak adil dalam menyikapi masalah nuklir Iran di mana Israel yang tidak menandatangani NPT adalah negara satu-satunya di kawasan Timur Tengah yang mempunyai nuklir dan kapan saja dapat menggunakan nuklirnya. Iran yang dengan iktikad baik telah menawarkan kembali proposal perundingan ditolak mentah-mentah oleh Amerika, ini berarti perundingan mengenai masalah nuklir Iran akan semakin rumit dan kemungkinan akan mencapai kebuntuan.
P5+1 dan Iran, 1 Oktober di Jenewa
Namun, ada sebuah berita yang mengejutkan di mana Iran telah mengusulkan terobosan baru yaitu menawarkan suatu pertemuan antara pakar-pakar nuklir Iran dengan pakar nuklir internasional, hal yang telah ditunggu lama oleh IAEA sebagai lembaga internasional yang menyelidiki perkembangan teknologi nuklir Iran. Yang tak kalah mengejutkan adalah Ahmadinejad mengizin-kan IAEA melakukan inspeksi terhadap fasilitas bahan bakar nuklir Iran yang baru diungkapkan, sebelum pertemuan 1 Oktober di Jenewa. Presiden Iran itu juga mengharapkan akan dapat membeli uranium yang telah diperkaya untuk keperluan medis dari negara Barat seperti yang pernah dilakukan pada masa rezim Shah Iran yang didukung AS.
Para analis nuklir dan keamanan Barat menyambut baik tawaran mengejutkan dari Ahmadinejad ini. Dengan pertemuan ini diharapkan dapat diketahui sejauh mana teknologi dan pengalaman yang dimiliki oleh pakar-pakar nuklir Iran sehingga dapat memperkuat temuan-temuan IAEA apakah benar atau tidak mengnai program nuklir Iran yang dituduh Barat sebagai kegiatan untuk memproduksi senjata nuklir. Ini adalah langkah cukup maju yang dilakukan Ahmadinejad dalam rangka persiapan perundingan yang akan dilakukan 1 Oktober di Jenewa, Swiss antara Iran dan lima anggota tetap DK PBB plus Jerman. Ahmadinejad mulai melunak di samping tekanan internasional juga tekanan dalam negeri yang tidak menginginkan negeri Iran diembargo lebih keras lagi oleh Barat gara-gara nuklirnya. Perlu diketahui bahwa Barat menawarkan dua alternatif pilihan, pertama sanksi lebih keras terhadap Iran; kedua insentif ekonomi dan perdagangan jika Iran menghentikan program nuklirnya.
Uni Eropa dan Amerika menyambut dingin dan memandang dengan sebelah mata usulan Ahmadinejad. Mereka menganggap usulan itu masih belum cukup meyakinkan untuk mengesampingkan kekhawatiran tentang Iran yang bisa membuat bom nuklir. Barat dan sekutunya, seperti yang disuarakan Prancis yang juga anggota tetap DK PBB, akan memberi batas waktu untuk Iran membekukan program nuklirnya. Tenggatnya adalah bulan Desember 2009.
Bola sekarang ada di tangan Amerika yang merupakan salah satu kekuatan yang menentukan di P5+1. Setelah Iran memperlihatkan pelunakan sikapnya, apakah Barat akan memberikan sanksi lebih keras terhadap Iran atau akankah menerima nuklir untuk tujuan damai kepunyaan Iran? Presiden Dimitri Medvedev dari Rusia mengisyaratkan sanksi lebih keras dapat menjadi se-suatu ”yang tidak dapat dielakkan” terhadap Iran, namun China yang juga merupakan anggota tetap DK PBB tetap mengutamakan dialog ketimbang menambah sanksi yang dapat lebih mempersulit masalah.
Penulis adalah Sekretaris Eksekutif the Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES).
Dimuat di Harian Sinar Harapan 01 Oktober 2009
Jul 9th
| Sanksi Baru untuk Nuklir Iran | ![]() |
![]() |
![]() |
| Ditulis oleh M. Hamdan Basyar |
| Jumat, 18 Juni 2010 11:07 |
|
Pada 9 Juni 2010, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) mengeluarkan resolusi baru yang memperingatkan Iran untuk menghentikan program nuklirnya. Resolusi bernomor 1929 (2010) tersebut menambah sanksi baru bagi Iran, karena dianggap tidak mau mematuhi resolusi sebelumnya. Ini resolusi yang kelima mengenai nuklir Iran sejak tahun 2006. Pada tahun 2006, ada dua resolusi tentang nuklir Iran, yaitu: Resolusi No. 1696 (2006) dan No. 1737 (2006). Tahun 2007, ada Resolusi No. 1747 (2007). Kemudian tahun 2008, keluar Resolusi 1803 (2008).
Dari kelima resolusi tersebut, Resolusi No. 1929 (2010) adalah yang terendah dukungannya dibandingkan resolusi lainnya. Tiga resolusi pertama (1696, 1737, 1747) didukung penuh oleh 15 anggota DK PBB. Tapi Resolusi 1803 (2008) hanya didukung oleh 14 negara. Satu negara lain, yakni: Indonesia yang waktu itu menjadi anggota tidak tetap DK PBB menyatakan abstain pada saat pemungutan suara berlangsung. Sementara itu, Resolusi 1929 (2010) hanya didukung oleh 12 negara. Dua negara, yakni: Brasil dan Turki menolak, sedangkan Lebanon menyatakan abstain. Mengapa dukungan resolusi mengenai nuklir Iran semakin menurun, padahal negara-negara Barat dengan gencar mendesak adanya sanksi yang tegas terhadap Iran? * * * Para petinggi Iran berkunjung ke berbagai negara untuk menjelaskan kepentingan nuklirnya. Indonesia adalah salah satu negara yang didekati Iran. Sebagaimana diketahui, selama dua tahun (2007 dan 2008) Indonesia menjadi anggota tidak tetap DK PBB, maka salah satu diplomasi yang dilakukan Iran adalah kunjungan Presiden Mahmud Ahmadinejad ke Indonesia pada tahun 2006. Walaupun tidak diumumkan secara terbuka, tapi masalah nuklir tidak luput dari pembicaraan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Ahmadinejad. Mereka memahami bahwa pengembangan nuklir dapat saja dilakukan untuk kepentingan damai dengan mengurangi efek negatif yang mungkin ditimbulkannya. Menjelang pemungutan suara tentang nuklir Iran di DK PBB, 24 Maret 2007, sebagian politisi dan masyarakat menyarankan agar Indonesia menolak atau paling tidak abstain. Tapi rupanya Indonesia menyetujui resolusi 1747 (2007). Memang, sebelumnya Indonesia bersama Afrika Selatan dan Qatar menyatakan keberatan dengan isi resolusi itu. Surat kabar The New York Times (25/3/2007), melaporkan, perwakilan ketiga negara itu menyatakan keprihatinan mendalam atas draf final resolusi sanksi. Namun, pada akhirnya tiga negara anggota tidak tetap DK PBB itu memberikan suara “ya”. Salah satu alasan mengapa akhirnya Indonesia setuju adalah karena dalam resolusi tersebut disebutkan: ”a solution to the Iranian nuclear issue would contribute to global non-proliferation efforts and to realizing the objective of a Middle East free of weapons of mass destruction, including their means of delivery.” Kendati demikian, Iran terus melakukan pendekatan terhadap Indonesia. Hasilnya, pada pemungutan resolusi nuklir Iran berikutnya, 3 Maret 2008, Indonesia menyatakan abstain. Menurut Indonesia, resolusi 1803 (2008) tidak diperlukan, karena Iran sudah melakukan kerja sama yang baik untuk menyelesaikan program nuklirnya. * * * Iran sendiri melakukan diplomasi ke berbagai pihak untuk mencegah adanya sanksi baru. Dalam pertemuan bersama Iran-Turki-Rusia, misalnya, Presiden Iran meminta Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin, agar dapat mempertahankan sikap dan jangan sampai menjadi musuh bagi rakyat Iran. Putin pun berharap, pemberlakuan sanksi itu hendaknya tidak berlebihan. Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, juga pernah memberikan penilaian, bahwa sanksi bukanlah keputusan terbaik dan berharap sanksi itu tidak segera diberlakukan. Di tengah pembahasan resolusi tersebut, Turki dan Brazil, sebagai anggota tidak tetap DK PBB, menawarkan diri untuk menemukan pemecahan atas jalan buntu, akibat Barat ingin segera menjatuhkan sanksi terhadap Iran. PM Turki, Tayyip Erdogan, dan Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva terbang ke Teheran, untuk berunding dengan pejabat Iran. Hasilnya adalah ”Kesepakatan Teheran”, 17 Mei 2010. Dalam kesepakatan tiga negara tersebut, disebutkan bahwa Iran setuju akan mengirimkan 1.200 kilogram uranium hasil pengayaan rendahnya kepada Turki. Kemudian Iran akan mendapatkan pasokan bahan bakar nuklir hasil pengayaan tinggi dari Rusia dan Perancis, untuk sebuah reaktor nuklirnya. Sayangnya, kesepakatan itu ditanggapi dingin oleh Barat yang dipimpin Washington. Mereka mencurigai pengayaan uranium Iran itu sebagai kedok untuk pembuatan senjata nuklir. Tuduhan ini dibantah keras oleh Iran. Maka, terjadilah resolusi 1929 (2010) yang memperberat sanksi terhadap Iran. Resolusi itu, antara lain, menambah embargo persenjataan dan sanksi di bidang perbankan, serta melarang Iran memproduksi atau menggunakan bahan dan teknologi uranium. Resolusi itu juga memerinci berbagai hal yang terlarang bagi Iran. Ada 38 poin dalam resolusi itu yang bila dijalankan semua akan menyulitkan kehidupan Iran. * * * Tapi tampaknya resolusi ini akan bernasib sama dengan resolusi sebelumnya. Iran akan menentang dan menolak keras terhadap resolusi yang memberi tambahan sanksi itu. Bahkan mereka mengancam untuk mempertimbangkan ulang kerja sama dengan International Atomic Energy Agency (IAEA). Mereka juga mengancam akan keluar dari NPT. Melalui berbagai pendekatan, Iran menyerang balik nuklir Israel. Pertemuan IAEA yang diadakan selama seminggu sejak 7 Juni 2010, di Wina, Austria, mengagendakan pembahasan nuklir Israel. Agenda itu lolos berkat upaya gigih 18 negara yang dipimpin sejumlah negara Arab. Mereka mendesak Kepala IAEA, Yukiya Amano, agar menerapkan resolusi IAEA yang mengharuskan Israel menandatangani NPT. Selain itu, mereka mengharapkan pula senjata nuklir Israel berada dalam pengawasan pihak terkait. Sudah barang tentu, negara Barat di bawah Amerika Serikat akan membela masalah nuklir Israel. Tapi, paling tidak kita dapat melihat bagaimana kegigihan diplomasi Iran dalam menghadapi tekanan dunia Barat mengenai program nuklirnya. Mereka akan all out dan hasilnya jumlah suara setuju dalam resolusi DK PBB tentang nuklir Iran, berkurang. Semestinya negara berkembang, termasuk Indonesia, dapat belajar bagaimana diplomasi Iran dilakukan untuk mendukung kepentingan nasionalnya. (M. Hamdan Basyar) |
Jul 9th
Lilian Budianto, The Jakarta Post, Jakarta | Wed, 06/30/2010 9:51 AM | World
The ongoing conflict in Afghanistan needs more attention in Jakarta’s foreign policy agenda, as Indonesia has been feeling the heat over issues including the Afghan refugees, terrorist threats and drug rings, experts say.
The latest twist in the war has been the disharmony between the White House and its former commander in Afghanistan, who put into questions when the US would end what has become its longest war on foreign soil, and transfer the authority to locals.
Since the outbreak of war in Afghanistan in 2001, thousands of refugees have fled the country and headed for Australia, transiting in the sprawling archipelago of Indonesia along the way.
Jakarta has also faced major terrorist threats from groups who received militant training in Afghanistan while authorities have fought to stem the flow of drug trafficking from the world’s largest hashish producer, said Fahmi Salsabila, a researcher with the Indonesian Society for Middle East Studies at the Indonesian Institute of Sciences (LIPI).
“Afghanistan has received little attention in our foreign policy portfolio compared to other issues, even though we have seen negative excesses in the war in Afghanistan,” Fahmi said.
To date, Jakarta’s involvement in Afghanistan has been limited to sending several teams to the country to help train civilians.
Indonesia, with the world’s largest Muslim population, has been critical of the Afghanistan conflict because of the high number of civilian casualties and has refused to send any peacekeeping troops there until it is managed by the UN.
When the US decided to increase its military presence in Afghanistan by 30,000 troops last December, Indonesian Foreign Minister Marty Natalegawa said Jakarta would support the US move as long as it was meant to empower locals and pledged to refrain from causing more civilian deaths.
Jakarta has otherwise disassociated itself from the joint military forces under the ISAF in their mission in Afghanistan, to avoid a possible backlash from both Taliban and Muslim groups at home.
Fahmi said Jakarta should look to how it can help facilitate mediation in Afghanistan, between insurgent groups and the government, taking advantage of its similar religious background to the war-torn nation.
“The Afghanistan war is a conflict that needs some mediation. The insurgent groups have signalled their willingness to talk although the West has shunned the prospect of negotiating with terrorist groups.”
Unlike the West, Indonesia does not label the Taliban insurgent group as terrorists.
In a foreign policy statement issued early this year, Marty said Jakarta would never be “oblivious to the situation in Afghanistan and Iraq” although stopped short of identifying how far Jakarta was willing to get involved.
He also said Jakarta would concentrate on providing technical training for civilians although not ruling out the possibility of playing a role in a reconciliation.
Ahmad Jainuri, the rector of the Muhammadiyah University in Sidoarjo, said the Afghanistan conflict was a problem for the whole world, but unfortunately it had not received major attention from Indonesia or the Muslim world.
“My biggest concern is radicalization in which Indonesia has become one of the main targets. This may take a long time to deal with, even after the Afghanistan war ends,” he said.
Jul 9th
Lilian Budianto , The Jakarta Post , Jakarta | Wed, 01/27/2010 3:38 PM | Headlines
Foreign Minister Marty Natalegawa left Tuesday for London to attend an international meeting on the political deadlock in Afghanistan.
Indonesia said it would share its views with Afghanistan government officials and local civil society groups about democratic governance.
Observers and lawmakers, however, urged Indonesia to play a more active role as the largest Muslim population worldwide, including initiating the Afghan government and Western countries to form dialogue with the Taliban.
“One form of assistance we will offer is capacity building in areas of democracy,” Marty said Monday.
“We will also explore the possibility of contributing to the reconciliation of Afghanistan, but in the meantime we will focus on providing technical assistance. The Afghan government expects our aid.”
Indonesia will participate at the Afghan conference, co-hosted by British Prime Minister Gordon Brown, Afghanistan President Hamid Karzai and UN Secretary-General Ban Ki-moon, in London on Thursday.
Marty will join more than 60 other foreign ministers at the conference to discuss efforts to help the Afghanistan government find a solution to the prolonged conflict for the next two years under the new terms of the Karzai presidency.
Matthew Rous, British Embassy deputy head of mission in Jakarta, said Indonesia would participate at the Afghan conference for the first time after it began in 2006 in London.
“As well as security, there are two other equally essential elements of *Karzai’s* second administration. These are supporting economic development to give Afghans a stake in the success of their country; and consolidating improvement in democratic, transparent governance,” Rous said.
“Indonesia has vast experience in both areas and so it’s entirely fitting that Indonesia has the opportunity to contribute at the conference.”
Meanwhile, experts and legislators said Indonesia could play a more active diplomatic role as Jakarta had the leverage.
Indonesia is home to the largest Muslim population and the third largest democracy worldwide.
It has been touted as an example where Islam is compatible with democracy.
“Indonesia can exercise its diplomatic muscle with Pakistan and Iran to halt the flow of weapons to Afghanistan,” said Fahmi Salsabila of the Indonesian Society for Middle East Studies at the Indonesian Institute of Sciences.
Al Muzzammil Yusuf, lawmaker from the Prosperous Justice Party (PKS), said the Indonesian government should take a different approach to the US in the Afghan conflict.
“The US government takes a military approach, resulting in deadly backlashes that claim civilians’ lives. Indonesia can form dialogue with Taliban militants and the Afghan government for a domestic reconciliation,” he said.